Oleh Herman Elia http://kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.05.01242596&channel=2&mn=158&idx=158
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap agar para pemimpin dapat bersabar dan tawakal menghadapi cercaan dan cemooh sebagian masyarakat yang kurang sabar (Kompas, 25/3/2008). Imbauan ini relevan dengan kondisi bangsa yang sedang didera oleh berbagai krisis. Relevan pula bila dikaitkan dengan suasana politik yang cenderung memanas jelang pemilu tahun depan. Seharusnyalah pemimpin mampu menghadapi caci maki dan kecaman dari pihak-pihak yang kurang senang terhadap mereka dengan jiwa besar. Cemooh dan caci maki merupakan bentuk pelecehan verbal (verbal abuse). Ia berdaya rusak besar, berkemampuan untuk menghancurkan integritas pribadi individu yang jadi sasaran. Nuansa penghinaan yang terkandung dalam pelecehan verbal berpotensi melukai, mendegradasi harkat kor- ban, dan menimbulkan tekanan mental berat yang memunculkan berbagai perasaan negatif. Di lain pihak, perlu dijaga agar masukan masyarakat tidak serta- merta dianggap sebagai pelecehan sebab beberapa kritik, meskipun tajam, sungguh bersifat mengoreksi dan bertujuan memperbaiki perilaku pemimpin. Protes dan cerca justru sering memperlihatkan substansi persoalan secara lebih gamblang daripada sekadar penyampaian fakta dan data. Luput memerhatikan sumber persoalan dapat menjadi jebakan berbahaya karena cenderung membuat kita terlena dalam rasa aman yang semu. Sentilan Pojok Kompas (25/3/2008) sungguh mengena: pemimpin selain harus siap dicerca, juga siap lengser setiap saat. Sebab, bila pemimpin hanya berbekal kesiapan menghadapi cercaan, pemimpin mungkin bergeming dari keengganannya memperbaiki kekurangan diri. Eksternalisasi problem Mudah-mudahan imbauan presiden tidak diterjemahkan ke dalam praktik sebagai sikap yang kurang peduli akan kritik sebab telah ada beberapa gejala yang mengkhawatirkan. Hampir setiap muncul persoalan mendesak yang membutuhkan penyelesaian segera, para pemimpin justru saling menyalahkan. Mengapa? Karena kita telanjur terjebak dalam pola berpikir yang cenderung mengeksternalisasi problem. Segala masalah dianggap terjadi dan dipicu oleh sesuatu yang berada di luar diri sang pemimpin. Pola pikir demikian membuat sebagian pemimpin enggan berurusan dengan problem yang selalu dianggap bukan bagian dari dirinya. Alhasil, pemimpin menjadi pasif untuk menolong dan cenderung defensif. Cukup sering pula pemimpin memperlihatkan sikap menyalahkan korban. PT Lapindo Brantas, misalnya, dianggap telah bermurah hati membayar lahan dan rumah warga terdampak lumpur karena pihak perusahaan dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan. Pernyataan demikian seolah menyoal korban yang tidak kenal budi dan terlalu menuntut. Teriakan frustrasi dan ketidakberdayaan korban terabaikan. Yang lebih menonjol justru adalah pemberitaan mengenai demo dan pemblokiran jalan yang merugikan secara ekonomi. Dalam kasus busung lapar, ada kecenderungan keluargalah yang disalahkan. Sisi lemah korban, yakni kurangnya pengetahuan, kekurangterbukaan keluarga terhadap lingkungan sekitar, serta keterlambatan penderita mencari pertolongan, lebih menjadi sorotan. Pengkritik sering dianggap tidak tahu persoalan, mencari-cari kesalahan, iri hati, dan diindikasikan kurang memiliki niat baik. Persoalan pun jadi mudah teralih dari kekurangtanggapan pihak yang dikritik menjadi kelemahan sang pengkritik. Ribut-ribut soal susu formula yang menurut penelitian sebagian di antaranya terkontaminasi Enterobacter sakazakii dijawab dengan keraguan akan keabsahan hasil penelitian. Padamnya aliran listrik dipandang sebagai keengganan masyarakat menghemat pemakaian listrik. Faktor bencana alam, kondisi global, dan persoalan yang belum selesai di masa lalu juga mengindikasikan upaya eksternalisasi problem. Padahal, dalam kasus banjir berulang di berbagai daerah, antre minyak tanah dan gas, dan penganiayaan yang menimpa TKI, seharusnya ada tindakan antisipasi dan pencegahan yang dapat dilakukan pemimpin. Keengganan memerhatikan masukan dan mengakui kelemahan sering berawal dari sikap memandang diri positif secara berlebih. Kerendahan hati dan pengakuan akan kelemahan serta keterbatasan diri justru menjadikan pemimpin tampak lebih manusiawi. Sikap ini akan membuat pemimpin lebih mudah didekati, sekaligus dicintai. Ia akan lebih mudah menggalang kerja sama dan memperoleh dukungan. Benar bahwa kesabaran adalah salah satu tanda kebesaran jiwa. Namun, sebagai pemimpin, ada tuntutan yang lebih dari itu. Diperlukan pula sikap tidak egosen- tris serta cara pandang yang lebih introspektif dan jujur terhadap problem. Pertama, haruslah ada evaluasi dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, seberapa besarkah peran saya dalam problem yang sedang terjadi. Kedua, apakah yang belum saya kerjakan, tetapi sebenarnya dapat saya lakukan untuk menyelesaikan problem tersebut. Herman Elia Psikolog
