Rekan-rekan FPK, sepertinya memang benar-benar ngga jelas yang ingin disampaikan rekan Rudyanto ini sebenarnya apa?? Tapi saya sih kuatirnya seperti yang udah-udah, begitu maksudnya jelas, trus terlihat kurang relevan untuk dibicarakan pada topic ini .. but .. nevertheless, kalo ngga ade nyang kaya gitu ngga rame??! Tul ngga? Masukan sedikit, istilah "base load" dan "intermittent" didalam kamus technik, tidak mencerminkan "asal muasal", melainkan lebih ke "kondisi" saat dibutuhkan. Jadi dalam hal ini, base load menunjukkan kondisi kontinuitas, berarti dapat digunakan kapan saja, selama ketersediaannya ada. Sedangkan intermittent lebih kearah sequential, jadi dalam hal surya, kalo lagi ada dibalik punggung bumi, yah ngga ada power, oleh karena itu harus diimbangi dengan "energy storage". Mudah-mudahan belon ade nyang ampe nanya bini buat hal yang kaga jelas gini .. bisa-bisa dicerein lu pade .. he he he. Salam, Bodo
--- In [email protected], manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung Rudy, > > Pertama-tama, perlu dikoreksi dulu, tak ada jabatan struktural di UI yang namanya Dekan Fakultas Sastra Inggris. Sastra Inggris itu sebuah program studi di dalam Fakultas Ilmu Budaya. > > Kedua, sebagai seseorang yang bukan pakar nuklir tapi mengerti bahasa Inggris, maka pemaknaan saya terhadap istilah Baseload Power dan Intermittent Resources adalah: > > Baseload Power: Energi yang sumbernya berasal dari perut bumi. Dicontohkan di sini adalah batubara, nuklir (yang memakai uranium), gas alam, dan panas bumi. > > Intermittent Resources: Sumber energi yang memanfaatkan alam (angin dan matahari), tidak termasuk apa yang tersedia di perut bumi. > > Menurut kutipan itu, agar bisa bersaing dengan sumber-sumber energi konvensional (minyak bumi, air, batubara), maka intermittent resources perlu bersinergi dengan baseload power (NUKLIR BUKAN SATU- SATUNYA). > > Trend di Eropa kini lebih condong ke sumber energi alam non- bumi, yaitu intermittent resources. UE kini lebih mengandalkan kepada tenaga angin dan matahari daripada batubara dan nuklir. > > Modal yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan angin adalah KURANG dari 2 milyar. tenaga nuklir antara 2 sampai 6 milyar, sementara tenaga matahari antara 5 sampai 10 milyar dolar. Ini dengan patokan semuanya itu sama-sama menghasilkan tenaga 1 giga-watt. > > Ilustrasi dengan kuku bima dan peltu segala macem itu tak membuat konsep jadi lebih jelas, malah makin menyesatkan dan menjadikan makin keruh. > > Masih mau konferensi bareng Dekan FTUI dan dekan FIB UI? Atau ckup sama kepala program studi Sastra Inggris FIB UI? Nanti bisa saya bantu connect. > > Tapi, point yang mau Anda sampaikan ini sebetulnya apa sih? Kutipan yang Anda berikan itu wong sejalan dengan apa yang dibaca Pak Haniwar kok. > > manneke
