"... menjeritlah.... menjeritlah selagi bisa.....
Menangislah.... jika itu dianggap penyelesaian"
(Kantata Takwa-Nyanyian Jiwa)
Demikianlah sebagian syair dalam lagu Nyanyian Jiwa di Albumnya Kantata
Takwa, yang dinyanyikan dengan sangat bagus oleh Mas Iwan Fals (kaya kenal
akrab aja??).
Mudah-mudahan menangisnya Pak Hendarman bukan karena penghayatan atas lagu
ini, karena perkara perkara jaksa Urip ini tidak boleh "dianggap" selesai hanya
dengan tangisan.
Mudah-mudahan setelah menangis, beliau langsung mengambil tindakan yang
SANGAT-SANGAT TEGAS dan BERANI dalam mengungkap kasus tersebut (kalau tidak
lebih baik mundur saja).
Seandainya terbukti ada "sesuatu" dibalik uang yang diterima jaksa Urip ini,
yang berhubungan dengan posisinya dalam kasus BLBI (bukan hanya sekedar jual
beli permata belaka yang dilakukan di rumah salah satu obligor BLBI) maka sudah
selayaknya Jaksa Agung dan jajarannya sadar bahwa mereka masih harus berjuang
dalam memperbaiki keadaan tersebut dengan kesabaran dan keberanian untuk
menyatakan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah.
Bukan perjuangan yang mudah tentunya di masa ini.... masa yang hanya penuh
wacana dan retorika...
Mudah-mudahan tangisan itu adalah suatu awal dimulainya perjuangan membuat
lembaga negara ini menjadi lebih baik.
"Kesadaran adalah matahari...
Kesabaran adalah bumi...
Keberanian menjadi cakrawala...
dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.... ADALAH PELAKSANAAN
KATA-KATA.."
(WS Rendra).
ADS
Bambang Soetedjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nangis tidak ada gunanya. Tindakan tegas yang penting. Kita2 bisa
nangis karena sakit hati kepada para penegak hukum yang korupsi. Rakyat sudah
bertahun tahun nangis karena ulah mereka yang tidak adil. Saya harapkan Jaksa
Agung tidak terlibat dalam struktur yang beliau prakarsai dan selanjutnya
dilakukan tindakan2 yang jelas.
Salam
BS