Acara Tukul dan Aksi Vega yang tidak menyenangkan

Saya sudah lama tidak nonton Tukul, karena menurut saya acara ini 
sudah kurang menarik, namun kemarin malam saya menonton Tukul sebab 
bintang tamunya Yok Koeswoyo salah satu musisi legendaris kita. 
Awalnya perbincangan Tukul menyenangkan dan dibawa enteng namun 
mengarah pada le petite histoire, sebuah sejarah kecil negeri ini 
tentang Koes Bersaudara yang pernah dipenjara oleh pemerintahan Bung 
Karno. Waktu itu Yok sedang bercerita serius, namun Vega 
nyelemong/nyeletuk dengan mendesah-desah yang nggak penting sehingga 
cerita terputus dan perhatian Tukul lebih kepada manusia-manusia 
nggak penting di acara itu seperti Vega atau Pepi, sebagai penggemar 
sejarah saya kecewa berat karena gagal mendengarkan cerita Yok yang 
menarik itu. 

Hal yang sama juga saya dapatkan pada saat bintang tamunya Rosihan 
Anwar di bulan Agustus tahun 2007 saat itu temanya tentang 
Proklamasi. Ketika itu Rosihan Anwar bercerita tentang sebuah kisah 
pertemuannya dengan Bung Karno pada saat ulang tahun pertama 
kemerdekaan RI pada tahun 1946 yang sederhana. Di tengah cerita yang 
menarik dari Rosihan, si Pepi nyeletuk nggak jelas kemudian dibalas 
Tukul jadi perhatiannya beralih.

Saya paham dengan konsep acara ini yang tidak terlalu mementingkan 
apa yang dibicarakan bintang tamunya, dan menonjolkan kekonyolan 
Tukul yang diledek oleh Pepi dan Vega namun cobalah bila acara ini 
berkonsep talk show sedikit memberi ruang untuk mendengarkan bintang 
tamu bicara bila itu dianggap bernilai informatif.  Acara ini pernah 
menjadi ikon penting acara yang meningkatkan rating, walaupun 
sekarang sudah agak nggak laku. Tapi bila ingin bertahan, cobalah 
diganti pengumpannya bukan orang-orang macam Pepi atau Vega yang 
nggak ngerti tempat untuk momen lucu. Saya pikir Ruben dan Eko 
Patrio (dua bintang yang sedang naik daun) jauh lebih cerdas bila 
sedang melucu, ia akan dengan tepat masuk momen lucu dan menghargai 
waktu orang bila bicara. Sekonyol-konyolnya sebuah acara talk show, 
pembicaraan orang dituntaskan dulu karena seringkali acara Tukul 
kedapatan tamu orang-orang hebat namun masyarakat umum mungkin sudah 
agak melupakannya seperti : Yok dan Rosihan namun gagal 
dieksploitasi oleh Tukul karena becandaan yang kurang penting, untuk 
kasus Sophan Sophiaan, dia berani menegor Tukul ketika obrolannya 
belum selesai namun dipotong oleh Tukul. Semoga bila ada tim kreatif 
acara Tukul baca tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan, agar 
para pengumpan/pengejek Tukul untuk diam bila ada bintang tamu 
bicara, kecuali ada sinyal dari Tukul. Untuk Tukul sendiri saya kira 
dia secara bawah sadar punya kemampuan menggali informasi dari 
bintang tamunya, dan punya feeling dimana waktu yang tepat untuk 
ngelucu. Tidak demikian halnya dengan Vega dan Pepi yang sangat 
norak  bila melemparkan joke. Agak bagus dan cerdas bahan bebodoran 
yang diumpankan anaknya Idang Rasyidi yang pegang organ. 

Saya nggak tahu apa Yok Koeswoyo atau Rosihan Anwar pernah menjadi 
bintang tamu Kick Andy? Saya kira sangat menarik menelusuri kisah 
manis Koes Bersaudara dan Koes Plus yang notabene juga merupakan 
bagian dari sejarah kehidupan negeri ini –apalagi bisa mendamaikan 
konflik yang lucu antara Yok dan Yon supaya jangan saling ngempesin 
ban mobil lagi -, juga tentang Rosihan Anwar terlepas dari pikiran-
pikirannya yang agak mencla mencle namun dia adalah saksi sejarah. 
Bagaimana Bung Andi F. Noya...apakah bisa dieksploitasi kisah dua 
orang ini?

ANTON




Kirim email ke