Manneke..

nama sendiri aja lupan...smile

Haniwar

At 09:24 AM 30-03-08, you wrote:
>Kalo sampai jadi ada PLTN, saya usul dibentuk PLTN Watch dengan 
>anggota-aggota:
>
>   1. Iwan Kurniawan
>   2. Anton
>   3. Haniwar
>   4. Bodo Kerlchen
>   5. Rudyanto Nebeng
>   6.
>   7.
>   8.
>
>   Siapa lagi yang cocok dimasukkan dalam lembaga ini?
>
>   manneke
>
>rudyanto_nebeng <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Rekan-Rekan FPK,
>
>Saya kira MENTALITAS KORUP bukanlah harga mati dan tidak bisa dibuah.
>Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa dalam hal PLTN ada
>suatu badan nuklir Internasional yang salah satu tugasnya adalah
>PENGAWASAN yaitu IAEA. Kalau mengikuti kasus Iran, IAEA diberitakan
>sering melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran terutama
>berkaitan dengan niat Iran membangun PLTN. Salah satu di antaranya
>adalah memasang kamera pengawas. Di sinilah seharusnya kita semakin
>confident karena kebanyakan inspektor IAEA berasal dari negara-negara
>maju yang telah terbukti mengoperasikan PLTN dengan aman (kredibel).
>
>Seleksi pelaksana pembangunan PLTN dan operasi PLTN tetaplah penting
>untuk mengurangi resiko masuknya orang yang punya MENTALITAS KORUP.
>Selain itu juga adanya atmosfer yang mendukung yaitu PENGAWASAN tadi.
>Kalau diawasi sesama anak bangsa, mungkin bisa mengajak kongkalikong.
>Masalahnya sekarang diawasi pihak asing yang sulit diajak "damai".
>Sehingga petugas-petugas yang memang asalnya belum punya MENTAL
>KORUP, tidak terpengaruh oleh lingkungannya karena PENGAWASAN tadi.
>Saya kira mekanisme ini lebih ketat dari KPK yang (mohon maaf) proses
>seleksinya cuma melibatkan DPR.
>
>Mengenai kondisi geologi yang rawan bencana (ring of fire), saya kira
>bukanlah kendala. Contoh yang paling nyata adalah Jepang. Negara ini
>jauh lebih sering merasakan gempa dibanding Indonesia tapi sudah
>menggunakan PLTN dan tetap merencanakan pembangunan PLTN lainnya.
>Selama kita menggunakan standar yang juga digunakan oleh Jepang, saya
>kira tidak menjadi kendala.
>
>Juga saya tidak yakin kalau masyarakat lebih suka ambil resiko KRISIS
>ENERGI dibanding resiko PLTN BOCOR. KRISIS ENERGI berkaitan erat
>dengan lapangan pekerjaan. KRISIS ENERGI akan membuat pertumbuhan
>ekonomi berhenti karena perusahaan-perusahaan akan membuka usahanya
>di negara lain yang terjamin pasokan energinya.
>
>Setidaknya kita semua akur bahwa ada ancaman KRISIS ENERGI, tapi
>kalau ditelusuri lebih jauh, yang perlu diperhatikan adalah:
>1) SKALA KRISIS ENERGI
>2) WAKTU YANG DIBUTUHKAN untuk menghindari KRISIS ENERGI tersebut.
>
>Yang kita perdebatkan saat ini adalah PLTN yang berkaitan dengan
>LISTRIK. Ada lagi topik hangat yang saat ini menghiasi koran-koran
>kita yaitu HARGA MINYAK yang sudah tembus 111 dollar per barel. Opini
>utama yang berkembang adalah HARGA MINYAK ini akibat AKSI SPEKULAN
>yang menjadikan komoditas minyak sebagai pelarian karena lebih
>menguntungkan dibanding bursa saham. Tapi saya melihat hal ini adalah
>indikasi awal bahwa dunia sudah/sedang mengalami PEAK OIL yaitu suatu
>kondisi di mana produksi minyak DUNIA sudah mentok mencapai puncaknya
>dan kemudian akan menurun. Di sinilah skala KRISIS ENERGI menjadi
>berlipat-lipat karena kita tidak lagi hanya membutuhkan listrik untuk
>menyalakan lampu dan mesin produksi tapi kita mau tidak mau
>membutuhkan listrik untuk TRANSPORTASI.
>
>Para ahli memperkirakan bahwa kita membutuhkan waktu sepuluh tahun
>untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi PEAK OIL. Apa yang terjadi
>kalau PEAK OIL ini terjadi TAHUN DEPAN? Atau TAHUN INI? Atau bahkan
>TAHUN LALU? Oleh karena itu saya sering mengucapkan :
>Kita BELUM KEHABISAN MINYAK (tidak usah tunggu minyak habis, masalah
>muncul ketika minyak tidak cukup untuk semua),
>Tapi kita KEHABISAN WAKTU (PEAK OIL sudah dekat).
>
>Bagi yang ingin tahu lebih detail mengenai PEAK OIL ini bisa dilihat
>di :
>http://www.csmonitor.com/2008/0317/p15s01-wmgn.html
>Di Kompas juga sempat diliput masalah PEAK OIL bahkan berani bilang
>tahun 2025 kita balik ke jaman batu.
>
>Best Regards,
>Rudyanto
>To be or not to be, that is the question

Kirim email ke