Mba Ina, Tidak semua guru seperti itu, walaupun mungkin lebih banyak yang gak "beres" dari pada guru yang beresnya.
Anak saya 2 orang duduk di bangku SDIT ANNIDA-Cikarang, yang sulung mau naik kelas 3 dan si bungsu baru mau masuk SD, di sekolah yang sama. Saya juga sempat kefikiran biaya masuk SD kok mahal sekali ya..kalau tak salah untuk sibungsu ini untuk masuk SD harus bayar kira2 5 jutaan lah. Dan sisulung daftar ulang ke kelas 3 sekitar 1 juta an. Pihak sekolah memberikan rincian kegunaan uang tersebut, namun menurut saya tetap saja saya anggap mahal. Dan untuk masalah bingkisan, di SDIT ANNIDA ini setiap kelas dibentuk KORLAS ( Kordinasi Kelas ) yang dikelola oleh ortu murid. Dan iuran KORLAS ini kalau tak salah pula 50 ribu tiap anak, nah uang itu yang digunakan oleh KORLAS untuk memberikan bingkisan bagi guru kelas ditambah untuk keperluan kelas lainnya. Misalnya saja pada waktu bulan puasa, untuk bekal buka puasa bersama masing-masing kelas dikordinasi oleh KORLAS masing-masing kelas, juga untuk kebutuhan2 lainnya, misalnya saja ada murid atau guru yang sakit, yah..kita gunakan dana KORLAS. Tapi tidak menutup kemungkinan juga bila ada ortu yang secara individu ingin memberikan bingkisan sendiri. Gak terlihat dan terasa oleh saya tuh ada guru yang mengharapkan bingkisan. Dikasih ya.. diterima gak dikasihpun sepertinya mereka tidak menunjukkan gelagat atau sikap ingin diberi. Salam Rizka ----- Original Message ----- From: ina sastra To: [email protected] Sent: Friday, June 20, 2008 12:49 AM Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Sharing mengenai Guru sekolah Sekedar sharing mengenai sikap dan profesi guru masa kini. hhmmm....ternyata seorang pendidik zaman sekarang semakin gak jelas tujuannya jadi guru, terlalu sadis kali yah? saya mempunyai pandangan yang tidak istimewa terhadap guru-guru, maaf kenapa saya bisa bicara seperti ini? beberapa bulan yang lalu saya mengundurkan diri dari sebuah sekolah dasar negeri, meskipun pada saat itu saya baru berpredikat guru honorer (bisa dibayangkan) betapa banyak orang menginginkan profesi itu....tapi bagi saya tidak...justru saya sangat prihatin sekali melihat kebobrokan para pendidik yang ternyata mempunyai mental rendah. mungkin terdengar munafik, tapi inilah kata hati saya, saya tidak mampu berada di komunitas pendidik tetapi yang dipikirannya tidak ada visi dan misi memajukan generasi bangsa malah justru membuat kemerosotan mental. guru-guru zaman sekarang lebih mengharapkan materi,hadiah dari orang tua murid pada saat kenaikan atau menjelang hari raya,apalagi saya juga sebagai orang tua murid merasakan kenapa mesti menjadi suatu keharusan saya harus memberi sebuah bingkisan dan apakah akhirnya akan ada korelasi antara pemeberian hadiah dan nilai pelajaran? saya tidak pernah mau membiasakan memberi hadiah untuk meng-upgrade nilai anak saya disekolah buat saya itu tidak benar. kecuali kalau memang saya ingin memberikannya itupun tidak perlu berpengaruh pada nilai. para guru sering mengeluh uang yang didapat tidak sesuai..hingga ada oknum guru yang suka mencari obyekan seprti memeberikan les-les tambahan padahal jelas-jelas pemerintah menaikan gaji guru agar guru-guru tersebut tidak memberikan les diluar jam sekolah, dan itupun dengan alasan orang tua murid yang meminta. beberapa kejahatan kecil di setiap sekolah pasti sudah mengenal kata "korupsi berjamaah", pertama kali mendengar itu sepertinya lucu sekali apa yang disebut berjamaah? koq hal seperti itu koq dimaklumin yah? bukannya dana BOS atau dana BOP seharusnya di gunakan untuk kemajuan sekolah bukan untuk dibagikan untuk uang saku para guru...kan sudah ada jatahnya. maka tak heran setiap menjelang akhir bulan kepala sekolah, bagian administrasi dan Guru akan disibukkan dengan "sulapan nominal" di buku laporan. karena saya dapat merasakan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang layak tetapi apa daya kalau para gurunya mempunyai kepentingan pribadi di dalamnya maka akan sulit memajukan pendidikan ini secara benar.terutama untuk para guru SD negeri. jelas...sekolah gratis, buku gratis tetapi bukan akhirnya memeras orang tua murid dari hal yang lain..... dan kekerasan guru terhadap muridnya pun saya pernah melihatnya..dan itu yang membuat saya menjadi tidak respect akan hal itu. karena tadi merasa tidak mempunyai tanggung jawab menanamkan moral dan sikap yang baik. salam, Inasastra Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
