http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.21.02292313&channel=2&mn=3&idx=3
Jakarta, Kompas - Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyatakan krisis pangan yang tengah melanda bangsa Indonesia saat ini sebenarnya telah memasuki tahap jebakan pangan. Bahkan, lebih parah lagi sudah pada tahapan âladang pembantaianâ mengingat pemerintah sangat mengandalkan impor, sementara anggaran negara sangat terbatas. Rangkaian aksi memprotes pemerintah kini bukan hanya beras dan kedelai, tapi juga kebutuhan lauk pauk lainnya seperti daging. Demikian dikatakan anggota Presidium ICMI, Muslimin Nasution, dalam keterangan pers, seusai bersama Presidium ICMI melaporkan hasil Silaknas ICMI kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (20/2). Menurut Muslimin, yang juga mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, bangsa Indonesia pernah mengalami krisis pangan pada kurun 1973-1974. âNamun, pada saat bersamaan Indonesia tertolong karena harga minyak dunia pada waktu itu tengah mengalami pelonjakan luar biasa (booming),â ujarnya. Menurut Muslimin, upaya pemerintah meredam melonjaknya harga sejumlah bahan pokok pangan dengan menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan mencabut Standar Nasional Indonesia (SNI) hanya dapat berjalan untuk jangka pendek. Pemerintah harus mengambil langkah konkret, antara lain melalui diversifikasi pangan. ICMI sudah membangun 50 pabrik kecil untuk pengembangan industri tepung lokal berbasis bahan baku ubi kayu. (har)
