http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.02.00510263&channel=2&mn=156&idx=156

Jakarta, Kompas - Peran sekolah, walaupun belum tergantikan, kian
tersaingi oleh maraknya lembaga bimbingan belajar. Lembaga bimbingan
belajar kini semakin kreatif dan variatif dalam memberikan pelayanan
kepada siswa serta memahami kebutuhan siswa.

Aspek yang belakangan semakin terlupakan di sekolah formal, seperti
relasi antara guru dan siswa, bahkan mulai terpenuhi di lembaga
bimbingan belajar.

Kian variatifnya pelayanan yang diberikan bimbingan belajar tak lepas
dari kebijakan ujian nasional untuk SMP dan SMA serta ujian akhir
sekolah berstandar nasional (UASBN) untuk sekolah dasar. Pihak
bimbingan belajar mengambil peluang itu untuk memberikan jasa
pelayanan membantu anak lulus ujian nasional dan UASBN serta kemudian
mendapatkan sekolah favorit.

Selain layanan pendalaman materi dan pelatihan mengerjakan soal,
Bimbingan Belajar Bintang Pelajar cabang Ahmad Dahlan, Jakarta,
misalnya, menyediakan pula layanan bimbingan konseling. Siswa dapat
bertemu guru konseling yang berlatar belakang pendidikan psikologi
untuk membicarakan kesulitan belajarnya.

Sebelum masuk ke bimbingan belajar itu, siswa wajib mengikuti tes
psikologi guna melihat minat dan bakat. Guru konseling di Bintang
Pelajar, Hilman Budiawan, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Selasa (1/4), mengatakan, tes
psikologi tersebut dilakukan untuk melihat minat dan kecenderungan
gaya belajar anak.

”Setiap anak punya gaya belajar yang berbeda. Kita juga harus
memahaminya,” ujarnya. Relasi guru dan murid baik dan dekat karena
satu kelas maksimal berisi lima anak dengan satu guru. Guru mengenal
kebiasaan dan karakter peserta bimbingan belajar.

Peserta bimbingan belajar mendapatkan training motivasi, seminar pola
asuh anak yang melibatkan orangtua peserta, fasilitas call to home
atau laporan dari pihak bimbingan belajar ke orangtua satu bulan
sekali, dan pengiriman pesan harian lewat telepon seluler bagi anak
yang tidak datang atau sering telat masuk kelas. Ada pula Kegiatan
Belajar Mengajar Shalat, yakni 15 menit untuk shalat secara bergantian.

Tidak cukup di sekolah

Satu paket bimbingan tiga mata pelajaran sebanyak tiga kali per minggu
tingkat SD dan SMP selama satu tahun harganya sekitar Rp 6 juta.
Sebagian besar dari mereka mendaftar saat tahun ajaran baru dimulai
tahun lalu.

”Orangtua merasa tidak cukup dengan mengandalkan sekolah. Di sekolah,
umumnya satu kelas berisi 25-45 anak sehingga dikhawatirkan persiapan
anak tidak maksimal, terutama untuk menghadapi UASBN,” ujar Hilman.

Bimbingan Belajar Cendikia College di Jakarta juga mengadakan program
persiapan ujian nasional bagi murid SMP, SMA, dan SMK. Di lembaga itu,
jumlah murid dibatasi hanya 10 orang dalam satu kelas. Untuk persiapan
ujian nasional, programnya tiga kali selama satu minggu, masing-masing
berdurasi tiga jam. ”Biasanya ada pemberian materi dan pelatihan
soal,” ujar tenaga staf administrasi Cendikia College, Novi Pawawanti.

Di samping itu, terdapat pelayanan Guru Jaga setiap hari yang dapat
dimanfaatkan murid untuk bertanya, klinik belajar, konsultasi
kesulitan belajar, dan laporan perkembangan akademik. Bimbingan
belajar itu juga memberikan modul lengkap yang sistematis, kuis, tes
formatif, dan evaluasi secara berkala. Biaya bimbingan selama enam
bulan Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, sedangkan program setahun tarifnya
Rp 4 juta hingga Rp 6 juta.

Bimbingan Belajar Primagama cabang Bendungan Hilir sejak tahun 2002
telah mempunyai program untuk murid SD, SMP, dan SMA. ”Umumnya
orangtua memasukkan anaknya karena kesulitan menghadapi perubahan
kurikulum dan mengantisipasi berbagai ujian yang dihadapi anak,” ujar
tentor (semacam guru) Matematika yang tengah berjaga siang itu, Amni
Herlina.

Dia mengatakan, bimbingan belajar mempunyai kelebihan karena ada
pembatasan murid. Untuk program reguler, murid maksimal hanya boleh 20
anak satu kelas dan di program excellent hanya boleh 10 murid per
kelas. ”Kalau kelebihan satu murid pun pasti akan dipecah kelas,” ujarnya.

Hubungan antara guru dan murid cukup dekat. Jumlah murid yang sedikit
membuat guru mengenali para muridnya. Selain itu, terdapat program
problem solving, tempat murid bertanya dengan leluasa seputar
kesulitan belajarnya. (INE)

Kirim email ke