Alangkah baiknya kalau sesekali dari Sabang sampai Merauke
kita melakukan "Hari Nyepi"!

Asal para tetangga kita dikasih tahu sebelumnya!
Soalnya kalau kita ini mendadak "hilang" begitu saja kan gawat?

Tak ada radio, tv, media, komunikasi, tak ada yang kerja, masak
atau nyalakan lampu!
Jangan-jangan kita wong Indon ini dikira telah lenyap disapu oleh
tsunami atau diculik UFO, ada kudeta atau seribu misteri lainnya
bagaikan Bermuda Triangle....

Jangan-jangan ada yang mengirimkan Tema SAR (search and rescue)
plus armada penyelamat....

:=))
Salam
Las

Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               Oleh 
IGN Sudiana
 
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.02042893&channel=2&mn=158&idx=158
 
 Umat Hindu di Indonesia kembali merayakan Nyepi, catur beratha
 panyepian. Mereka tidak bepergian (amati lelungan), tidak bekerja
 (amati karya), tidak menikmati hiburan dan kesenangan (amati
 lelanguan), tidak menyalakan api (amati geni).
 
 Di Bali, yang sebagian besar penduduknya memeluk Hindu, catur beratha
 panyepian menjadi pemandangan dramatis. Selama 24 jam, Pulau Bali
 menjadi ”pulau mati”. Jalan-jalan sunyi. Tak ada aktivitas di Bandara
 Ngurah Rai, Pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai. Sunyi. Pada malam hari,
 Bali menjadi pulau gulita, kecuali di rumah sakit, keluarga yang punya
 bayi, ditoleransi boleh menyalakan lampu seadanya.
 
 Istirahat total
 
 Selama ratusan tahun, umat Hindu di Bali merayakan catur beratha
 setahun sekali, alam perlu diberi istirahat total satu hari dari
 eksploitasi 412 hari menurut tahun Saka atau 0,24 persen dari total
 waktu setahun. Meski hanya 0,24 persen, catur beratha panyepian
 menjadi rem yang secara simbolis mengingatkan manusia agar tidak
 serakah, tidak mengeruk sumber daya alam melampaui batas toleransi
 yang bisa menimbulkan bencana.
 
 Peringatan ini kian penting karena nyatanya manusia telah
 mengeksploitasi alam melampaui batas kelestarian ekologis, sampai
 timbul perubahan iklim yang signifikan, disertai sejumlah bencana yang
 merusak infrastruktur dan merenggut nyawa. Kompetisi memperebutkan
 sumber daya alam dan energi bahkan menimbulkan perang antarnegara
 dengan kerugian sosial budaya maupun ekonomi.
 
 Maka, ketika pada Desember 2007 sejumlah negarawan maupun politisi
 berbagai negara peserta Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim berkumpul
 di Nusa Dua, Bali, sejumlah aktivis lingkungan hidup, termasuk Pedanda
 Sebali Tianyar Arimbawa yang Dharma Adhyaksa Sabha Panditaa Parisada
 Hindu Dharma Indonesia (PHDI)â€"pemimpin tertinggi majelis umat Hindu
 se-Indonesiaâ€"coba menggunakan momentum itu untuk mengusulkan agar
 mengadopsi spirit perayaan nyepi dengan perayaan World Silent Day:
 jeda global dalam sehari.
 
 Dari segi bisnis, jeda sehari bisa mengurangi produksi dan keuntungan,
 tetapi mampu menghemat jutaan ton bahan bakar minyak bumi dan sumber
 energi lain. Yang tidak kalah penting, paru-paru bumi berkesempatan
 istirahat dari jutaan ton polutan semacam CO>sub<2>res<>res<.
 Sebaliknya, produksi jutaan ton O>sub<2>res<>res< menyegarkan
 paru-paru dunia dan memperbaiki lingkungan hidup tempat manusia
 melangsungkan kehidupan.
 
 Gema usulan itu tenggelam di antara hiruk-pikuk perundingan delegasi
 negara-negara kuat yang berbeda-beda kepentingan. Bahkan, para
 cendekiawan dari Indonesiaâ€"termasuk dari Baliâ€"tidak semuanya sepakat
 memperjuangkan hal ini. Karena itu, jangankan menjadi rekomendasi,
 usulan mulia itu belum bisa menjadi materi yang diagendakan untuk
 dibahas mengingat padatnya jadwal sidang dan kompetisi di antara
 delegasi yang mengusung materi masing-masing.
 
 Belum meresap
 
 Meski gagal memasukkan spirit nyepi sebagai rekomendasi di Konferensi
 Perubahan Iklim PBB, ini bukan berarti kiamat. Umat Hindu di Bali
 tetap melaksanakan catur beratha panyepian. Hanya, patut disayangkan,
 spirit catur beratha panyepian belum meresap dalam perilaku penguasa
 dan penyelenggara negara. Fakta kuat yang tidak bisa dibantah adalah
 bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang terjadi di
 sana-sini beberapa tahun belakangan ini menimbulkan beban anggaran
 amat berat disertai lambannya penanganan pemerintah.
 
 Penyebab bencana berlarut-larut ini adalah pembalakan hutan
 besar-besaran, sementara penegakan hukumnya lemah serta penegak hukum
 yang korup dan bisa dibeli. Pembalakan hutan ini juga menimpa
 hutan-hutan di Bali, seperti Taman Nasional Bali Barat yang sudah
 rusak parah dan hingga kini tidak terdengar adanya penegakan hukum
 bagi pelaku.
 
 Maka, agar catur beratha panyepian tak sekadar wacana dan perayaan
 ritual, bersama umat Hindu dan masyarakat, dirasa perlu mengingatkan
 penyelenggara negara, khususnya, bagaimana spirit dari ritual nyepi
 memberi bobot pragmatis pada perilaku mereka agar mengeluarkan
 kebijakan dan keputusan politik yang sejalan dengan kepentingan rakyat
 akan kesejahteraan dan berjalan di atas hukum.
 
 Jika pada Konferensi Perubahan Iklim PBB 2007 turun seorang tokoh
 seperti Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa yang notabene Dharma Adhyaksa
 Sabha Pandita PHDI Pusat, ini ibarat para pandita seperti Kripacarya,
 Bhagawan Bhisma, Bhagawan Drona, dan lainnya turun di medan perang
 Bharatayuda untuk menegakkan kebenaran yang dizalimi Kurawa. Terhadap
 kerusakan alam dan lingkungan di Indonesia yang begitu parah, sudah
 saatnya para pandita ”turun gunung” seperti ”resi-resi yang turun
 gunung” mengingatkan penguasa yang tidak mampu melindungi kelestarian
 Ibu Pertiwi. Bila perlu, ”mengangkat panah” seperti Bhisma, Drona, dan
 lainnya.
 
 Maka, nyepi hendaknya tak sekadar berhenti sebagai ritual, apalagi
 dipandang sebagai komoditas pariwisata eksotik yang mengundang devisa.
 Namun, hendaknya ia menjadi momentum dan simbol dari kesadaran untuk
 mengendalikan nafsu-nafsu duniawi dan merawat alam semesta untuk
 kelestarian kehidupan manusia.
 
 IGN Sudiana Ketua PHDI Provinsi Bali; Dosen di Institut Hindu Dharma
 Negeri (IHDN), Denpasar
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke