Kebijakan Pemerintah untuk menyediakan buku murah (saya lebih suka 
menyebutnya sebagai "buku generik"--meminjam istilah industri farmasi)
adalah sebuah kebijakan yang populer. Tentu saja orang tidak tertarik 
lagi mendiskusikannya. Mereka tinggal menunggu realisasinya.

Bahwa apakah cara yang ditempuh oleh Pemerintah itu memang bisa 
menghasilkan buku murah, maka itu adalah soal lain. Dan itu adalah 
masalah orang-orang yang mengerti seluk-beluk industri penerbitan.

Sebagai orang yang pernah bekerja sebagai konsultan untuk bantuan 
asing terhadap pengembangan buku pelajaran di Indonesia (The British 
Council, World Bank dan AusAid) maka sejak tahun 1991 saya sudah 
menjual gagasan agar Pemerintah menciptakan "buku generik" untuk 
dipakai di sekolah-sekolah. 

Jumlah kebutuhan buku pelajaran terlalu besar. Kalau kita tidak 
menciptakan "buku generik" maka anggaran Negara tidak akan mungkin 
bisa memenuhi seluruh kebutuhan. Dan kalau sebagian dari kebutuhan 
itu dibebankan kepada kantong orang tua murid, maka hal itu juga akan 
memberatkan, terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Karena 
itu Pemerintah perlu menyusun sendiri buku pelajaran versinya dan 
membebaskan semua fihak untuk mencetak buku itu secara bebas. Tapi 
pada sama yang sama, kalau ada penerbit yang mampu membuat buku yang 
lebih baik (dan lebih mahal harganya) dan ada sekolah yang mampu 
membelinya (tanpa kolusi penerbit dengan guru) maka Pemerintah 
seyogianya jagan pula membatasi prakarsa untuk menerbitkan dan 
menjual "buku paten" tesebut.

Memang saya juga meragukan apakah cara yang ditempuh oleh Pemerintah 
ini (membeli hak cipta dari pengarang lalu membebaskan semua fihak 
untuk mencetak buku tersebut) bisa secara signifian menghasilkan 
sebuah buku yang cukup murah. Tapi saya juga bisa memahami cara 
berpikir Pemeintah: Sebentar lagi kita akan menghadapi Pemilu. Perlu 
diambil kebijakan-kebijakan yang populer agar Pemerintah selamat. 
Tentang bagaimana memodifikasi skema ini agar benar-benar tercipta 
buku murah, itu akan dipikirkan belakangan.

Di dalam Kongres IKAPI Tahun 2006 lalu saya sudah mengatakan kepada 
para penerbit: Kita harus terus menyumbangkan pemikiran kepada 
Pemerintah tentang bagamana menumbuhan industri penerbitan yang sehat 
dan memberi kemaslahatan kepada rakyat (bukan hanya kemaslahatan 
kepada penerbit). Karena itu kita tidak bisa hanya membiarkan 
Pemerintah membuat kebijakan, lalu bila kebijakan itu telah keluar 
dan tidak sesuai dengan kepentingan kita, maka kita marah-marah. 

Pada awal tahun 2007 yang lalu kepada Pengurus IKAPI saya juga sudah 
memperingatkan: Pemerintah sedang berpikir untuk menciptakan sebuah 
skema "buku generik". Jangan biarkan Pemerintah membuat kebijakannya 
sendiri, karena biasanya hasilnya akan salah-kaprah. Bantulah 
Pemerintah dengan pemikiran yang baik. Lakukanlah perundingan-
perundingan mulai dari birokrasi tingkat paling bawah, karena kalau 
proses pembuatan kebijakan tidak dikawal dari bawah, maka ketika 
kebijakan itu telah ditanda-tangani Menteri, tidaklah mungkin  lagi 
kita teriak-teriak agar kebijakan itu dibatalkan.

Tapi apa mau dikata? Penerbit memang malas berpikir. Lagipula saat 
itu ada proyek-proyek besar ratusan miliar  (DAK dan BOS-Buku). 
Mengapa pula harus repot-repot memikirkan soal yang tak ada uangnya? 
Nah, sekarang terjadilah apa yang saya ramalkan. Menteri Depdiknas 
mengeluarkan kebijakannya tentang buku murah. Lalu para penerbit 
kebakaran jenggot dan minta Menteri agar membatalkan kebijakannya 
tersebut. (Kalau saya dalam posisi sebagai Menteri, saya juga tidak 
akan gampang membatalkan kebijakan. Apalagi bila kebijakan itu 
menguntungkan posisi politik Presiden).

Saran saya kepada para penerbit buku sekolah dan IKAPI: Kebijakan 
tentang buku murah itu (walau pun agak belepotan) sudah 
ditandatangani Menteri dan diberi anggukan oleh Presiden. Dan rakyat 
juga senang dengan kebijakan populer itu. Jangan lagi menentang 
kebijakan itu. Tapi berilah sumbangan pemikiran bagaimana agar 
kebijakan itu sukses: Di satu sisi ia bisa meringankan beban orangtua 
murid. Tapi di sisi yang lain ia tidak mematikan industri penerbitan 
buku.

Saya melihat ada solusi kreatif di antara dua kepentingan itu.

Horas,

Mula Harahap



 
Dharma Hutauruk:

Seminggu ini saya tidak membuka milis FPK. Hari ini aku buka dan terus
terang, saya sebagai penggiat buku pelajaran sangat kecewa karena 
komentaratas pembelian copyright Buku Pelajaran (Langsung dari 
Penulis) tidak ada yang mendiskusikan.


Kirim email ke