Yonky Karman Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta mneulis di Kompas..
Rakyat diimpit beban berat. Namun, tidak ada gerakan dari pemerintah untuk memangkas gaji dan fasilitas pejabat. Sementara politisi berasyik-masyuk dengan politik pencitraan. Penyelenggara negara menikmati kemewahan di atas kemiskinan sebagian besar rakyat. Mengutip Tan Malaka, rakyat dibuat susah oleh kaum nasionalis-imperialis. Nasionalis sebutannya, imperialis perbuatannya. Negeri miskin seperti Bolivia berhasil membuat sumber daya minyaknya kembali dinikmati rakyat. Rupanya betul ya Tan Malaka itu.. lha kata BPK juga ( diambil dr posting Oposunggu) Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan menyatakan penerimaan minyak dan gas tidak transparan. Menurut lembaga tinggi negara tersebut, selama ini penerimaan tersebut tidak disetorkan ke kas negara. Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, seharusnya penerimaan disetor dulu ke kas negara. Menurut Ketua BPK Anwar Nasution, dana itu masuk ke rekening di luar kas negara. Pastilah pemrintah berkilah soal penerimaanminyak dangas bumi.., tapi seeprtinya cocok kok dgn dugaan bhw ini sengaja di gelapkan supaya bisa diambilin ..oleh mereka. HS [Non-text portions of this message have been removed]
