Negara ini memang penuh dengan kisah skandal-skandal penipuan, yang 
korbannya bukan saja rakyat tapi juga elit, bahkan Presiden.

Di masa pemerintahan Sukarno ada skandal "Raja Idrus" dan 
permaisurinya "Markonah" yang kemana-mana selalu memakai kacamata 
hitam. Pasangan ini mengaku sebagai raja anak "Anak Dalam" (orang 
Kubu) di Sumatera. Sempat diterima menjadi tamu Presiden Sukarno dan 
selama beberapa minggu menginap dan makan gratis di hotel.

Di masa pemerintahan Suharto ada skandal Cut Zahara Fona seperti yang 
telah diceritakan oleh KM. Tapi saya mau menambahkan, bukan hanya 
Idham Chalid dan Adam Malik yang tertipu. Pesiden Suharto pun sudah 
sempat ikut menempelkan telinganya di perut perempuan itu untuk 
mendengarkan suara bayi yang masih di dalam kandungannya, yang konon 
kabarnya bisa melafalkan ayat-ayat suci Al Quran.

Kasus Busang juga adalah kisah skandal penipuan yang sangat "indah" 
yang terjadi di masa pemerintahan Suharto. Dua orang 
berkewarganegaraan Belanda mengaku bahwa perusahaan mereka telah 
menemukan cadangan emas paling besar di dunia, yaitu di Kalimantan. 
Tentu saja hal ini membuat harga saham perusahaan tersebut (yang 
dijual di bursa di Kanada) melejit secara spektakuler. Konon kabarnya 
yang memborong saham-saham tersebut adalah orang Indonesia. Di 
kemudian hari terbukti bawa cadangan emas itu hanyalah isapan jempol 
belaka. Tapi kedua warganegara Belanda itu sudah keburu lari dan kaya-
raya. 

Masa pemerintahan Presiden Habibie memang relatif pendek. Belum 
sempat ada cerita lucu dan aneh berkaitan dengan beliau. Tapi 
barangkali kasus Bank Bali bisa juga kita masukkan dalam kategori 
skandal penipuan seperti tersebut di atas.

Di masa Pemerintahan Gus Dur ada orang bernama Soewondo, yang tak 
jelas asal-usulnya tapi bisa masuk dalam innner-circle sebagai tukang 
pijat. Lalu melalui Soewondo ini berkembanglah Skandal Bantuan Sultan 
Brunei yang kemudian menjadi penyebab kejatuhan Gus Dur sebagai 
presiden.

Di masa Pemerintahan Presiden Megawati ada Skandal Prasasti 
Batutulis. Entah mengapa tiba-tiba Menteri Agama memerintahkan agar 
Prasasti Batutulis digali. Urusan ini berkaitan dengan soal klenik. 
Tampaknya ada "sesuatu" yang hendak diambil atau digali dari bawah 
prasasti tersebut dan dipercayai bisa melanggengkan kekuasaan 
Megawati.  

Di antara skandal-skandal besar di atas tentu saja ada segudang lagi 
skandal penipuan yang korbannya adalah golongan menengah atau rakyat 
kecil. 

Ada skandal PT Q'sar. Sebuah perusahaan mengaku bisa untung besar 
dari bertanam tomat, cabe, buncis dll di kaki Gunung Pangrango. 
Perusahaan tersebut membutuhkan tambahan investasi dan bersedia 
membagi keuntungan 10% sebulan.  Lalu berlomba-lombalah orang 
Indonesia yang makan sekolahan, memiliki duit tapi serakah dan bodoh 
itu menanamkan uangnya di sana. Tentu saja uang itu lenyap. (Kalau 
bisnis holtikultura memang menjanjikan, sudah lama para petani di 
Tanah Karo, Lembang atau Batu itu kaya-raya). Salah satu korbannya 
adalah Partai PPP: Uang kas partai "diinvestasikan" di perusahaan 
tersebut dan rahib.

Ada skandal "Pembibitan Biang Kosmetik". Seorang Italia membutuhkan 
bantuan untuk melakukan peragian di atas bahan susu yang hasilnya 
akan digunakannya untuk bahan kosmetik. Dia menjual ragi tersebut 
dengan harga yang sangat tinggi, tapi berjanji akan membeli hasil 
peragiannya dengan harga yang jauh lebih tinggi lagi. Maka berlomba-
lombalah orang-orang pintar dan berduit tapi serakah dan bodoh itu 
membeli bibit dari Si Italia. (Kalau proses peragian itu tidak 
membutuhkan tenaga dan keahlian apa-apa tapi keuntungannya berlipat-
ganda, mengapa Si Italia itu tidak menyewa saja hanggar pesawat 
terbang dan melakukannya sendiri?). Seperti "scheme" penipuan 
lainnya, tentu saja hasil peragian awal memang dibeli oleh Si Italia. 
Lalu berkembanglah cerita sukses itu mulut ke mulut dan semakin 
banyak saja orang yang membeli ragi dari Si Italia. Dan suatu hari, 
setelah mengumpulkan uang hasil penjualan ragi sebesar 80 milyar, 
lenyaplah Si Italia.

Skandal-skandal penipuan "pyramiding" dalam mengeruk dana masyarakat 
tidak terhingga banyaknya. Dan sampai saat ini masih saja terus 
terjadi. Terakhir ini ada skandal penipuan yang melibatkan perusahaan 
investasi dengan memakai nama yang "kejerman-jermanan". (Masuk akal. 
Mana ada perusahaan Jerman yang pernah menipu?). Lalu berlomba-
lomalah para elit kita (politisi, pengacara, agamawan dsb) menaruh 
uangnya di sana dan lenyap. Tapi karena uang yang lenyap itu juga 
adalah hasil tipuan para elit, maka tentu saja kasus itu mereka 
diamkan.  

Lalu ada lagi skandal "Pencucian Uang Dolar Hitam". Sekelompok orang 
mengaku memiliki sekoper uang dolar yang warnanya sudah hitam. Tapi 
dengan bahan kimia tertentu uang itu masih bisa dicuci. Dan yang 
dijual oleh si penipu adalah bahan kimia tersebut. Seorang anggota 
DPR kita yang terhormat tapi bodoh dan serakah itu pernah tertipu. 
Kata si penipu bahan kimia itu ada di Kedubes AS. (Apa pula urusan 
Kedubes AS dengan jual-beli bahan kimia?). Tapi tokh Si Anggota DPR 
percaya dan menyerahkan uangnya untuk membeli bahan kimia.

Lalu ada lagi skandal penipuan dengan modus meminjam nama dan 
rekening bank orang Indonesia untuk menggangsir dana menganggur milik 
Pemerintah Nigeria. Banyak juga orang Indonesia yang makan sekolahan 
itu tertipu. Seorang pengusaha Indonesia pernah mencak-mencak karena 
ia sudah mengongkosi serombongan orang Nigeria itu datang ke Jakarta, 
menginap di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan), makan enak dan main 
perempuan dengan gratis. Tentu saja hasilnya nihil.

Lalu ada segudang kisah penipuan oleh tukang gendem, tukang hipnotis, 
tukang jual jam tangan merek Rolex. Kalau yang melakukan penipuan 
terhadap orang-orang Indonesia ini adalah kawan sebangsa dan setanah-
air, mungkin kita tidak terlalu "nyesek" dan sakit hati. Tapi yang 
melakukan penipuan ini adalah orang-orang Pakistan, Turki, Brunei dsb.

Kisah "Harta Karun Bung Karno" dan "Emas Yang Dikubur Jepang 
Somewhere di Indonesia Menjelang Kekalahannya di PD II) juga adalah 
kisah yang masih terus berkelanjutan serta memakan banyakkorba, dan 
telah menjadi sebuah epik yang jauh lebih panjang dari Mahabrata, 
Ramayana atau La Galigo.

Oh, ya jangan pula kita lupakan skandal "Yusuf Randi dengan Lembaga 
Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika"-nya, "Eddie Tanzil dengan 
Golden Keys-nya", penggorengan saham "busuk" perusahaan-perusahaan 
konglomerat itu, dan banyak lagi yang lainnya.  

Yah, kita memang bangsa yang bodoh dan serakah. Karena itu juga 
slogan "100 Tahun Kebangkitan Nasional" baik juga kalau dimodifikasi 
sedikit: Bersama Kita Bisa....Ditipu.


Horas,

Mula Harahap 



Kartono Mohamad" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Dulu ada Cut Zahara Fona yang mempunyai bayi dalam kandungan yang bisa
mengaji. Idham Chalid dan Adam Malik percaya, tetapi ternyata tape 
recorder kecil buatan Jepang yang waktu itu masih belum dikenal di 
Indonesia.

Kalau betul Energi Biru ini hanya penipuan dan SBY terkecoh, akan 
lebih memalukan karena SBY kan Doktor.


Kirim email ke