Analisis pak Goenawan sangat menarik, tetapi mengapa STA dan raksasa2 budayawan
di Indonesia tidak pernah menggubris pujangga Jawa yang bernama Noto Soeroto,
yang bisa mengekspresikan tanah airnya dengan begitu indah dalam bahasa
Belanda? Apakah para sastrawan-intelektual kita begitu fanatik untuk
“membunuh” kenyataan bahwa ekspresi keindahan dalam segala bentuk adalah
universal? Apakah ini mencerminkan bahwa nasionalisme picik telah merasuki
pelaku2 sastra kita termasuk pak Gunawan yang begitu banyak menyitir karya2
asing dalam “catatan pinggir”nya di Tempo? I wonder why….
Salam&Sori,H.Uno
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Agus Hamonangan
Sent: Sunday, April 06, 2008 7:51 AM
To: [email protected]
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] STA: Puisi dan Modernitas (1)
Oleh Goenawan Mohamad
http://www.kompas.
<http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.06.00485842&channel=2&mn=187&idx=187>
com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.06.00485842&channel=2&mn=187&idx=187
I
S Takdir Alisjahbana menulis puisi dan menghentikannya setengah jalan.
Namun, cerita ini bukan hanya tentang seorang sastrawan dan karyanya.
Yang kita hadapi adalah persoalan bahasa puitikâ€"yang paralel dengan
impuls yang "bersimaharajalela", artikulasi yang tak patuh pada
harmoniâ€"dalam narasi besar modernitas.
Di tahun 1934, STA memulai serangkaian esai yang cendekia, merayakan
lahirnya "puisi baru" Indonesia. Diterbitkan dalam bentuk buku 30
tahun kemudian, Kebangkitan Puisi Baru Indonesia merupakan risalah
terpanjang (139 halaman) tentang puisi yang pernah ditulis seorang
sastrawan Indonesia sejak 100 tahun yang laluâ€"juga sebuah kritik yang
dengan meyakinkan membela satu sikap sastra.
"Sifat khusus puisi Indonesia yang baru," kata Takdir, ditandai tiga
kata: "ekspresionisma, lyrik, dan romantik". Pendeknya,
"bersimaharajalelanya perasaan dan fantasi."
Kata "bersimaharajalela" di sini sangat penting sebab ada hubungannya
dengan gejolak yang digambarkan Takdir di bawah ini: "Segala perasaan
yang timbul di dalam kalbu berombak dan beralun melalui berjuta-juta
jalan yang halus memenuhi seluruh tubuh; sampai kepada bahagian badan
yang sekecil-kecilnya menurut terayun dan terbuai dalam ombak dan alun
perasaan itu dan dengan amat gaibnya terbayanglah ia ke dunia lahir
pada perubahan detikan jantung, pada lekas lambatnya nafas, pada turun
naiknya suara dan pada perubahan air muka".
STA mengemukakan sesuatu yang mungkin tak disadarinya sendiri: wilayah
awal puisi adalah tubuhâ€""sampai kepada bahagian badan yang
sekecil-kecilnya", sampai kepada detak jantung, nafas, suara, dan
airmuka. Ia lihat pertautan yang somatik dalam le semiotique, 40 tahun
sebelum Julia Kristeva menerbitkan La revolution du langage poetique
dan menguraikan bahasa puitik yang bermula dari choraâ€"kuantitas energi
yang diam-diam merasuk melintas melalui tubuh, sebelum sang penyair
terbentuk sebagai subyek yang sadar.
Namun, puitika STA tak memasuki sebuah masalah dasar. Ia tak
sepenuhnya menangkap bahwa yang disebutnya sebagai "perasaan yang
timbul di dalam kalbu" itu, yang "melalui berjuta-juta jalan yang
halus memenuhi seluruh tubuh..." itu, adalah pasase dalam tubuh yang
sub-simbolik, mungkin ekstra-simbolik. Takdir tak meninjau bagaimana
dari sana lahir puisi, sebuah dunia kata-kata.
Ia tampak beranggapan, proses dari tubuh ke dalam bahasa itu langsung
dan lurus. Takdir mengutip satu sajak JE Tatengkeng. Statemen puisi
itu tersusun di bait terakhir:
Kusuka hidup! Gerakan sukma,
Yang berpancaran dalam mata,
Terus menjelma,
Ke-Indah-Kata.
Bertolak dari sajak itu, Takdir mengatakan "puisi Indonesia yang
baru"â€"yang baginya terutama bersifat puisi lirikâ€"adalah "perasaan yang
berduyun-duyun ke luar sendirinya". Puisi itu menemukan bentuk dan
irama yang "langsung lahir dari jiwa".
Dengan kata lain, praktis tak ada penapis apa pun antara apa yang
bergejolak dalam diri sang penyair dan bahasa yang tersusun dalam
puisinya; tak ada mediasi yang mungkin memencongkan transparansi.
Takdir bahkan mengatakan, salah satu ciri puisi lirik yang disambutnya
dengan antusias adalah "selarasnya bahasa dengan perasaan yang
dicurahkan". Bahasa puisi itu bisa diibaratkan "sebagai pakaian yang
basah melekat pada badan yang hidup, rapat melekap sehingga terbayang
segala bentuk dan geraknya".
Kini kita tahu transparansi itu sebenarnya tak terjadi. Tak ada garis
lurus semantik ketika kita mempertautkan puisi dengan tubuh.
II
Puisi Takdir membentuk sederet garis lurus yang cerah. Kecuali
beberapa sajak berkabungnya dalam Tebaran Mega, bait-baitnya selalu
ditutup dengan jawab yang final dan happy ending yang bersinar.
Lanskapnya mirip kanvas Dazentje dan Mas Pirngadi yang menghiasi
dinding elite kolonial tahun 1930-an: gambaran "Mooi Indie". Dalam
sajak-sajaknya kita dapatkan "mengombak padi", "indah berukir arca",
"sekar indah bermegah", atau "daun rimbun mengalun". Prosa dan puisi
STA adalah bangunan antusiasme: paragrafnya dihiasi cetusan superlatif
("maha indah", "dahsyat", "sesempurna-sempurnanya") yang berderap
dalam crescendo.
Sajaknya yang terkenal, "Menuju ke Laut"â€"yang hendak menggambarkan
perubahan hidup dari "tasik yang tenang" ke dalam laut yang penuh
tantanganâ€"juga tak melukiskan sebuah samudra yang ganas dan gelap.
Laut Takdir adalah sebuah "gelanggang biru" yang mengandung "ombak
ria"; angin bisa diajak "bergurau". Bahkan, jika ada yang retak dan
rubuh, di dalamnya tetap tak ada kemelut, kepahitan, dan saat yang
ngeri. Sebaliknya: yang terhempas malah berpendar, erang langsung
berkait dengan suara kemenangan:
Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya.
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut
Dalam sajak seperti itu, tak hanya optimisme yang menonjol, tapi juga,
dan terutama, simetri dalam ritme: "gemuruh berderau" berpadanan
dengan "terhempas berderai", dan "keluh dan gelak" dengan "pekik dan
tempik".
Gelak, gurau, dan suasana cerah itu tak kita dapatkan dalam puisi
sesudah-perangâ€"sebuah perbedaan antara dua generasi yang tak selamanya
dapat dijelaskan oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin
sendiri sebelum dan setelah mereka memberi judul kumpulan puisi mereka
Tiga Menguak Takdir. Baru di tahun 1975 ada uraian yang menyangkut hal
itu dengan mendalamâ€"justru oleh STA, dalam sebuah telaah sepanjang 40
halaman dalam buku Perjuangan Tanggung Jawab Dalam Kesusasteraan.
Dalam telaah itu Takdir melacak sumber pengaruh puisi Chairil pada
"revolusi lirik yang berlaku di Eropa pada pertengahan abad ke-19",
yang dipelopori Baudelaire, Rimbaud, dan Mallarmé, dan lebih khusus
lagi para penyair Belanda di antara dua Perang Dunia: Slauerhoff,
Marsman, dan Du Perron.
"Revolusi lirik" itu menghasilkan sifat "kegelisahan" dan
"ketegangan". Dari sini mengemuka "disonan", dan "penyair meninggalkan
kemantapan harmoni." Tulis Takdir:
"Dengan alat disonan penyair baru dapat
mengemukakan vitalismenya yang agresif,
yang kadang-kadang malahan
menimbulkan pengaruh mengagetkan,
membangkitkan suatu shock pada si
pembaca atau pendengar sajak itu.
Si penyair dengan sengaja mencari
ucapan-ucapan dan cara-cara
mengucapkan yang tidak biasa sehingga
orang heran, malahan terkejut membaca
yang tak diduga-duganya... [hingga]
sering gelap dan penuh rahasia...".
Takdir juga mengutip Hugo Friedrich: bagi puisi modern, (kita bedakan
dari "puisi baru" STA) "bukanlah dunia ini yang nyata, tetapi hanya
kata". Mengutip sebuah analisa lain, Takdir juga melihat, puisi itu
tak mementingkan pelukisan dunia, tapi "fungsi evokatif". Saya kira
contoh terbaik adalah sajak Chairil Anwar, 1943:
Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-mengelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandus
Rata
Rata
Rata
Dunia
Aku
Terpaku
Sajak ini tak dibangun oleh sebuah cerita. Yang kita rasakan perbedaan
yang cepat dan mengejutkan dalam imaji dan bunyi â€" yang menyarankan
terjadinya sesuatu yang dahsyat, eksplosif, dengan sebuah antiklimaks
yang memunculkan satu dataran gersang dan lumat, rata, rata, rata....
Sejak semula, semua anasir rampat, tetapi juga rancu. "Aku" yang
merasakan sakit berbaur dengan malam yang kelam dan jalan yang lurus
kaku. Tak ada sebab-akibat. Seluruhnya hampir simultan dan tak dapat
diramalkan. Di antara centang perenang itu mendadak ada kata "candu",
kemudian muncul warna dasar berganti- ganti.
Yang terasa terjadi adalah menjauhnya orbit bahasa dari sebuah pusat
epistemologis. Tak ada subyek yang kukuh. Malah si "aku" hanya muncul
sesekali dalam pengalaman traumatis, tercegat oleh Antah Berantahâ€"oleh
sesuatu yang tak dapat dirapikan kata dan baris.
STA mengecam nada dasar seperti yang terasa di sajak ini sebagai
"pesimisme". Baginya, puisi Chairil dirundung kesepian, dengan
"perasaan kengeriannya, ketakutannya akan dunia sekitarnya yang tak
dapat dikuasainya".
Kesimpulannya: puisi sesudah-perang "telah mengambil krisis Barat dan
pesimisme Barat". Khususnya pesimisme antara dua Perang Dunia, ketika
"kaum terpelajar dan seniman di Amerika dan Eropa" merasa "tiada
berkuasa sedikit jua pun terhadap pembantaian manusia yang
besar-besaran" di Barat itu". Takdir mengutip André Malraux: dalam
seni "modern", tak ada lagi kepercayaan kepada manusia.
Di Indonesia, suasana tentu lain. Kemerdekaan membawa janji dan tekad
manusia, dan subyektifitas membutuhkan wujud. Menirukan "pesimisme
Barat" hanyalah sebuah epigonisme.
Namun, di sini agaknya STA mengabaikan satu hal: antara puisi sebelum
dan sesudah-perang ada "perang". Sastra Indonesia tak berada jauh dari
situ. Ada Hardo dalam novel Perburuan, bekas tentara Peta yang
berontak terhadap tentara pendudukan Jepang, anak wedana yang
meninggalkan ayahnya dan hidup bersama para pengemis berkudis; ada
Farid dalam Di Tepi Kali Bekasi yang bersama pasukan gerilya yang
seadanya dan dengan cita-cita yang tak selalu jelas, tetapi dengan
pengorbanan yang habis-habisan. Ada Saaman yang harus membunuh ayahnya
sendiri dalam Keluarga Gerilya.
Pengalaman itu tak kita temukan dalam sastra Pujangga Baru:
persentuhan dengan darah, nanah, keadaan putus, rubuh, tumbang, di
antara yang lahir, tegak dan mengaum.
Goenawan Mohamad, Penyair dan Esais (Bersambung)
[Non-text portions of this message have been removed]