Mumpung long weekend, maka akhir pekan lalu saya pulang 
kampung ke Sukabumi. Ampun dech, rasanya lebih cepat ke 
Bandung daripada ke Sukabumi, jalannya itu loch banyak 
yang berlubang dan di beberapa tikungan selalu saja ada 
angkot yang suka ngetem maupun berhenti mendadak, terlebih 
di area pasar.

Perihal pembangunan tol Ciawi – Sukabumi sebenarnya sudah 
saya dengar jauh sebelum tahun 2000, sayangnya karena ada 
krismon sehingga rencana tersebut tertunda. Padahal akses 
jalur selatan Jawa tersebut sangat dibutuhkan sekali 
mengingat TransJawa yang nantinya menghubungkan Jakarta – 
Surabaya sebenarnya sudah terlalu padat, terlebih 
menjelang arus mudik Lebaran. Tol Cipularang hanya 
menguntungkan bagi warga Bandung saja, demikian juga 
dengan jurusan Puncak hanya bermanfaat bagi Cianjur saja. 
Sukabumi yang sebenarnya bisa dikembangkan selama ini 
hanya anak tiri, yang muncul di harian nasional di kota 
“like earth” ini malah seputar konflik Ahmadiyah.

Hari ini saya baca di KOMPAS, dinas perhubungan sudah 
memberi surat teguran mengapa proyek tol Ciawi – Sukabumi 
( 54 km ) belum dikerjakan juga. Katanya tersandung pada 
problem pengucuran dana pinjaman dari bank, tapi apakah 
tidak dipikirkan juga multiplier effect-nya bagi kota 
kelahiran saya ? Villa dan perumahan pastinya akan 
berpindah dari seputaran jalur hijau Puncak ke kota 
Sukabumi. Demikian juga dengan perkembangan bisnisnya 
dimana banyak pabrik dan perusahaan pasti akan membuka 
cabang di Sukabumi yang berakibat pada bertumbuhnya 
perekonomian masyarakatnya. Jadi tidak melulu kaum urban 
Sukabumi mencari nafkah di ibukota. Jadi tolong, tol Ciawi 
– Sukabumi segera dikerjakan agar bisa dipakai masyarakat 
sesuai target yakni tahun 2009. Terima kasih.

NB : sedih juga melihat stasiun kereta api Sukabumi yang 
sekarang tidak berfungsi lagi, padahal dulu merupakan 
jalur "murah" yang menghubungkan Bogor - Bandung.

Kirim email ke