http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/10/0025310/oss.belum.tentu.bisa.jadi.pilihan.tepat

Jakarta, Kompas - Perangkat lunak sumber terbuka atau open source
software (OSS), walaupun menjadi solusi murah dan terjangkau, belum
tentu bisa menjadi pilihan yang tepat untuk dikembangkan pada tahap
lanjutan karena pada akhirnya akan menjadi lebih mahal bila harus
menjalankan aplikasi inovatif pada masa yang akan datang.

Demikian dikatakan Bill Gates, pendiri Microsoft Corp, ketika menjawab
pertanyaan Kompas berkaitan dengan OSS pada acara Presidential Lecture
Featuring Bill Gates, Chairman Microsoft Corp, yang diselenggarakan di
JCC, Jakarta, Jumat (9/5).

Dalam kuliah kepresidenan yang dipandu oleh Menteri Perdagangan Dr
Mari Elka Pangestu dan dihadiri sekitar 2.500 orang undangan, termasuk
para mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, Gates menjelaskan,
biaya perangkat lunak yang dikembangkan memang hanya 1 persen
dibandingkan dengan alternatif yang tersedia, termasuk OSS.

Namun, Gates mempersilakan untuk membandingkan pilihan yang tersedia
karena perangkat lunak yang dikembangkan oleh Microsoft masih terkait
dengan unsur pelayanan, jasa, keamanan, dan lainnya. ”Biaya yang
dibayar memang termasuk persoalan kenyamanan,” kata Gates.

Gates menjawab pertanyaan Kompas tentang OSS sebagai pilihan yang
terjangkau, dan apakah Microsoft melihat perkembangan OSS ini sebagai
sebuah generasi baru perangkat lunak dan menjadi tren pengembangan
perangkat lunak secara umum. ”Silakan saja dibandingkan penggunaan
perangkat lunak yang tersedia,” lanjut Gates.

Teknologi kedokteran

Sementara itu, pada penutupan The Goverment Leaders Forum-Asia,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, teknologi informasi
yang mulai dan akan terus diterapkan dalam pemerintahan telah membuat
kerja pemerintah lebih cepat, efisien, efektif, transparan, dan
produktif. ”Informasi teknologi juga memperkuat rakyat sehingga mampu
memonitor pemerintah dan terlibat dalam implementasi kebijakannya,”
jelasnya.

Presiden mengemukakan, dengan Microsoft Corp telah dijalin kerja sama
berupa program e-learning dan Microsoft Inovation Centre (MIC). Kerja
sama ini dirintis sejak pertemuan pertama Presiden dengan Gates,
September 2005 di Seattle, Amerika Serikat. MIC sudah dibangun di
Universitas Indonesia, ITB, ITS, dan Universitas Gadjah Mada.

Pada forum tersebut, Microsoft mendemonstrasikan penggunaan teknologi
membantu warga di daerah tertinggal, yang tak memiliki rumah sakit dan
dokter, agar tetap mendapatkan diagnosis memadai menggunakan e-clinic
dan e-doctor. Di rumah sakit, teknologi akan membantu pasien, rumah
sakit, dan dokter untuk senantiasa terkoordinasi dalam sistem digital.
(rlp/inu/amr)

Kirim email ke