Baca tajuk rencana Kompas 29 Mei ini:
 
"Sampai sekarang terkesan tidak ada totalitas dalam mengatasi bencana. Tidak 
seperti bencana lain yang memunculkan kondisi darurat karena datang tiba-tiba 
tetapi segera berlalu, bencana lumpur Lapindo berlangsung pelan dan 
berlama-lama sehingga kurang menggetarkan dan menggerakkan perhatian.
 
Lebih terdengar kencang justru polemik, apakah semburang lumpur di Porong, 
Sidoarjo merupakan bencana alam atau bencana bikinan manusia atau juga campuran 
faktor alam dan manusia.
 
Penyelesaian polemik sangat penting untuk memastikan tanggung jawab, namun jauh 
lebih mendesak sebenarnya membela hak dan kepentingan para korban bencana dalam 
mengatasi kesulitan hidup..."
 
Terima kasih Kompas, telah menjadi amanat para korban, setelah kemarin memuat 
headline photos semburan lumpur. Tidak seperti JP yang hari ini memuat kisah 
sukses para korban lumpur, yang mengubur adanya situasi buruk yang dialami 
warga. Padahal sebagaimana ditulis Kompas dalam tajuk itu keadaan di Porong 
semakin sulit diprediksi, absurd dan jauh lebih rumit jika bencana itu 
diletakkan dalam perspektif ruang...
 
Kalau tidak percaya, buktikan sendiri ke Porong. Aroma gas itu akan bikin 
hoek-hoek....
 
Salam, 
A. Luluk Widyawan, Pr
Posko SanMariAnn
Jl. Monginsidi 13 Sidoarjo
Telp./Fax. 031 8960781
Hp. 081556410330

Kirim email ke