Om Teguh...Betul Om, beruntung ada subsidi kamar yang sangat kecil meski saat itu tidak kami gunakan karena untuk memperoleh subsidi tersebut pasien harus di kelas III, dan kami tidak mungkin membiarkan ayah masuk di kelas III. Itulah yang saya pikirkan Om, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang miskin ??? � Ada dua hal yang saya pikirkan dalam hal ini : � 1. Biaya rumah sakit yang sangat mahal 2. Moral aparat medis (meski banyak profesi dan jabatan lain di negeri ini yang moralnya sangat saya ragukan). � Gini Om, saya agak-agak lupa karena sudah hampir 6 tahun kejadiannya. Uji Cadmium (kalau gak salah ini ujinya) pada ayah saya sangat tinggi, sangat jauh di ambang normal (nanti kalau pulang ke rumah Ibu saya cari-cari lagi filenya). Mestinya kan dapat diketahu "prospek" dari kondisi ini...Saya setuju tidak seorang pun bisa memastikan waktu kematian seseorang dengan tepat...Namun setelah ayah wafat dan saya bicara-bicara dengan beberapa teman tentang rumah sakit khusus kanker tersebut..Ada teman saya yang keluarganya juga punya pengalaman serupa dan bilang : "Kalau di rumah sakit tersebut, pasti langsung disuruh operasi...terus kemo (kalau masih hidup)...dan...tak lama kemudian wafat...Kalau besok diduga mau wafat, maka harus dioperasi hari ini juga...Yang penting HARUS DIOPERASI..." � Kebenaran celetukan teman tersebut mungkin tidak sepenuhnya benar tapi saya yakin tidak sepenuhnya salah.
--- On Thu, 7/3/08, Teguh Santoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Teguh Santoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Bukan Cuma Orang Miskin Dilarang Sakit! To: [email protected] Date: Thursday, July 3, 2008, 3:18 AM Alhamdulillah pak, mestinya bapak bisa bersyukur karena masih bisa membiayai pengobatan dan operasi tersebut. Masih bisa memiliki fasilitas subsidi kamar, banyak kok pak orang2 yg lebih tidak beruntung, tidak memiliki fasilitas apapun. Dan sepertinya tidak ada seorangpun yang bisa memastikan kapan pastinya ajal akan datang. *Kalau tahu akan segera meninggal (berdasarkan stadium kankernya), mending tidak usah dioperasi, saya bawa umroh dan keliling dunia saja untuk menyenangkan hati beliau.* Tim dokter dgn pengetahuannya tentunya harus terus berusaha pak. Maafkan jika kurang berkenan salam teguh santoso
