Kalau saya tak salah dengar, ketua BIN sempat menyebutkan inisial sang �provokator� bernama JF ( untung tidak nyebut JK, he he he� ) sebagai biang rusuh demonstrasi selasa lalu. Bahkan saking yakinnya, dibeberkan pula bahwa si FJ ini pernah bilang sebulan yang lalu kepada beliau bahwa di akhir Juni 2008 pasti ada demo besar. Lha, sudah tahu ada informasi seperti itu kok bukannya dicegah ? Atau minimal sudah ada tindakan antisipasinya ?!
Yang muncul di layar kaca, justru seakan aksi anarkisme tersebut bisa begitu leluasa dipertontonkan. Bukan hendak berasumsi negative, tetapi kesannya kok media pers �menikmati� adegan kekerasan demi kekerasan yang dipertunjukkan, seolah inilah �top picture�. Misalnya ada adegan pagar dirobohkan atau mobil dibakar, seakan insan pers yang sedang ada di lokasi kejadian hanya sekedar �saksi mata� yang tidak bertanggungjawab sebagai warga negara untuk mencegah hal tersebut. Gambar pihak keamanan yang muncul di tv malah adegan seseorang ditabrak oleh mobil patroli. Merinding juga saat saya menyaksikan �action� tersebut di breakingnews TransTV. Mungkin bang Roy Suryo bisa melacak nomor polisinya dan siapa supirnya waktu itu, khan ada rekaman tayangannya ?
