http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/03/09153031/kapolri.dilecehkan.bawahan

JAKARTA, KAMIS - Orang nomor satu di Polri, Jenderal Sutanto,
dilecehkan seorang kapolres. Polri pun mengeluarkan instruksi agar
para anggota Polri bersikap sopan kepada siapa pun.

Perlakuan kasar seorang polisi kepada atasan tertingginya itu terjadi
Sabtu, 10 Mei 2008. Menurut sumber Warta Kota, pada hari itu sekitar
pukul 23.00, Kapolri Jenderal Sutanto menelepon Kapolres Nganjuk, Jawa
Timur, dengan telepon selulernya. Sutanto menelepon untuk mengecek
situasi di wilayali Nganjuk.

Seperti diketahui, sejak awal Mei lalu Nganjuk sering disebut-sebut di
media massa karena salah satu warganya, Djoko Soeprapto, mengaku
menemukan teknik mengubah air laut menjadi bahan bakar untuk mesin.

Djoko pernah mempresentasikan temuannya itu di hadapan Presiden SBY
dan Presiden memberi nama blue energy untuk temuan Djoko. Di sisi
lain, kalangan akademis meragukan temuan Djoko. Nama Djoko makin
"tenar" karena dia menghilang saat harus memamerkan blue energy di
depan Presiden SBY.

Terkait dengan telepon menjelang tengah malam itu, Kapolres Nganjuk
AKBP Subtyanto yang menerima telepon tersebut menjawab dengan
seenaknya. Dia bahkan tak percaya si penelepon adalah pimpinan
tertinggi Polri.

Buntut dari kejadian itu, keluarlah surat teguran dari Mabes Polri
kepada para kapolda. Lalu, Kapolda Jatim secara khusus mengeluarkan
surat untuk para kapolwil dan kapolres di wilayahnya. Surat-telegram
dengan derajat kilat dan klasifikasi rahasia tersebut (biasa disebut
TR/telegram rahasia) dikeluarkan tanggal 4 Juni 2008.

Surat yang diteken Kabid Profesi dan Pengamanan Polda Jatim Kombes
Wanto Sumardi itu isinya antara lain perintah kepada para anggota
Polda Jatim agar dalam menerima telepon dari siapa pun hendaknya
bertutur kata dengar baik, sopan, dan simpatik.

Isi lain TR itu adalah tidak berpikir negatif terhadap penelepon
maupun informasi yang disampaikan penelepon. Apabila curiga si
penelepon adalah orang iseng, hendaknya tetap diterima dengan baik dan
secepatnya mengecek kebenaran identitas penelepon maupun informasi
yang disampaikannya.

Di bagian atas TR dijelaskan alasan keluarnya surat tersebut, yakni
pengalaman Kapolri menelepon ke Mapolres Nganjuk, Sabtu (10/5) sekitar
pukul 23.00, dan dijawab dengan tidak simpatik.

TR tersebut menjadi pembicaraan sejumlah kalangan di Nganjuk. Saat
dikonfirmasi melalui telepon seluler, AKBP Subiyanto sedikit terkejut
ketika ditanya soal telepon tengah malam itu. Pada kesempatan lain,
Subiyanto membantah bahwa Kapolri menelepon dirinya pada 10 Mei lalu.
Subiyanto juga mengatakan bahwa pemindahannya ke PTIK, Jakarta,
gara-gara bersikap tidak sopan kepada Kapolri hanyalah isu belaka.

"Itu hanya isu. Pemindahan tugas saya tak ada kaitannya dengan
telegram Kapolri. Kan telegram itu berisi arahan dan pedoman untuk
menerima telepon. Kecuali kalau saya mendapat telegram tersendiri yang
berisi pemindahan tugas," kata Subiyanto.

Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Sulistiyo Ishak membantah
bahwa Kapolres Nganjuk dimutasi karena ada anak buahnya yang menerima
telepon dari Kapolri dengan tidak sopan. Menurut Ishak, mutasi bagi
anggota Polri adalah hal biasa selama yang bersangkutan belum pensiun.

"Mutasi hal biasa dan merupakan tour of area dan tour of duty serta
sebagai bentuk penyegaran. Saya tidak mau berandai-andai soal itu,"
ujar Ishak saat dihubungi semalam. (Warta Kota/wid/Suraa)


Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke