Rekan-Rekan FPK,

Masalah Jerman mau meninggalkan PLTN dikarena memang Koalisi 
Pemerintahan di Jerman menggandeng partai hijau yang punya agenda 
penutupan PLTN. Itu adalah hasil Pemilu yang lalu. Nah sekarang ada 
kenyataan baru yaitu "Germany Is Running Out of Energy, Says Expert". 
Yang bilang ini pakar energi Jerman bukan politisinya. Jadi ada 
RESIKO BARU DI DEPAN MATA. Pertanyaannya adalah apakah masih relevan 
PLTN-nya mau ditutup? Lebih baik mencontoh Inggris dengan mengganti 
teknologi PLTN-nya dengan yang paling mutakhir.

Setidaknya kondisi Indonesia masih lebih baik dari Jerman. Ada yang 
protes CRASH PROGRAM PEMBANGKIT BATU BARA BARU 10.000 MW??? Tidak ada 
bukan? Sedangkan di Jerman, mau ngganti Pembangkit Batu Bara YANG 
LAMA supaya emisi karbonnya lebih kecil sepertiga saja ditentang 
habis-habisan, kutipannya sbb:

Germany has pledged to phase out nuclear power plants by 2020, which 
Kohler said his organization is not opposed to. Plans to build up to 
25 coal plants have met with resistance, mainly from environmental 
groups.  

Efforts to replace old power plants with new ones have met opposition

Kohler appealed to both Germany's politicians and economic leaders to 
allow the building of new power plants, which he said emit around one 
third less carbon dioxide than the old plants.

Apakah ini yang mau dicontoh dari JERMAN?

Intinya adalah silakan saja mau anti PLTN, tapi kalau itu berarti 
berujung pada KRISIS ENERGI seperti yang akan dialami Jerman. Apa mau 
terus-terusan anti PLTN?

Setuju dengan EFISIENSI, contoh nyatanya www.nebeng.com yang sedang 
saya kelola. Tapi apakah CUKUP? Ingat, kita butuh 25GW HANYA dalam 
waktu 11 tahun. 10GW dari batubara, 5GW dari PLTN, sisanya 10 GW 
belum jelas darimana asalnya. 

Pikirkan dulu 10 GW itu dipenuhi darimana dulu, setelah itu silakan 
utak-atik lagi PLTN 5 GW. Jangan seperti orang Jerman, Nuklir tidak 
mau, batubara juga tidak mau, hasilnya tidak ada pembangkit listrik 
yang dibangun. Kutipannya sbb:

Last week, the Frankfurter Allgemeine Zeitung opined that, in light 
of possible energy shortages, it was "ironic" that environment groups 
and residents protest replacing old power plants, as the newer models 
are actually less polluting. 

"That's bad for consumer prices, because producers have to buy much 
more expensive certificates, and it's bad for competition because new 
contractors postpone investment due to the many uncertainties or 
cancel projects altogether," wrote the daily.

Btw, lawan kata dari KACAMATA KUDA adalah KOMPREHENSIF (jangan 
sepotong-potong)

Best Regards,
Rudyanto
Mari Hemat BBM, Ayo Nebeng
Let's get something done TOGETHER


--- In [email protected], 
"kunto_binawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Rudyanto,
> 
> > Germany has pledged to phase out nuclear power plants by 2020,..
> 
> Lha, Jerman saja yang sudah lebih dulu dan tentunya lebih ahli 
> dibidang ini dibanding kita (atau jangan-2 saya keliru), kemudian 
> memutuskan untuk meninggalkan PLTN, tentunya punya alasan yang kuat 
> untuk itu.
> Kenapa kita tidak belajar dari pengalaman mereka itu. Agar tidak 
> seperti yang dibilang Bung Rudy sendiri " nanti bernasib seperti 
> orang Jerman lho", atau malah seperti yang dibilang Bung Bodo, 
"kita 
> akan menyesal di kemudian hari"
> Saat ini Jerman sedang berusaha mengembangkan Renewable energy dan 
> juga meningkatkan efisiensi dari pembangkit listrik berbasis fossil.
> Kenapa kita tidak ke arah sana? 
> Daripada minyak dan batu bara dipakai orang lain, kenapa kita tidak 
> pakai sendiri untuk kebutuhan rakyat kita, tentu saja perlu 
dibarengi 
> upaya untuk efisiensi dan pencarian renewable energy.
> Mumpung kita belum kehabisan minyak dan batu baru, dan belum 
> kehabisan waktu. 
> Juga mumpung kebutuhan listrik kita belum sebanyak negara-negara 
> industri, dan masyarakat kita masih 'nrimo' dengan kondisi 'byar-
> pet', kenapa kita tidak mulai ke sana? 
> Untuk Indonesia, efisiensi saya kira agenda yang lebih mendesak 
> dibanding pembangunan PLTN, yang perlu investasi baru, baik modal 
> maupun manusia.  Dan untuk kasus kita, tidak hanya efisiensi teknis 
> tapi terlebih non-teknis (korupsi, dkk).
> Jangan-jangan, kita hanya ter-obsesi dengan hal-hal yang dianggap 
> canggih/modern, tapi kurang menghargai apa yang kita punya sendiri.
> 
> Salam,
> Kunto Binawan
>


Kirim email ke