http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/12/01391565/masuk.ptn.bisa.lebih.dari.rp.100.juta

Jakarta, Kompas - Biaya masuk perguruan tinggi negeri bisa mencapai
angka di atas Rp 100 juta, sementara setiap semester dapat mencapai Rp
70 juta. Tingginya biaya tersebut semakin memperkecil akses masuk ke
pendidikan tinggi.

Demikian benang merah persoalan menyangkut biaya masuk perguruan
tinggi negeri yang didapatkan Kompas dalam pencarian selama sepekan
terakhir, mulai dari Jakarta (DKI Jakarta), Semarang (Jawa Tengah),
Bandung (Jawa Barat), Surakarta (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur),
hingga Makassar (Sulawesi Selatan).

Besar biaya masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tersebut bergantung
pada program S-1 yangdiambil serta bidang ilmu yang dipilih. Program
tersebut beragam dan berbeda antara satu PTN dan PTN lain. Bahkan, ada
PTN yang membuka program internasional. Pada program ini, mahasiswa
membayar biaya berlipat-lipat dibandingkan program reguler pada setiap
semesternya.

Bagi para calon mahasiswa yang gagal masuk melalui program S-1 reguler
lewat seleksinasional masuk PTN (SNMPTN), hampir semua PTN yang
dihubungi memiliki program non-SNMPTN. Biaya masuk program non-SNMPTN
ini lebih tinggi dibandingkan jalur SNMPTN. Program non-SNMPTN ini pun
berbeda antara satu PTN dan PTN lainâ€"ada yang memiliki lebih dari lima
program.

Semua angka tersebut bisa kita bandingkan dengan biaya kuliah di
National University of Singapore yang biayanya (tuition fee) berkisar
9.540 dollar Singapura-27.350 dollar Singapura atau di Malaysia,
Universitas Kebangsaan Malaysia, yang memasang biaya 1.167 ringgit
Malaysia hingga 1.500 ringgit Malaysia.

Kelas internasional

Dari sejumlah program seleksipenerimaan mahasiswa baru, yang termahal
adalah jalur internasional. Universitas Indonesia pada tahun ini
menerapkan jalur tersebut.

Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri menjelaskan,
selain program S-1 reguler, pihaknya membuka kelas internasional untuk
Fakultas Kedokteran, Teknik, Ekonomi, Psikologi, dan Ilmu Komputer.
Biaya kuliah per semester tiga kali lipat program S-1 reguler.

Untuk Kedokteran, uang pangkal (biaya masuk) Rp 70 juta, dengan biaya
per semester Rp 35 juta. Fakultas Teknik uang per semester Rp 20 juta,
uang pangkal Rp 15 juta, sedangkan Ekonomi uang pangkal Rp 26 juta dan
Rp 25 juta per semester.

Menurut Gumilar, kelas internasional ini berbeda dari kelas reguler.
Kurikulumnya adalahkurikulum internasional dengan bahasa pengantar
bahasa Inggris. ”Mereka punya ruang kuliah khusus. Fasilitas belajar,
seperti ruang kuliah, misalnya, standarnya lebih tinggi,” kata Gumilar.

Bahkan, di beberapa fakultas, seperti Psikologi, UI bekerja sama
dengan Universitas Queensland, Australia, untuk program double degree
dan penggunaan tenaga pengajar asing.

Sementara itu, Universitas Airlangga, menurut Pembantu Rektor I Unair
Muhammad Zainuddin, tahun ini berencana membuka kelas internasional.
”Segala sesuatunya sedang dirancang,” katanya.

Sementara Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, jalur non-SNMPTN
ada dua, yaitu penelusuran bibit unggul sekolah (PBUS) dan penelusuran
minat dan kemampuan (PMDK). Mereka yang gagal di PMDK bisa menggunakan
program PBUS dengan syarat sama, nilai rapor SMA semester I-V
rata-rata 7,0 dan tak ada nilai di bawah 5,0.

Sumbangan pembinaan pendidikan dari program-program itu sama, yaitu Rp
660.000 per semester. Namun, bagi PBUS masih ditambah biaya
pengembangan institusi (BPI), untuk Fakultas Kedokteran Rp 100 juta,
tetapi hanya Rp 2,5 juta bagi yang lewat PMDK. Untuk jurusan lain, BPI
rata-rata di bawah Rp 10 juta.

Menurut Pembantu Rektor I UNS Ravik Karsidi, pembukaan jalur PBUS dan
SPMB swadana adalah untuk memperluas akses masuk bagi calon mahasiswa.
Diakuinya, jalur ini adalah jalur ”pintar dan kaya”.

Sementara itu, menurut Ketua Tim Promosi Institut Teknologi 10
Nopember Budi Santosa, ada 5kategori PMDK, di antaranya PMDK beasiswa.
Mereka yang lolos PMDK beasiswa bebas uang gedung dan SPP. Mereka
adalah pelajar dengan nilai akademis menonjol. Sementara di
Universitas Airlangga ada empat jalur PMDK (umum, prestasi, alih
jenjang, dan diploma).

Dari wilayah timur Indonesia, Universitas Hasanuddin membuka tiga
jalur non-SNMPTN, yaitu jalur nonsubsidi (JNS), jalur penelusuran
potensi belajar, dan jalur prestasi olahraga, seni, dan keilmuan. Yang
termahal adalah JNS. Pada jalur ini mahasiswa membayar rata-rata uang
kuliah Rp 20 juta setahun, sedangkan dari jalur SNMPTN rata-rata hanya
Rp 1,5 juta setahun. Kepala Humas Unhas Dahlan Abubakar mengatakan,
dana tersebut untuk subsidi silang. (A05/A10/NAR/INE/JON/EKI/eln)


Kirim email ke