http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/19/17130516/spirit.obama.bisa.berimbas.ke.indonesia


JAKARTA, KAMIS - Figur pemimpin muda untuk menjadi calon presiden
Indonesia mendatang mendapat tanggapan dari sudut pandang yang
berbeda. Bagi Presiden PKS, Tifatul Sembiring, spirit Barack Obama
sebagai capres Amerika Serikat bisa berimbas bagi Indonesia. Namun,
bagi politisi muda PDI Perjuangan, Budiman Sujatmiko, kultural Amerika
belum tentu sama dengan semangat politik di Indonesia.

Bagi Budiman, ada beberapa sarat utama bagi figur muda untuk menjadi
pemimpin di Indonesia. Tifatul dalam pemaparannya, semangat
memunculkan figur muda harus sudah disuarakan saat ini. Figur muda
diyakini bisa memberi angin segar bagi sistem pemerintahan ke depan.

"Keinginan harapan bagi figur muda sekarang ini, sudah ada buktinya.
Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf) dalam Pilgub Jabar,
memberi semangat muculnya figur-figur muda yang lain," kata Tifatul
Sembiring dalam diskusi di Jakarta, Kamis (19/6).

Ia mengklaim, di internal PKS saat ini mayoritas diisi oleh
figur-figur muda yang potensial. "Semangat Barack Obama dalam Pilpres
di Amerika, tentu saja menjadi spirit juga bagi Indonesia," tukas Tifatul.

Namun, bagi Budiman Sujatmiko, semangat Barack Obama itu belum tentu
berlaku di Indonesia. Budiman mengaku salut dengan Barack Obama yang
juga diyakini, akan menjadi pemimpin negara Paman Sam ini. Politisi
PDI Perjuangan ini tidak sepakat bila dikatakan Amerika harus menjadi
kiblat segala-galanya, Barack Obama menjadi argumentasinya. "Amerika
bukan yang secara tiba-tiba mengubah dunia. Segala sesuatunya, tidak
bisa ditentukan oleh Amerika. American dream, belum tentu Indonesian
dream," kata Budiman yakin.

Sosok figur muda yang dibutuhkan Indonesia adalah yang bisa membentuk
institusional building. Tantangannya, mampu merawat image builidng.
"Amerika image builiding-nya oke. Tapi, Indonesia perlu institusional
builidng," kata Budiman.

"Menjadi Presiden (Indonesia) bukan karena banyak uang dan mampu
membuat image, tapi harus mampu membangun jaringan-jaringan di daerah.
Kalau mau jadi presiden, harus bisa memimpin yang kecil dulu. Jadi
pemimpin partai nasionalnya. Salah satu kebangkrutan Indonesia adalah
selalu memilih memimpin yang kaya, tapi kaya karena mencuri," tambah
Budiman Sujatmiko. (Persda Network/yat)

Kirim email ke