Pak Hudan Hidayat,

Anda membuat saran agar "para ilmuwan komunikasi politik" itu
memecahkan persoalan pemilih tradisional di masyarakat kelas bawah?
Bukankah acara parodi politik itu juga mengajarkan sesuatu hal kepada
masyarakat? Alih-alih berformat 'talkshow' yg berbobot berat, acara
parodi politik muncul dengan format ringan tapi dengan pesan serius!

Bukankah parodi politik lebih mudah ditangkap ('easy to grasp')??
Misalnya daripada, memberi penjelasan ke masyarakat miskin, kenapa
harus menolak "serangan fajar parpol" di tengah kesulitan hidup demi
mempertahankan hak politik?

Bukankah acara parodi politik semakin mendekatkan isu politik (bahkan)
kepada masyarakat kelas bawah? Intinya, mengajarkan bahwa "politic
does matter".


Salam,

Patrick Hutapea








--- In [email protected], Hudan Hidayat
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Agaknya pak seulaeman dan pak bodo cocok kok pak, bila acara itu
ditutup. Menurutku "orang kampus" itu jangan berbondong masuk ke tivi,
tapi masuk ke kantong-kantong masyarakat yang gak berdaya. Ilmunya
lebih berguna di sana. Kenapa ya semua orang ingin merebut panggung,
tak tahan bersunyi dengan masyarakat secara langsung, tanpa harus
ekspose media massa?
>
> Ada seorang sastrawan bilang: intelektual kita lebih suka jadi
selebriti, tak mau berpayah memeras pikirannya di laboratorim,
katanya. dan saya tambahkan: labaoratorium itu bukan hanya bersunyi di
ruang kelas atau penelitian, tapi di masyarakt itu sendiri. dengan
mendampinginya dari hari ke hari sesuai ilmu sang intelektual.
>
> tidakkah sudah menjadi mitos, bahwa ilmu sosial itu memelekkan
rakyat jelata, mencederaskan rakyat jelata? sementara sang ilmuwan
sosial itu tak pernah turun ke rakyat jelata. maksudku turun secara
ajek dengan ilmunya itu lho, bukan turun cuap-cuap di media massa.
mitos, karena kenyataannya, kan setelah reformasi golkar pemilu nomor
dua kan? padahal ilmu sosial sudah membombardir masyarakat di tivi
saban hari sebelum dan sesudah reformasi.
>
> tapi masa sih pak, bila sedikit berpendapat lalu dihentak: bisa gak
buat seperti yang mereka buat! kan ada bidang masing-masing. tapi
kalau ilmuwan ya bidangnya memang di masyarakat. kan masyarakat kita
ini kekurangan ilmu.
>
> ayo, berani gak orang seperti effendi atau rizal malarangeng
langsung terjun ke masyarakat mencerdaskan masyarakat sesuai ilmunya.
maksudku masyarakt jelata yang berserakan di tempat-tempat jauh itu lho.
>
> misalnya effendi yang konon ahli ilmu komunikasi itu menjelaskan
komunikasi politik kepada masyrakat di bawah sehingga dia bisa
memecahkan persoalan pemilih tradisional kita, sehingga siap untuk
tidak memilih karena melihat parpol-nya kok rasa-rasanya tidak membawa
suatu yang baru sama sekali.
>
> begitulah kira-kiranya maksudku.
>
> hudan

Kirim email ke