Ada dua berita menarik di Kompas pas saya membacannya setelah meyaksikan Jerman sang panser melabrak Portugal dan melihat rekening Devisa The Fed minggu ini yang closing pukul 4 subuh WIB tadi... Dua berita itu soal kartu kredit dan Obligasi global RI (dimana saya juga menjadi nara sumber berita tersebut)..
Jika tertarik melihat sisi analisisnya (dan semoga bermanfaat), Saya menulisnya di situs www.elrizky.net (Jum'at 20 Jujni 2008: http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=245) berikut ini: Majelis Reboan The Fed di Stadion Finansial Indonesia Oleh: Yanuar Rizky PILU rasanya melihat kondisi yang terus saya amati setiap pukul 4:30 subuh di hari Jum'at setiap minggunya. Sejak 2002, saya melihat bahwa tata baru dunia finansial yang terbuka, serta mulainya Cina menjadi petarung di pasar finansial telah membuat harga yang dibentuk tak bisa terlepas dari doomsday scenario dari strategi perang moneter itu sendiri. Saat ini, sinyal mendesak Cina ke titik Revaluasi Yuan ke arah "Flexible Market" sebagaimana terjadi sebagai "titik kompromi" di peradangan pasar finansial tahun 2004-2005 (yang juga meng-hit harga minyak dunia di bursa komoditas) di bulan Mei 2006 semakin terlihat menjadi objektif dari doomsday scenario yang diinginkan Amerika Serikat. Inilah yang saya maksud dengan pembentukan opini di era "Literasi Masyarakat Informasi" menjadi bagian tak terpisahkan dari "politisasi peristiwa" yang menekan persepsi ke arah kecemasan sebagai sarana "penguasa" membentuk opini untuk meraih keuntungan (hal ini saya tulis secara runtut sejak September 2007-April 2008 ketika kolom rutin 2 minggu sekali di Bisnis Indonesia, bisa dilihat dokumentasinya di http://www.elrizky.net/artikel.php) Lihat saja, pertanyaan yang diajukan kepada Wakil Perdana Menteri Cina di Amerika Serikat adalah "liberalisasi Yuan" (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/19/00512654/china.bahas.yuan). Bagaimanapun, saya semakin menyadari mengapa Nabi Muhamad mengatakan "belajarlah sampai ke negeri Cina". Bagi saya, fakta hari ini memberi makna bahwa Cina adalah perimbangan baru dunia, sehingga yang harus dipetik "krisis finansial harus diantisipasi, bukan diratapi". Saya setuju dengan pidato akhir tahun 2007 Xiachuan (Gubernur Bank Sentral Cina: PBC) "Dunia dilanda Misleading, kaum muda Cina jangan sampai Misreading", sebagaimana saya tulis di media masa (salah satunya di LipSus Kompas tentang Cina, 5 Februari 2008 "Mengendalikan angin pertikaian AS-RRC", http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=235). Dari pendapat Xiachuan, bagi saya memberi rasa tidak kesepian tatkala saya memandang "terjebaknya" pemimpin negeri ini dari salah baca (misreading) dikarenakan tidak menerapkan jaring pengaman "information trap". Sehingga, wajar kalau Wakil PM Cina (Wang Qishan) masih Percaya diri dengan menjawab pertanyaan di Indianapolis ""Untuk mengatasi masalah- masalah perlu ada proses. Saya sangat berharap AS dapat menghargai kepentingan China juga.". Membiarkan diri terjebak di politisasi peristiwa yang penuh resiko misleading akibat "tatanan politik perekonomian global tak beretika". Setidaknya, itulah sumber biang kerok dari tidak nyambungnya komunikasi politik – ekonomi pemimpin dengan realita masyarakatnya (mis called). Pacul Kartu Kredit Kompas pagi ini (20 Juni 2008) di halaman Bisnis – Keuangan menurut saya menyajikan berita yang menarik, terleih saya membacanya setelah membuka rekening Devisa The Fed yang kembali menjunjukan penambahan dari financial netting, melalui eksekusi atas kontrak RePO-international market sebaimana terlihat dari naiknya rekening Reverse RePO tersebut (week on week: + USD 140 Juta, year on year: + USD 8,5 Miliar). Yang ingin saya tanggapi pertama adalah berita yang "menyitir" peringatan Gubernur Bank Indonesia (Boediono) agar perbankan mewaspadai pemakaian kartu kredit (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/20/01032598/waspadai.kartu.kredit). Statement Pak Boed, terkait peningkatan pemakaian kartu kredit mengkonfirmasi bahwa tekanan daya beli memang telah hinggap dalam perekonomian Indonesia, sehingga kebijakan menaikan BBM adalah "over shooting" di posisi masyarakat terjepit. Kartu kredit mencadi pacul, dengan "silet gesekan" untuk menggali lubang hutang konsumsi menutupi lubang upah yang tak mampu mengejar kenaikan harga sebagai akiat lanjutan (multiplier) kenaikan BBM yang tak bisa diantisipasi pemerintah. Melegakan juga bagi kami di Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI). Dimana, Indeks Daya Beli Pekerja (IDBP-OPSI triwulan I-2008, http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/01/07392747/buruh.indonesia.gali.lubang.tutup.lubang) menunjukan validitas-nya. Indeks yang dilucuran sebelum pemerintah menaikan BBM tersebut telah memberikan alert bahwa hasil survey dengan metode sensus menunjukan posisi nombok upah atas konsumsi inti. Sinyal gali lubang-tutup lubang juga telah dikemukakan dalam IDBP- Triwulan 1-08. Dimana, kartu kredit adalah tumpuan-nya. Sehingga, apa yang dikemukakan Gubernur BI, bagi saya sudah terproyeksi dan WAJAR saja putaran akan kembali ke kartu kredit. Dan, akhirnya resiko bergeser ke sistem perbankan, dari terbukanya sinyal resiko kredit ke pihak ketiga, yang sebenarnya jujga sedang mengalami tekanan upah (subprime customer, nasabah beresiko tinggi dari sisi keberlanjutan likuiditas). Terlebih, jika PHK terus terjadi dan rasionalitas upah tidak terjadi, maka potensi credit risk akan semakin terbuka (terlihat dr NPL kartu redit yang naik, data BI). Menanti Kendali Fluktuasi Finansial Saya rasa, harus ada langkah teknis ke kondisi riil card holder (terapi jangka pendek dari kebijakan pengaturan Perbankan BI). Yang terpenting, seperti konsistensi pendapat yang sering saya tulis, mendesak untuk melakukan instrumenisasi moneter yang terharmonisasi melalui sekuritisasi fiskal ke askselarasi daya kerja (mid term). Terlebih, pola reboan Reverse RePO-internasional market dari instrumen kontrak The Fed dengan para dealer atas kontrak RePO sebelumnya masih terus terbuka dan mjenjadi virus laten tekanan Rupiah di pasar spot US Dolar, dikarenakan pola profit taking di Bursa Efek Indonesia yang selalu mencapai titik terendah di hari Rabu setelah sebelumnya dinaikan (minggu ini: Rabu 18 Juni 2008 IHSG 2.373 turun 45 poin dari titik tertingi mingguan 2.418 di IHSG 16 Juni 2008). Dari "wisata" melalui jaringan internet sehingga bisa mengintip rekening Fed minggu ini (closing 19 Juni 2008 Jam 16 Waktu Amerika = 20 Juni 2008 Jam 04 WIB), kembali Fed menyedot financial netting dengan naiknya devisa Fed (week on week: +USD 4,9 Miliar, year on year: +USD 290 Juta). Sampai disitu, berita Kompas lainnya di halaman Bisnis – Keuangan (20 Juni 2008) menjadi menarik dan terkait, yaitu tentang "optimisme BI" bahwa terserapnya Obligasi RI berdominasi USD di paar Amerika Serikat meningkatkan kepercayaan asing yang akan memperkuat Rupiah (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/20/01011987/obligasi.global.angkat.kepercayaan.investor.asing) Pak Hartadi (Deputi Guberur BI) menatakan terserapnya obligasi tersebut memeri dampak ke penguatan Rupiah. Saya rasa, arus masuk terseut dibayar denjgan "komitmen" APBN untuk memberikan imbal hasil dengan rate tinggi atas Obligasi RI (USD). Yaitu, diskonto harga 2,5% dan rate 7,53%. Artinya dari sisi rate 530 poin di atas Fed rate, sebagaimana telah terbaa pula dalam komentar saya di berita Kompas tersebut. Saya pikir, Rupiah menguat di hari Selasa 17 Juni 2008 dengan pola "over shooting" opening market yaitu nilai tukar Rupiah menguat 100 poin secara cepat dari Rp. 9.380 ke 9.280. TAPI, yang harus dilihat pola persiapan majelis reboan telah terlihat dengan hit closing spot market Rp-USD sehari sebelumnya (16 Juni 2008) Rp. 9.305 "didongkrak" saat pre opening 17 Juni 2008 ke Rp. 9380. Jadi "square position" bukan atas arus masuknya, yang kemudian memperkuat kurs ke Rp. 9.280? Rate tinggi telah memberi sinyal "high cost", terleih pergerakan kurs paska terapi sesaat yang shoot 100 poin hanya besifat sangat jangka pendek. Karena posisi real time pasar spot Kurs spot masih laten menunjukan fluktuasi yang begerak +/- 50poin. Itulah kenapa, saya "menyindir" seperti yang ditulis dalam berita Kompas daam menaggapi issued Obligasi RI (USD) adalah 'seolah apbn menyubsidi AS'. Kenapa? Politik bunga rendah The Fed bisa dilakukan, keutuhan likuiditas bunga tinggi fix income dikasih rate Obligasi USD pemerintah Indonesia. Semoga, seperti substansi dari apa yang pernah dikatakan Bung Hatta di tahun 1960 akan menemukan jati dirinya "peristiwa politik adalah di depan, tapi aktornya harus memahami ekonomi sebagai sejatinya sebagai kebutuhan mendasar dari haks asasi rakyat sebagai mahluk ekonomi, yaitu hidup layak dan sejahtera". Tapi kapan? Waktu mencatat sejarah sebagai pelajaran, masa depan sebagai misteri yang harus diantisipasi dan hari ini adalah anugrah yang harus dinikmati. Semoga, Indonesia menjadi negara yang lebih baik dengan kecerdikan bangsanya mengarungi dunia yang penuh dengan potensi misleading. Amin. -Yanuar Rizky- mail to: [EMAIL PROTECTED] on the net: http://www.elrizky.net elrizkyNet::dari RT-RW ke Internet menuju Pasar Modal:: ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Forum Pembaca KOMPAS : 1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM) 3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] 5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
