Oleh Musthafa Abd Rahman
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/14/01524237/makna.strategi.dari.kenaikan.harga.minyak


Opini di Timur Tengah mulai membidik pada makna strategi dari kenaikan
harga minyak yang fantastik, mencapai lebih dari 139 dollar AS per
barrel. Diprediksi, harga minyak akan terus menggeliat naik, jauh
melampaui angka 150 dollar AS itu. Kenaikan harga minyak tersebut kini
dilihat lebih serius dari dimensi politiknya.

Dalam konteks isu minyak itu, dunia Arab, khususnya negara-negara Arab
Telukâ€"Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan
Kesultanan Omanâ€"(pemilik lebih dari separuh cadangan minyak dunia)
kini benar-benar dianggap berada di atas angin menyusul terus
membubungnya harga minyak itu.

Para analis mengimbau negara-negara Arab Teluk hendaknya berusaha
tetap mempertahankan posisinya yang kuat saat ini menghadapi dunia
Barat, konsumen minyak terbesar, yang tampak sempoyongan. Dunia Arab
serta negara anggota OPEC (Negara Pengekspor Minyak) pada umumnya di
satu pihak dan dunia Barat di pihak lain sesungguhnya kini terlibat
pertarungan sengit di sektor ekonomi (minyak) yang memiliki dampak
politik cukup strategis.

Pertarungan tersebut dinilai tidak kalah sengitnya dibandingkan dengan
aksi AS dan dunia Barat memerangi terorisme saat ini. Dunia Barat
mulai menganggap terus membubungnya harga minyak itu bisa mengancam
hegemoninya di masa mendatang.

Para analis, pusat-pusat kajian, dan bahkan banyak anggota Kongres AS
sudah berteriak agar Pemerintah AS mencari energi alternatif dari
minyak, khususnya minyak dari negara Arab Teluk. Penulis ternama dari
harian New York Times, Thomas Friedman, yang biasanya selalu
mengkritik Pemerintah AS, kini ikut bergabung dengan banyak anggota
Kongres yang meminta agar segera dicari energi pengganti minyak,
terutama minyak negara Arab.

Analis

Sebaliknya para analis di dunia Arab meminta negara-negara Arab
belajar dari pengalaman kenaikan harga minyak pada tahun 1970-an agar
tidak kecolongan lagi yang mengakibatkan jatuhnya harga minyak pada
tahun 1980-an dan 1990-an.

Pada tahun 1973, harga minyak naik hingga 11 dollar AS per barrel,
dari hanya 3,5 dollar AS pada awal tahun 1970-an. Kenaikan harga
minyak saat itu berkat aksi embargo minyak dari dunia Arab yang
digalang Raja Faisal bin Abdel Aziz dari Arab Saudi terhadap AS dan
negara-negara Barat sebagai protes atas dukungan dunia Barat terhadap
Israel pada perang tahun 1973.

Harga minyak naik lagi pada tahun 1979 hingga mencapai 36 dollar AS
per barrel, menyusul revolusi Iran yang dipimpin Imam Khomeini pada
tahun itu. Saat itu, ketika menghadapi dua kali kenaikan harga minyak,
yakni pada tahun 1973 dan 1979, dunia Barat langsung membangun
strategi baru dengan cara mempererat kerja sama antara negara-negara
Barat dan meningkatkan cadangan minyak dunia Barat serta mencari
sumber minyak baru di luar dunia Arab.

Strategi baru dunia Barat tersebut menuai keberhasilan cukup
fantastik, harga minyak anjlok pada pertengahan tahun 1980-an. Sejak
tahun 1986 hingga akhir tahun 1990-an, harga minyak mengalami
kemerosotan luar biasa, hingga kadang kala mencapai 9 dollar AS per
barrel. Situasi harga minyak saat itu semakin diperburuk oleh aksi
Presiden Irak Saddam Hussein menyerang Iran pada tahun 1980 dan lalu
Kuwait tahun 1990.

Negara-negara Arab Teluk pun, yang semula selalu surplus dalam
anggaran belanjanya, untuk pertama kalinya mengalami defisit.
Sedangkan ekonomi negara-negara Arab non-Teluk mengalami stagnasi.
Periode pertengahan tahun 1980-an hingga akhir 1990-an dikenal dengan
nama Era Minyak Murah.

Jatuhnya harga minyak pada tahun 1980-an hingga 1990-an itulah
ditengarai sebagai salah satu faktor suburnya radikalisme di Timur
Tengah. Jumlah pengangguran untuk pertama kalinya membengkak di banyak
negara Arab akibat rendahnya harga minyak saat itu. Hal itulah yang
mengantarkan banyak pemuda Arab lari dari negaranya menuju Afganistan
dengan dalih berjihad melawan pendudukan Uni Soviet.

Kini, dalam empat tahun terakhir ini, keadaan telah berubah total.
Harga minyak kembali membubung tinggi hingga mencapai angka yang jauh
dari perkiraan. Negara-negara Arab Teluk kini memasuki masa keemasan lagi.

Membubungnya harga minyak itu ditengarai disebabkan permintaan akan
minyak yang terus meningkat, terutama dari negara industri baru
seperti China dan India. Dipastikan, membubungnya harga minyak itu
membawa sejumlah dampak politis. Pertama, semakin strategisnya posisi
negara-negara Arab Teluk yang memiliki lebih dari separuh cadangan
minyak dunia di mata dunia Barat. Posisi semakin strategis negara Arab
Teluk itu bisa membuat dunia Barat kian berambisi meningkatkan
hegemoninya di negara Arab Teluk dan kawasan Timur Tengah pada umumnya.

Hegemoni

Perilaku hegemonik dunia Barat, khususnya AS, sudah tampak ketika
membubungnya harga minyak pertama kali pada tahun 1973. Presiden AS
saat itu, Richard Nixon, dalam bukunya berjudul Tangkaplah Peluang,
mengungkapkan, Pemerintah AS telah memutuskan untuk memperkuat pijakan
kakinya di Timur Tengah dan kawasan negara Arab Teluk khususnya.

Dalam buku tersebut juga diungkapkan, Presiden Nixon telah
menginstruksikan untuk melawan dengan segala cara semangat patriotisme
Raja Arab Saudi Faisal bin Abdel Aziz untuk membuka jalan bagi
hegemoni AS di Teluk dan Timur Tengah. Sikap AS pada tahun 1970-an itu
tentu tidak berubah hingga saat ini. Hal itu tidak hanya disebabkan
kebutuhan AS sendiri yang semakin besar pada minyak, tetapi juga
mencegah pesaing-pesaing AS memperoleh minyak jauh dari pantauan dan
kontrol AS.

Kedua, negara-negara Arab Teluk semakin membutuhkan keamanan dan
perlindungan. Kebutuhan tersebut yang membuat negara Arab Teluk
membentuk Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pada tahun 1981. Negara Arab
Teluk saat itu merasa terancam oleh aksi invasi Uni Soviet ke
Afganistan tahun 1980, revolusi Iran tahun 1979, serta hilangnya Mesir
sebagai sandaran negara Arab Teluk menyusul pemutusan hubungan
diplomatik dunia Arab dan Mesir sebagai protes atas kesepakatan damai
Camp David antara Israel dan Mesir tahun 1979.

Kebutuhan keamanan dari negara Arab Teluk itu pernah dimanfaatkan AS
pada tahun 1980-an dengan menjual senjata besar-besaran. Harga minyak
lalu anjlok akibat kebutuhan negara Arab Teluk terhadap dana untuk
pembelian senjata itu. Situasi politik di Timur Tengah membuat harga
minyak anjlok pada tahun 1980-an itu, harganya cukup mahal. Presiden
Irak Saddam Hussein menyerang Kuwait dengan kedok Kuwait bertanggung
jawab atas murahnya harga minyak saat itu dengan cara menyuplai minyak
secara berlebihan di pasar dunia.

Pelajaran negara Arab Teluk kini tampaknya telah mengambil pelajaran
dari pengalaman tahun 1980-an sehingga harga minyak tidak kembali anjlok.

Negara Arab Teluk, misalnya, kini menolak keras opsi militer AS
terhadap Iran, lantaran program nuklir Iran itu. Negara Arab Teluk
juga terus menunjukkan sikap bersahabat dengan Iran. Presiden Iran
Mahmud Ahmadinejad, misalnya, diundang dalam forum sidang tingkat
tinggi GCC di Qatar bulan Desember lalu. Presiden Ahmadinejad juga
telah berkunjung ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Bagi GCC,
aksi militer AS terhadap Iran akan membuyarkan semua manfaat yang
diraihnya dari membubungnya harga minyak saat ini, baik menyangkut
investasi di kawasan Teluk sendiri maupun di luar negeri.

Dubai

Kota Dubai, misalnya, di mana minyak hanya 6 persen dari keseluruhan
pendapatan daerahnya, mengalami perkembangan luar biasa berkat sektor
perdagangan dan jasa. Kota Dubai kini menjadi salah satu pilihan yang
paling menarik bagi para pengusaha dan pemerintah negara Arab Teluk
lainnya, bahkan Iran, untuk menanamkan investasinya. Investasi dari
negara-negara Arab Teluk dalam berbagai sektor kini juga merambah ke
negara-negara Arab lain seperti Mesir, Tunisia, Maroko, Jordania,
Suriah, Yaman, dan bahkan ke negara Asia semacam Malaysia dan Thailand.

Namun, negara Arab Teluk mulai menghadapi hambatan untuk investasi di
proyek atau instansi strategis di negara-negara Barat. Misalnya, kasus
Inggris mengurangi investasi Kuwait di perusahaan British Petroleum
hingga separuh dan Pemerintah AS menolak lembaga pelabuhan Dubai
mengontrol sejumlah pelabuhan di AS.

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy pernah menyatakan menolak investasi
Arab di institusi strategis di Eropa. Bukankah ini merupakan bagian
dari bukti adanya ketakutan dunia Barat akan kehilangan hegemoni
ekonominya dengan adanya ancaman dari negara Arab Teluk yang bisa
berdampak terhadap geopolitik.

Kirim email ke