Koalisi Perempuan Indonesia Tolak Kenaikan Harga BBM : Unjuk Rasa Minggu dan 
Pernyataan Sikap

Metrotvnews.com, Jakarta: Ratusan orang dari Koalisi Perempuan Indonesia, Ahad 
(25/5), berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI) menolak kenaikan harga 
bahan bakar minyak (BBM). Koalisi Perempuan Indoensia menyerukan kepada 
pemerintah untuk menarik kembali keputusan kenaikan harga BBM dan menghentikan 
bantuan langsung tunai (BLT).

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Masruhah, mengatakan bahwa 
aksi di hari Ahad ini bukanlah seruan belaka. Namun, sebagai bentuk tuntutan 
kepada pemerintah agar bertanggung jawab memberikan kehidupan yang layak bagi 
warganya. Demontrasi Koalisi Perempuan Indonesia se-Jabodetabek dan Bandung ini 
diwarnai aksi teatrikal kaum miskin yang sedang memasak tanpa minyak tanah. 
Selain itu aksi ini juga melibatkan anak-anak dan balita.(DOR)


Koalisi Perempuan Indonesia: Tolak Kenaikan BBM=Menyelamatkan Bangsa

Pernyataan tegas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (21/5/200  seputar 
kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sudah final pada kisaran 28,7% dan 
hanya tinggal menunggu pengumuman dari Presiden RI menjadi hadiah terburuk bagi 
rakyat di momentum 10 tahun reformasi ini. Pernyataan yang menegaskan soal 
kesiapan pemerintah untuk menaikan harga BBM dan kesiapan penyaluran Bantuan 
Langsung Tunai (BLT) untuk periode bulan Juni-Agustus menjadi bukti nyata 
betapa wakil rakyat tak bergeming akan penolakan yang menyeruak di masyarakat 
atas kenaikan BBM dan penolakan terhadap BLT. 

Berbagai alasan dikemukakan sebagai latar belakang kebijakan ini salah satunya 
adalah keterpaksaan akibat tekanan dari pelaku pasar modal yang tidak 
mempercayai berbagai langkah yang telah ditempuh pemerintah. Sayangnya apa saja 
langkah itu Mentri Keuangan tidak menjelaskannya sehingga menggiring opini 
publik bahwa satu-satunya solusi dari defisit anggaran adalah dengan menaikkan 
harga BBM. Hal ini selaras dengan pernyataan sebelumnya oleh Wakil Presiden 
Yusuf Kalla yang menyatakan kenaikan BBM justru untuk meletakan hak subsidi 
pada rakyat yang benar-benar membutuhkan bukan orang kaya yang ikut menikmati 
subsidi BBM. Bahkan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sendiri merespon 
berbagai aksi dengan menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus bangkit dan 
mandiri (termasuk mandiri dalam migas) ditengah tekanan ekonomi. Pola pikir 
demikian sangat berbahaya karena mengeneralisasi seluruh persoalan padahal 
dilapangan realitas bicara lain. Namun  satu poin yang
 tampaknya ingin dibangun oleh pemerintah adalah jika kita ingin menyelamatkan 
bangsa BBM harus naik tidak ada jalan lain dan ini salah satu indikator dari 
kemandirian.

Dampak dari adanya upaya membangun opini sedemikian rupa berimbas akan tudingan 
yang dialamatkan pada berbagai gerakan aksi yang menentang kenaikan harga BBM 
sebagai aksi politis pro pada orang kaya dan pro pada hutang.  Lebih jauh lagi 
aksi ini kemudian diarahkan pada upaya untuk menggembosi pemerintah dan melawan 
aparat penegak hukum. Yang ujung-ujungnya menjadi pembenaran akan tindak 
represif yang dilakukan aparat kepolisian. Di berbagai daerah tampak teriakan 
protes rakyat dilawan dengan panser pembubaran aksi dengan paksa dan 
penangkapan massa demonstrasi. Kekerasan yang menyeruak beberapa minggu ini 
kian menjadi dari waktu ke waktu. Jika dibiarkan sangat mungkin kekerasan ini 
akan berlanjut menjadi lebih besar. Sekedar mengingatkan himbauan dari Presiden 
RI bahwa dalam kondisi sulit yang paling penting adalah bicara menggunakan hati 
nurani maka mestinya pemerintah dan penegak hukum juga membuat kebijakan yang 
menggunakan hati nurani bukan sekadar
 soal untung rugi dan semata takut akan tekanan pemilik modal.

Berangkat dari keprihatinan dan komitmen untuk tetap menjaga kedamaian dan 
kesejahteraan masyarakat organisasi massa dan gerakan Koalisi Perempuan 
Indonesia menyatakan sikap:

1. Mendesak Pemerintah untuk membatalkan rencana menaikan harga BBM dan segera 
mengumumkannya agar bisa memberi rasa aman dan menekan kepanikan masyarakat
2. Meminta pemerintah untuk lebih kreatif dan inovatif dalam merumuskan solusi 
konstruktif yang tidak menumbalkan rakyat misalnya dengan; menaikan pajak 
kendaraan mewah (yang jelas-jelas hanya orang berduit milyaran saja yang bisa 
memilikinya); memotong berbagai tunjangan pejabat negara sebagai bentuk 
mengencangkan ikat pinggang; dan melakukan moratorium pembayaran utang  luar 
negeri karena menaikan BBM bukan satu-satunya cara untuk menyelamatkan anggaran 
negara.
3. Mendesak aparat kepolisian untuk mengamankan jalannya demonstrasi dengan 
cara-cara anti kekerasan dan  menghentikan tindakan represif karena akan memicu 
kekerasan yang berkelanjutan.
4. Menyerukan kepada seluruh warga negara untuk melihat bahwa gerakan menolak 
kenaikan harga BBM sebagai upaya menyelamatkan bangsa dari pemiskinan 
ketertindasan dan kepentingan politik tertentu.

Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Pernyataan ini merupakan manifestasi 
dari sikap kontrol kami terhadap pemerintah dan kinerja aparat kepolisian. Juga 
sebagai bentuk dukungan terhadap tercapainya kesejahteraan rakyat.
 
Jakarta 22 Mei 2008
 
 
 
Masruchah
Sekretaris Jenderal
 
Dian Kartika Sari
Bernadetha Mahuse
Presidum Nasional




      

Kirim email ke