Menikmati Sebagian Kecil Kuliner Jakarta 
          
       
        Senin | 31 Maret 2008 | 4:27 wib | 6 Komentar | Kirim Artikel  
        

      Dengan jumlah tempat makan yang luar biasa banyak, mudahkah memilih 
hendak makan di mana? Justru saking banyaknya, orang terkadang sulit untuk 
memilih tempat makan yang bisa memenuhi selera dan tentunya sesuai dengan 
kantong.

      Bagi yang tidak suka coba-coba, barangkali bisa mulai membuka-buka buku 
Jakarta Good Food Guide 2008-2009. Buku setebal 611 halaman yang ditulis oleh 
Laksmi Pamuntjak ini diluncurkan Rabu (26/3) lalu, di toko buku Aksara, Kemang, 
Jakarta Selatan.


           
            Sate afrika yang warungnya berlokasi di Tanah Abang dulu lebih 
banyak dikunjungi orang Afrika. Sekarang pengunjung warung sate itu lebih 
banyak orang Indonesia. 
           
      Meluncurkan buku tentang makanan tentu kurang lengkap bila pengunjung 
tidak mencicipi makanan seperti yang ada di dalam buku itu. Malam itu, rasa 
penasaran sedikit terpenuhi karena penyelenggara menyajikan beberapa stan 
makanan.

      Malam itu disajikan nasi bogana, sate afrika, bebek Sedap Wangi, Martabak 
Kubang, Mi Item, es doger Blok S, mi juhi dan asinan Ragusa, masakan India dari 
restoran Haveli, bakmi Aheng, serta masakan khas Kalimantan Timur. Namun 
sayang, belum sempat semua makanan itu dicicipi sudah keburu habis.

      Serba pedas

      Satu yang menarik hati adalah masakan khas Kaltim. Saya bilang menarik 
karena masakan yang disajikan oleh Warong Selera Acil dan Inun's ini jarang 
ditemui di Jakarta, tidak seperti masakan Manado atau masakan Pontianak yang 
sudah banyak dikenal warga Jakarta.

      Masakan khas Kaltim ini serba pedas. Hampir seluruh masakannya 
menggunakan cabai merah atau bahkan cabai rawit. Namun, rasa pedasnya tidak 
sepedas masakan Padang atau Manado.

      Malam itu saya mencoba tunu terong astaga. Dalam bahasa Samarinda, tunu 
artinya bakar. Jadi, yang saya makan malam itu adalah terung bakar.

      Masakan terung bakar ini sekilas seperti balado terung, yaitu terung yang 
dimasak dengan cabai, bawang merah, dan bawang putih. Namun, bumbu tunu terung 
ini diberi tambahan kemiri, terung asam, dan santan.

      Sebelum ditumbuk, bahan bumbu dibakar lebih dulu. Setelah dimasak dengan 
santan, bumbu cabai itu lalu disiramkan ke terung yang sudah dibakar.

      Pengelola Warong Selera Acil dan Inun's, Ade Suprayogi atau Yogi, 
mengatakan, ada dua jenis bumbu khas masakan Kaltim, yaitu gence dan sanga. 
Kalau di Jawa Tengah, gence adalah bumbu sambal goreng. Sedangkan sanga 
merupakan bumbu sambal goreng yang diberi tambahan terung asam.

      Menurut Yogi, terung asam hampir selalu digunakan pada setiap masakan 
Kaltim. "Makanya rasa masakan Kaltim hampir selalu ada asamnya," tutur Yogi. 
Warong Selera Acil dan Inun's berlokasi di depan apartemen Pakubuwono Residence 
di Jalan Pakubuwono.

      Selain tunu terong, masih ada lagi masakan sanga cabai udang pete. 
Masakan ini rasa petenya kuat sekali. Bagi yang tidak doyan pete, bisa-bisa 
urung menyantap masakan ini karena baunya pun sudah khas pete.

      Ada lagi sambal khas Kaltim yang disebut sambal raja. Meski namanya 
sambal, jangan dibayangkan menu ini hanya melulu berisi cabai. Sambal raja 
terdiri dari campuran sambal, sayur, udang, dan ikan haruan (ikan gabus) yang 
dipotong dadu.

      Sambal yang digunakan adalah sambal kweni dan sambal jeruk, yaitu cabai 
yang ditumbuk, kemudian diberi irisan mangga kweni atau diberi perasan air 
jeruk nipis. Meski satu cobek, bagian-bagian yang menyusun sambal raja ini 
diletakkan terpisah. Menurut Yogi, sambal raja cocok untuk menemani makan pepes 
ikan.

      "No" kolesterol

      Di sudut lain, ada satu stan makanan yang pengunjungnya selalu berjubel. 
Dari jauh tampak asap mengepul dari stan tersebut yang adalah stan sate afrika.

      Di Jakarta, sate afrika sudah terkenal. Warung sate ini bisa ditemukan di 
sebelah museum tekstil di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di sela-sela kerumunan 
pengunjung, Haji Ismail Coulubally, pemilik sate afrika, berulang kali 
berteriak, "No kolesterol, no darah tinggi."

      Ia berpromosi agar pengunjung makin banyak yang mampir. Seorang 
pengunjung yang tadinya hanya melirik-lirik stan Ismail akhirnya menyempatkan 
diri untuk mampir juga.

      Sate afrika dibakar tanpa tusuk sate. Daging yang digunakan bukan daging 
kambing, melainkan daging domba atau wedhus gembel. Menurut Ismail yang berasal 
dari negara Mali, Afrika Barat, ini, daging domba aromanya tidak menusuk 
seperti daging kambing.

      Sate afrika diklaim Ismail bebas kolesterol dan darah tinggi. Ia 
beralasan, lemak dalam daging sudah dihilangkan dengan cara membakar daging 
hingga matang 70 persen, lalu daging tersebut diungkep di dalam panci yang 
diletakkan di atas bara selama 20 menit.

      "Lemaknya akan keluar seperti kaldu, lalu kita buang," kata Ismail. 
Daging lalu dibakar lagi, kemudian dimasukkan ke dalam panci kecil dan dikocok 
setelah diberi garam serta kaldu blok.

      Tidak seperti sate di Indonesia, bumbu sate afrika menggunakan mustard 
yang dicampur dengan sambal lampung dan kecap manis. Di negara asalnya, bumbu 
sate ini hanyalah mustard dan bubuk cabai.

      Sebagai pengganti lontong, sate afrika dimakan dengan pisang tanduk yang 
masih mengkal, lalu digoreng. "Ini kebiasaan orang Afrika, kami makan daging 
sambil mengunyah pisang goreng," tutur Ismail.

      Malam itu, saya hanya sempat menikmati sebagian kecil kuliner yang ada di 
Jakarta. Setelah membolak-balik halaman buku Jakarta Good Food Guide, saya 
tersadar, ternyata masih banyak tempat makan yang perlu dicoba. Tentu saja yang 
sesuai dengan kantong saya.

      Petunjuk Makan di Jakarta
        
      Di Jakarta mungkin ada ribuan tempat makan yang tersebar di berbagai 
sudut kota. Sedikit saja kita melangkahkan kaki, dengan mudah akan kita temui 
tempat makan mulai dari yang berkelas, seperti di hotel berbintang, kafe dan 
restoran mahal, hingga kelas kaki lima yang tersebar hampir di setiap tempat.

      Mencoba tempat makan di Jakarta satu per satu jelas tidak mungkin. Selain 
takut kolesterol dan asam urat naik, kantong bisa-bisa jebol karena banyak 
tempat makan di Jakarta yang tergolong mahal dan belum tentu sesuai selera.

      Tanpa harus mengelilingi Jakarta, buku Jakarta Good Food Guide 2008-2009 
setidaknya membantu penggemar wisata kuliner untuk memilih tempat makan di 
Jakarta. Sebenarnya buku ini adalah buku ketiga yang ditulis Laksmi Pamuntjak. 
Dua buku sebelumnya diterbitkan dengan judul yang sama, hanya berbeda tahun 
saja.

      Di buku itu terdapat 440 restoran dan tempat makan di pinggir jalan 
seperti warung dan kaki lima di Jakarta. Buku petunjuk wisata kuliner di 
Jakarta itu menjadi bagian program Visit Indonesia Year 2008.

      Bayar pribadi


           

           
      Laksmi mencoba sendiri tempat-tempat makan yang ditulisnya itu. Setiap 
kali datang untuk makan, ia selalu membayar penuh makanannya. Ia juga menolak 
tawaran uji coba yang diajukan pengusaha tempat makan. "Untuk makannya saja 
saya habis Rp 250 juta," kata Laksmi.

      Untuk mempermudah pencarian, buku Jakarta Good Food Guide menyediakan 
daftar tempat makan berdasarkan jenis masakan dan berdasarkan wilayah di 
Jakarta. Dengan cara itu, Laksmi sekaligus ingin menunjukkan wilayah mana yang 
memiliki banyak tempat makan.

      Di buku ketiga ini, selain menambah tempat makan baru, Laksmi juga 
memperbarui tempat makan yang pernah ditulisnya dibuku pertama dan kedua. 
Laksmi mengaku pilihan tempat makan didasarkan pada insting dan mengumpulkan 
informasi dari banyak orang.

      Penulisan Jakarta Good Food Guide diawali rasa frustrasi Laksmi karena ia 
tidak menemukan panduan makanan di Jakarta yang independen, komprehensif, dan 
deskriptif. (IND)







      Penulis: Lusiana Indriasari
       
         
       
        
      6 Komentar
          
        
      « Kembali ke atas 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke