JAKARTA, KOMPAS - Tayangan sinetron di televisi nasional yang
ber-setting sekolah dan menggunakan seragam sekolah justru telah
melecehkan dunia pendidikan dan memberi contoh tidak baik dan tidak
mendidik. Untuk itu, pemerintah harus mengambil tindakan tegas
terhadap tindakan eksploitasi dunia pendidikan secara tak benar itu.

Depdiknas seharusnya turun tangan, mengeluarkan larangan untuk hal-hal
tertentu kepada produser, agar tayangan untuk anak dan remaja tak
kebablasan.

Demikian benang merah perbincangan Kompas dengan pakar pendidikan
Hasrul Piliang dari Universitas Negeri Padang (dulu IKIP Padang),
pengamat masalah pendidikan anak dan Redaktur Majalah Kritis! Media
untuk Anak Ike Utaminingtyas, dan Direktur Pendidikan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Nonformal Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan
Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Erman Syamsuddin, yang dihubungi
Kamis dan Jumat (6/6) di Padang dan Jakarta.

Hasrul mengatakan, ”Negara harus bertindak tegas. Tak cukup hanya
pernyataan ’memprihatinkan dan/atau menyesalkan’. Ada etika-etika yang
harus dipenuhi.”

”Pelecehan seksual antarpelajar seolah-olah sesuatu yang wajar. Mereka
berdalih sinetron adalah potret remaja dewasa ini. Padahal, tak ada
dunia pendidikan yang seperti digambarkan di sinetron-sinetron,” katanya.

Ike menegaskan, dunia sekolah sering digambarkan sebagai ajang
berpacaran dan guru sering dilecehkan seolah-olah hanya bisa
mengatakan anak didiknya bodoh, tolol, dan kata-kata lain yang tak
pantas diucapkan pendidik.

”Sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan guru harus menularkan
nilai-nilai positif, menjadi orang yang digugu dan ditiru (diikuti
kata-katanya dan diteladani),” ujar Ike.

Menurut dia, boleh-boleh saja sinetron memakai atribut sekolah, tetapi
harus memilah, patut atau tidak patut, dan memikirkan dampak
negatifnya. ”Depdiknas harus mencermati, mana yang boleh dan yang
tidak boleh ditayangkan,” ujarnya.

Erman mendesak pihak pengelola stasiun televisi menyeleksi ketat
tayangan, terutama sinetron dengan sasaran anak-anak dan remaja,
apakah ada unsur pendidikan atau tidak, berdampak positif atau tidak
terhadap motivasi belajar dan kreativitas.

”Tayangan sinetron bukannya mendidik pemirsa (anak-anak dan remaja),
tetapi cenderung merusak dan memberi contoh tak patut dicontoh,” ujarnya.

Agar bermanfaat bagi dunia pendidikan, sinetron harus berdasar
komitmen, misalnya antara pihak sekolah dan produser. Kalau perlu,
juga dengan gubernur/wali kota/bupati, sesuai dengan otonomi daerah. (NAL)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/09/01141759/sinetron.melecehkan.dunia.pendidikan

Kirim email ke