http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/26/00545382/biaya.kesehatan.mahal.karena.pendidikan.mahal

YOGYAKARTA, KOMPAS - Mahalnya biaya pendidikan kedokteran menyebabkan
profesi dokter menjadi komersial. Akibatnya, prinsip pengabdian kepada
masyarakat bergeser menjadi pelayanan demi keuntungan.

Hal itu dikemukakan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
Mada (FK UGM), Yogyakarta, Profesor Sutaryo, saat ditemui seusai
diskusi panel ”Kiprah dan Peran Dokter untuk Pembangunan” di
auditorium FK UGM, Sabtu (24/5).

Sutaryo menegaskan, ”Voluntarisme yang menjadi jiwa dokter semakin
pudar. Banyak yang menjadi dokter untuk mendapat keuntungan karena
biaya pendidikannya mahal.”

Selain usul agar pemerintah menambah anggaran pendidikan, ia
mengharapkan revitalisasi peran dokter ditanamkan sejak kuliah. ”Harus
ditanamkan, dokter adalah pengabdi yang bekerja untuk kemanusiaan,”
ujarnya.

Sutaryo mengakui, ”Dibandingkan dengan lulusan fakultas lain, untuk
mencetak satu dokter dibutuhkan biaya minimal dua kali lipatnya.”

Hal sama dikatakan Dekan FK UGM Hardyanto Soebono. Menurut dia,
berdasarkan survei Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2002,
satuan biaya pendidikan satu mahasiswa kedokteran Rp 18,1 juta per
tahunâ€"untuk nasional. ”Untuk DI Yogyakarta sekitar Rp 16 juta per
tahun,” ujarnya.

Dengan waktu kuliah lima tahun, lanjutnya, setidaknya butuh Rp 150
juta-Rp 200 juta untuk mencetak satu dokter. Biaya itu 30 persen
ditanggung pemerintah dan 70 persen oleh perguruan tinggi. ”Tanggungan
perguruan tinggi sangat besar. Karena itu, kami membuka banyak jalur
untuk bisa membiayai satu mahasiswa sekitar Rp 140 juta selama lima
tahun,” ujar Hardyanto.

FK UGM membuka beberapa jalur, misalnya penelusuran bibit unggul dan
program swadana. Mahasiswa berprestasi tidak dipungut biaya apa pun,
sedangkan mahasiswa swadana wajib membayar biaya masuk Rp 100 juta.

”Mahasiswa swadana dalam setahun mengeluarkan maksimal Rp 4 juta.
Hingga lulus Rp 20 juta, jadi total Rp 120 juta,” ujarnya. Dengan
jumlah mahasiswa FK UGM sekitar 200 setiap angkatan, perguruan tinggi
menanggung Rp 4 miliar dalam lima tahun.

Hardyanto mendorong agar anggaran pendidikan kembali menjadi prioritas
pemerintah. Semakin kecil subsidi, lanjutnya, akan memberatkan
masyarakat dan perguruan tinggi. (A11)

Kirim email ke