Jadi, sebetulnya kunci persoalannya bukan pada pendidikan tingginya saja, Pak. 
Orangnya sih banyak yang pinter-pinter, tapi mentalnya rusak. Pendidikan mental 
ini basisnya bukan di perguruan tinggi. Sudah kasip kalau nunggu sampai level 
itu baru dididk mentalnya biar jadi orang yang bener.
   
  Mulainya ya dari rumah. Kalo ortu selalu mengiming-iming anak untuk jadi 
manusia pragmatis yang mau cepat sukses tanpa kerja keras, ya hasilnya bisa 
dibayangkan. Juga kalau sejak kecil diajari materialis: kalo ditanya gedenya 
mau jadi apa, jawaban gak jauh-jauh: dokter, jendral, presiden. Bukannya dengan 
kerangka pengabdian dan pelayanan, melainkan status, kekayaan, dan kekuasaan.
   
  Lebih parah lagi, orang tua di rumah tak kasih teladan. Anak dibesarkan dalam 
budaya doyan ngegosipin tetangga, orang tua korup, diajarin selalu cari jalan 
pintas, nanti kalau besar, biar jeniusnya kaya apa waktu di universitas, ya 
ketika lulus dan masuk dunia kerja maka jadinya bajingan.
   
  Pendidikan tinggi membekali anak didiknya dengan dua pilihan: 1) pinter mikir 
untuk mengaji permasalahan secara jernih dan mencari solusi-solusinya, atau 2) 
pinter mempraktikkan suatu ketrampilan dan mengoperasikan instrumen. Yang 
pertama adalah orientasi sebagain besar ilmu-ilmu sosial/budaya, yang kedua 
lebih lazim dalam ilmu-ilmu eksakta dan teknis.
   
  Setelah itu si anak mau apa, itu harus jadi keputusan dia sendiri. Mau kerja 
ikut orang boleh, mau kerja sendiri ya oke. Ini gak ada kuliahnya Pak, tapi 
opsi-opsinya sudah dibukakan. Tinggal kesempatan mau dipakai atau tidak. Lebih 
lanjut lagi, untuk bisa membuat keputusan yang benar, ilmu saja tak cukup. 
Baliknya ya itu tadi, pendidikan di rumah dan cara dia dibesarkan. makanya, 
anak bisa saja memutuskan memakai ilmu dan kepandaiannya untuk merusak dan 
menyusahkan orang lain, atau untuk kemaslahatan orang banyak. Ini tak ada 
sangkutan sama ilmunya, tapi sama mentalnya.
   
  Pendidikan tinggi itu cuma muara yang menampung akumulasi pengalaman 
pendidikan formal sejak TK sampai SMA. Waktunya pun cuma 3-4 tahun, tak bisa 
terlalu banyak diharapkan untuk mampu mengubah mental yang sudah terbentuk 
sejak kecil, atau mengajarkan semua keahlian secara komplit. Nanti bisa-bisa 
sampai 20 tahun gak lulus-lulus kalo harus begitu. Yang bisa dilakukan adalah 
membekali dengan ilmu dan/atau skills. Gimana itu mau dipakai oleh lulusan, nah 
itu tugas setiap manusia bebas untuk mengambil keputusan buat dirinya sendiri.
   
  manneke

Tabrani Yunis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Pak Manneke Budiman,

Saya mungkin berani berkata, bahwa ini adalah ironi
Indonesia. Negara kaya, tepai miskin sumber daya
manusianya.

Dikatakan Indonesia adalah negara agraris, ternyata
manusia bukan yang bisa memproduk dan memanfaatkan
agrarisnya. Malah sebaliknya, menjadi perusak.

Dunia pendidikan kita tampaknya memang tidak pernah
mampu membuat manusia Indonesia bisa hidup dan
berkembang dari apa yang mereka peroleh di bangku
pendidikan, termasuk lembaga-lembaga pendidikan tinggi
di Idonesi. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, kalau
tidak mampu menciptakan pekerjaan sendiri. Tidak mampu
mengelola dengan benar sumber daya Indonesia yang
kaya.

Ini adalah salah satu bentuk kegagalan kita dalam
dunia pendidikan. Pendidikan kita lebih mengutamakan
nilai-nilai ( angka) ketimbang kecerdasan intelektual
dan ketrampilan yang bisa menghidupkan diri.

Bagaimana Mendiknas? Buktikanlah bahwa gelar-gelar
yang disandang begitu hebat dapat memberikan solusi
terhadap para penganggur intelektual di negeri ini.

Wassalam

Tabrani Yunis

Kirim email ke