Koq kita menyalahkan sentralistik. Apa bukan itu habitat kita, mau
desentralisasi kayak apapun (seperti Otda misalnya) toh sikapnya menyentral
terus. Boleh Gubernur dikesampaingkan, tetapi ujung-ujungnya patuh/ngolor juga
kepada Presiden.
Mungkin kita tidaak sadar bahwa kita selalu berwacana bahwa negeri REPUBLIK,
tetapi perilaku kita masih monarkhie saja (sentralistis). Lihat kita selalu
bertanya tentang "Siapa Presiden mendatang", artinya TITAH SIAPA yang akan kita
dengar ? dan tak peduli parlemennya seperti apa. Padahal parlemen itu merupakan
ciri-ciri REPUBLIK dan DEMOKRASI. Dialah yang menentukan UU (titah) yang akan
digunakan pedoman oleh Presiden menjalankan kekuasaannya.
Justru untuk mengurangi sentralistisnya masyarakat, kekuasaan harus terpisah
antara POLITIK dan BISNIS, Seperti New York dan Washington DC, antara London
dan Liverpol, antara Den Haag dengan Amsterdam dan seterusnya.
Salam, robama.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]