9-6-08.

SIAPA NYANA  MISKINNYA ILMU MONETER DAN FISKAL BUDIONO DAN SRI MULYANI MEMBUAT 
RAKYAT JELATA
                         SEMAKIN MISKIN?

Kembali saya  merujuk pada Grand Strategy Golkar-Jusuf Kalla di bawah ini, 
setelah membaca dalam koran, bahwa BLT bukan saja diberikan pada fakir miskin, 
tapi 
juga pada mahasiswa miskin dan Camat miskin serta entah pada siapa lagi 
golongan miskin lainnya nanti menurut konsep Strategy Golkar.

Sangat perlu juga diingatkan kembali soal dana gratis Rp 904 milyar yang 
dikucurkan pada Golkar oleh DR Miranda Gultom -mantan Deputy, yang telah 
dipromosikan menjadi Deputy Senior BI atas jasanya tadi. Dana gratis Rp 904 
miliar tadi diperoleh Golkar untuk keperluan Pemilu dengan 'mengerjain'BI dan 
Menteri Keuangan (Mar'ie Muhammad) untuk maksud tersebut. Demikian juga 
sekarang ini Golkar-Jusuf Kalla kembali mempermainkan BI -dan Budiono sewaktu 
masih pejabat Menko- beserta Menteri Keuangan (Sri Mulyani) supaya Golkar dapat 
kembali meraub dana gratis triliunan Rupiah dalam Pemilu dan PilPres mendatang 
untuk kelak dibagi-bagikan juga semacam BLT pada rakyat miskin yang karena 
penderitaan mereka sekrang ini haus sekali dibeli memperoleh bantuan 'Sepuluh 
Perak' sekalipun. 

Kita mau tidak mau harus menganggap semua bentuk dana BLT yang dikucurkan tadi 
dilakukan sebagai 'penangkal petir' belaka untuk meredam suara-suara yang 
mempertanyakan mengapa justru orang-orang yang tidak menjadi korban langsung 
dari kenaikan harga BBM (24-6-08) diberi bantuan. Padahal, rakyat luas yang 
jauh lebih berat kemiskinannya bila dibandingkan dengan camat atau mahasiswa 
dan yang langsung mengalami penderitaan yang lebih berat sebagai akibat dari 
kenaikan harga BBM tadi, justru sama sekali dicuekkan dan tidak diberi 
kompensasi apa-apa? Tidak ada satu negara pun di dunia, yang membagi-bagikan 
BLT gratis seperti yang dilakukan Pemerintah Indonesia sekarang ini.

Kejanggalan tersebut justru dengan sengaja ditimbulkan Grand Strategy Golkar 
agar dapat kembali meraub dana gratis triliunan Rupiah bagi Pemilu. Jusuf Kalla 
berhasil 100% penuh membelokkan perhatian masyarakat dari kejanggalan tadi dan  
dari dampak kerugian luar biasa yang ditimbulkan oleh tindakan menaikkan harga 
BBM. 

Dalam pada itu Jusuf Kalla berhasil mengelabui dan 'menyogok" Menteri-Menteri 
otoritas moneter -DR Budiono dan DR Sri Mulyani, yang membuktikan diri mereka 
paling miskin-ilmiah di antara ilmuwan Team Ekonomi' Kabinet SBY.

Kedua otoritas moneter Budiono dan Sri Mulyani dengan sendirinya bisa dengan 
mudah sekali dikelabui untuk menerima teori-harga palsu Jusuf Kalla yang 
menghendaki supaya harga domestik BBM disesuaikan dengan harga BBM 
internasional. Kemiskinan-ilmu mereka berdua membuat Budiono dan Sri Mulyani 
buta total atas tipu muslihat Grand Strategy Golkar yang pada hakikatnya 
tertuju pada pengumpulan dana yang luar biasa besarnya yang diperlukan Golkar 
untuk memenangkan Pemilu dengan suara terbesar atau paling tidak yang cukup 
besar untuk tetap memegang kuasa dan kendali Republik ini.

Dengan siasat Jsuf Kalla yang mengatakan bahwa Indonesia mengalami kerugian 
yang menanjak besarnya seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasar 
dunia, maka Sri Mulyani yang sangat miskin-ilmiah-fiskalnya dengan senang hati 
menerima dan menerapkan gagasan Jusuf Kalla supaya menyediakan dana subsidi BBM 
 triliunan Rupiah -yang katanya- harus diberikan pada Pertamina.sekalipun sudah 
terkenal sebagai lintah darat penghisap darah rakyat.  Padahal Sri Mulyani 
dikerjain dan dibelokkan hati nuraninya untuk menyalurkan dana gratis triliunan 
Rupiah pada Golkar. Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum dari Golkar berhasil untuk 
mengulang kembali cara 'via'via' seperti dalam pengucuran dana Rp 904 tersebut 
di atas tadi.

Cara 'via-via tadi bisa dimaklumi dari liku-liku gelapnya administrasi 
penerimaan dari ekspor minyak mentah dan windfall profitnya. Email yang saya 
peroleh dari seorang teman, berkata a.l.:
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Luluk Sumiarso menyatakan laporan 
penerimaan minyak dan gas bumi berupa pajak serta penerimaan negara bukan pajak 
(PNBP) disetorkan ke Departemen Keuangan. Menurut dia, seharusnya PBNP dicatat 
oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 
Luluk menjelaskan, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang 
PNBP, pencatatan PNBP dilakukan oleh departemen teknis. Sedangkan penerimaan 
pajak, kata dia, dilakukan oleh Departemen Keuangan. "Tapi karena karakteristik 
penerimaan minyak menyatu antara pajak dan nonpajak, pencatatan semua 
penerimaan minyak dilakukan oleh Departemen Keuangan," ujarnya kemarin.
Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan penerimaan minyak dan gas tidak 
transparan. Menurut lembaga tinggi negara tersebut, selama ini penerimaan 
tersebut tidak disetorkan ke kas negara. Padahal, berdasarkan Undang-Undang 
Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, seharusnya penerimaan disetor 
dulu ke kas negara. Menurut Ketua BPK Anwar Nasution, dana itu masuk ke 
rekening di luar kas negara. 
Menurut Luluk, berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Minyak dan 
Gas Bumi, pencatatan PNBP dilakukan oleh departemen teknis. Departemen 
Keuangan, kata dia, melakukan pencatatan semua penerimaan berdasarkan 
kontrak-kontrak yang diteken sebelum Undang-Undang Migas diberlakukan. 
Dia menjelaskan, kontrak-kontrak ditandatangani setelah undang-undang tersebut 
dan semua penerimaan PNBP akan dicatat oleh Departemen Energi. Sehingga, akan 
ada pembagian pencatatan yang lebih jelas. Namun, kata Luluk, sampai sekarang 
belum ada penerimaan dari kontrak yang ditandatangani setelah Undang-Undang 
Migas diberlakukan. "Belum ada yang produksi," katanya. 
Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Departemen Keuangan Hekinus Manao 
menyatakan pendapatan minyak dan gas disetor ke kas negara. Menurut dia, dana 
yang tidak disetorkan ke kas negara tidak bisa dikategorikan sebagai penerimaan 
negara.
Dia menjelaskan, rekening 600 digunakan pemerintah untuk keperluan pembayaran. 
Meski belum dimasukkan ke APBN, kata Hekinus, rekening itu merupakan rekening 
negara. "Uang yang ada di dalamnya memang belum dimasukkan ke APBN sebelum 
dibersihkan," ujarnya. 
Menurut Henikus, BPK beranggapan penerimaan minyak seharusnya dimasukkan ke 
APBN adalah pendapatan minyak secara keseluruhan. "BPK masih menggunakan asas 
bruto," katanya. 
Pemerintah, kata dia, menggunakan sistem yang memasukkan penerimaan setelah 
terjadi pengeluaran sebelum dimasukkan ke APBN. Pengeluaran tersebut adalah 
reimbursement pajak pertambahan nilai (PPN) kepada kontraktor, pembayaran fee 
penjualan kepada BP Migas dan pembayaran biaya pengangkatan minyak kontraktor 
(cost recovery). "Semua itu merupakan hak yang harus dibayarkan dan tidak bisa 
disebut sebagai pendapatan," kata Henikus. 
 Pada dasarnya yang melanda Indonesia selama ini adalah miskinnya ilmu moneter 
fiskal yang mendurhaka dan meraja lela khususnya sejak Krisis Valas 1998 yang 
menciptakan 'high cost economy' yang 'built in' pada perekonomian Indonesia. 
Krisis Valas tersebut sekaligus menggambarkan pula 'Tragedi kemiskinan-ilmiah' 
yang bermuara dan sudah 'built-in' sejak 12 tahun sebelum Krisis tadi yang 
dimotori oleh otoritas moneter -Dr.JB Sumarlin dan DR Adrianus Mooy. Kemiskinan 
ilmiah moneter dan fiskal mereka berdua, memberikan dalam paket Pakto 1986 
keleluasan sebebas-bebasnya pada para konglomerat mengambil kredit valas dan 
yang bebas pula memarkir valas di luar negeri. Pinjaman tersebut tidak bisa 
dibayar kembali sehingga menimbulkan Krisis Valas 1998.

Krisis kemiskinan ilmiah inilah yang meraja-lela dalam Kabinet SBY khususnya 
yang menciptakan semakin kacaunya perekonomian Indonesia sedang pertumbuhan 
ekonomi selama ini di-trompetkan berada dalam keadaan 'on track', katanya.

0o0o0o0o 



30-5-2008.
Sdr Iwan yang budiman,

Saya sangat berterima kasih atas kiriman respons dari pembaca email saya. Semua 
seolah-olah meragukan maksud tulisan saya. Namun demikian mereka  membuat saya 
berpikir-pikir apa sebabnya mereka menjadi 'penangkal petir' dan bertindak 
untuk mengalihkan perhatian dari masalah inti dari persoalan yang saya 
kemukakan.

Persoalan fundamental tersebut adalah mengenai kenaikan harga BBM yang harus 
dilakukan Pemerintah karena -katanya- harga minyak mentah di luar negeri 
semakin meningkat dan membuat Pertamina mengalami rugi yang begitu hebat hingga 
APBN harus menyerahkan subsidi BBM triliunan Rupiah pada Pertamina.

Teori dan alasan-alasan tersebut saya anggap palsu belaka dan saya menekankan:
Bahwa kenaikan harga minyak melebihi $120 per barrel bukan malapetaka, 
melainkan sorga bagi Indonesia. Sorga tersebut diselewengkan Pemerintah sendiri 
menjadi neraka.
Kenaikan harga tersebut menciptakan windfall profits luar biasa bagi Indonesia 
sebagai net-exporter (ekspor minyak mentah jauh melebihi impor), sedang 
mengenai BBM, Indonesia memang net-importer (impor BBM melebihi ekspor BBM), 
tapi sangat kecil perongkosannya dan jauh lebih tertutupi oleh windfall profits 
yang diperoleh Indonesia.

Mengenai kenaikan kenaikan ongkos-ongkos operasional Pertamina sendiri dan 
ongkos-ongkos kilang minyak dan ongkos-ongkos distribusi BBM Pertamina,  
kesemuanya memang di-overcharge dan di-mark-up oleh bandit-bandit berdasi 
Pertamina, namun merupakan hanya gejala detail saja dalam rangka 'Grand 
Strategy' Golkar sendiri yang mengerahkan segenap 'funds & forces' supaya tetap 
memegang kuasa nyata dan kendali di negeri ini. Untuk tujuan tersebut 'Grand 
Strategy' lama dihidupkan kembali di mana masalah overcharge dan mark-up tadi 
dibiarkan saja berjalan seperti biasa supaya jangan mengganggu perolehan dana 
untuk Pemilu mendatang melalui tameng-Pertamina.

Bukan seperti dahulu lagi Golkar bisa memperoleh kucuran dana gratis Rp 904 
milyar dari Bank Indonesia, karena Gubernurnya, Burhanuddin Abdullah, sudah 
keburu kepergok dan dipenjarakan oleh Antasari Azhar, Ketua KPK. Tapi, sangat 
genius sekali Golkar berani membuat Pertamina menjadi sumber pengganti 
satu-satunya dari kucuran dana gratis bagi Pemilu dan PilPres -jika tidak 
triliunan Rupiah- ratusan milyar pun jadi.

Itulah sebabnya mengapa Jusuf Kalla meniup-niupkan teori palsunya dengan 
berkata bahwa Indonesia akan terus menerus mengalami rugi yang sangat besar 
dengan terus-terusnya harga-dollar minyak melonjak. Sebab, kata Jusuf Kalla, 
selisih harga BBM dunia dan harga BBM dalam negeri akan semakin tinggi, 
sehingga membuat harga BBM per liter dalam negeri semakin lebih murah dari 
harga sebotol Coca-Cola. Demikianlah bunyi teori-saudagar dari harga yang 
dinyanyikan Jusuf Kalla . dan akhirnya teori palsu tersebut ditelan 
mentah-mentah oleh ilmuwan moneter  Profesor Budiono dan ilmuwan-fiskal  DR Sri 
Mulyani.

Siapa nyana kedua ilmuwan tadi bisa terjebak oleh teori palsu Jusuf Kalla 
tersebut. Sebabnya tidak lain dan tak bukan karena ada  Quid Pro Quo-nya  bagi 
Budiono dan Sri Mulyani yang dikenal berjiwa sangat ambisius sekali. Apapun 
dikorbankan asal tetap memegang kuasa terus setelah PilPres nanti juga. 
Saya sama sekali tidak menduga ilmuwan bisa tergelincir begitu mudahnya dan 
mereka berdua justru mau bertindak menjadi juru bicara dari justifikasi 
kenaikan harga BBM dan justifikasi pemberian subsidi Pertamina triliunan Rupiah 
-bukan miliaran Rupiah- dari APBN. Artinya: Subsidi APBN tersebut pada dasarnya 
adalah uang dari rakyat untuk kemenangan Golkar dalam Pemilu dan Pilpres. Grand 
Strategy luar biasa memang.

Saya sampai pada kesimpulan Grand Strategy tadi, baru setelah saya teringat 
kembali pada pendapat dari seorang teman 3-4 bulan yl yang berkata: 
Lihat saja nanti, bahwa -di luar dugaan banyak orang- yang akan menang dalam 
Pemilu nanti- adalah SBY. 

Benar nianlah menarik kesimpulan sekarang ini, bahwa 'Grand Strategy ' 
Golkarlah yang akan mengegolkan SBY terpilih kembali seperti dalam Pemilu yl, 
di mana Golkar tetap memegang kuasa nyata dan kendali negara seperti selama 
ini. Golkarnya Jusuf Kalla is the ultimate King-maker.
*JK meniupkan bahwa baru 3 bulan sebelum Pilpres dia akan menentukan sikap 
berduet apa tidak dengan SBY, seolah-olah hendak mengkhianati dwitunggalnya 
dengan SBY.
*Suryo Paloh dari Golkar dan Taufiq Kiemas dari PDI-P menggelar di Medan dan 
Palembang rapat raksasa antar kader masing-masing Partai Golkar dan PDI-P, 
seolah-olah akan menjalin kerjasama erat.
*Ketua Golkar -seolah-olah sangat dermawan- menyuruh Sri Mulyani menyerahkan 
sedekah BLT pada fakir miskin selama beberapa bulan mendatang, untuk menarik 
simpati rakyat pada Golkar dalam Pemilu dan Pilpres mendatang.
*Baru-baru ini diluncurkan sebuah buku, tulisan Hamid Awaluddin yang 
menguraikan jasa-jasa Jusuf Kalla yang memprakarsai dan yang membuktikan 
berhasilnya perdamaian Helsinki, untuk mana semua pengeluaan terkait diserahkan 
cuma-cuma tanpa pamrih oleh Ibu Negara No.2.
*DR Kartubi, Ketua dari 'Center of Petroleum Studie', Bandung, dikerjain dan 
diorbitkan baru-baru ini mempertahankan thesis Sri Mulyani yang menerompetkan, 
bahwa masalah BBM Indonesia terletak pada sudah berkurangnya lifting minyak 
mentah Indonesia.
*SatPam Purnomo Yusgiantoro diperintahkan Jusuf Kalla supaya Indonesia 
mengundurkan diri dari OPEC -katanya- supaya menghemat beban iuran keanggotaan. 
Padahal Indonesia dibuatnya mengkhianati solidaritas Indonesia dengan 
rekan-rekannya pengekspor minyak mentah dan terima kasihnya pada kartel OPEC 
yang membuat Indonesia turut menikmati windfall profits tersebut di atras.
*Dll tindakan terselubung Golkar mempopulerkan Golkar.

Kesemuanya merupakan manuver-manuver 'Grand Strategy' Golkar saja untuk tetap 
memegang kuasa nyata dan melanjutkannya sebagai warisan lama dari sejak 
pembentukannya oleh Suharto.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke