Pemikiran Tan Malaka ini sesungguhnya merupakan interpretasi klasik 
dari Marxian yang agak ketinggalan jaman dan khas abad 19, hanya 
saja Tan Malaka mampu menerapkannya dalam situasi Indonesia. Ide 
brilian Tan Malaka yang sesungguhnya adalah konsep minimum program 
Indonesia Merdeka 100% yang kemudian didukung penuh oleh Jenderal 
Sudirman. Dan salah satu pembungkaman sejarah di Indonesia adalah 
pengkaburan sebuah titik juang dimana Jenderal Sudirman sesungguhnya 
berada di jalur kiri Indonesia. Jadi Jenderal Sudirman adalah salah 
satu Jenderal berpaham Kiri di Indonesia yang tertutup kabut sejarah.

Kesalahan Sukarno dalam menerima konsepsi KMB sebagai kompensasi 
mengakhiri perang inilah yang kemudian ditebus Sukarno dengan 
konsepsi Demokrasi Terpimpin 1959-1966 yang kemudian meminta nyawa 
Sukarno sendiri sebagai korban tapol Suharto.

ANTON

--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh ZULHASRIL NASIR
> 
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/07/00194311/tan.malaka.dan.k
ebangkitan.nasional
> 
> 
> Ada satu soal yang selalu mengganjal kebanyakan orang apabila
> membincangkan Tan Malaka, yakni apakah dia seorang nasionalis atau
> komunis? Jika pertanyaan itu terjawab, sangatlah relevan 
menghubungkan
> pemikiran dan sosok Tan Malaka pada hari- hari peringatan 
Kebangkitan
> Nasional sekarang ini.
> 
> Manusia Tan Malaka adalah contoh pemimpin yang berjuang dan 
melahirkan
> gagasan bernas untuk kesejahteraan bangsa tanpa pamrih. Secara
> sosiologis, Tan Malaka bukanlah seorang komunis, tetapi perantau 
yang
> telah dibekali dasar keislaman yang kuat dari alam Minangkabau.
> Sebagai perantau berpendidikan, ia berpikir dinamis, selalu
> mempertanyakan dan mencari gagasan baru untuk bangsanya yang sedang
> dijajah. Mempertanyakan adalah melakukan kritik tentang apa saja di
> luar logika dan kepatutan, dan karena itu pula Tan Malaka sangat
> percaya kepada kekuatan dialektika berpikir persoalan 
kemasyarakatan
> dapat dipecahkan dengan baik.
> 
> Bagi para pelajar Islam di Ranah Minang (Padang Panjang, 
Bukittinggi,
> dan Padang) yang gandrung perubahan tahun 1920-an dan masuknya
> pemikiran modern Islam Muhammad Abduh dan Kemal Ataturk dari Timur
> Tengah, rasionalitas gagasan Tan Malaka bagai yang ditunggu-tunggu.
> Pemuda dan pelajar memakainya sebagai upaya menentang penjajahan 
dan
> pemikiran kolot. Berpikir maju dan radikal ini bagaimanapun
> menimbulkan konflik di antara para tokoh pembaru pendidikan 
sebelumnya
> dan para pelajar Islamâ€"dan para pakar menyebutnya para pelajar
> tersebut bagian dari Kiri-Islam dan tentu saja bukanlah berfaham
> komunis, atau sebagaimana komunisme yang kita persepsikan dewasa 
ini.
> 
> Sebagaimana dikatakan Hassan Hanafi al Yassar al Islam tentang
> Kiri-Islam, sebenarnya prinsip sosialisme yang ada dalam Al Quran 
dan
> Nabi Muhammad telah mengkhotbahkan sejak 12 abad sebelum Marx 
dilahirkan.
> 
> Sambutan luar biasa pelajar Thawalib di Sumatera Barat terhadap Tan
> Malakaisme tanpa kehadiran sosoknya di sana membuktikan juga adanya
> benang merah keislaman, keminangkabauan, dan Tan Malaka. Karena 
itulah
> Partai Rakyat Indonesia (Pari), Volksfront, Persatuan Perjuangan,
> adalah bagian sikap perjuangan pemuda di sana.
> 
> Ketidaksetujuan Tan Malaka terhadap pemberontakan Silungkang (1927)
> dan pemberontakan Banten (1926)â€"yang sesungguhnya adalah gerakan
> pemuda Kiri-Islam bercampur dengan unsur PKIâ€"menunjukkan Tan 
Malaka
> sebenarnya lebih rasional dan bukanlah bagian dari PKI, sebagaimana
> yang dituduhkan Pemerintah Hindia Belanda.
> 
> ”Madilog”
> 
> Dialektika berpikir itulah yang menjadi landasan berpikir Tan 
Malaka
> dalam buku Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika). Katanya, 
logika
> dan dialektika bergantung pada materialisme, sebaliknya 
materialisme
> bersangkut paut dengan dialektika dan logika.
> 
> Matter atau benda memiliki sifat bergerak takluk pada hukum gerakan
> (dialektika) dan hukum berhenti, yakni logika. Dasar berpikir
> demikianlah yang membuat Tan Malaka berbeda pendapat dengan 
Stalin. Ia
> lebih menitikberatkan cara berpikir dalam berjuang. Cara berpikir 
yang
> dimaksud adalah dinamika hukum berpikir, suatu yang berubah 
mengikuti
> dialektika. Madilog merupakan cara berpikir untuk menjawab 
persoalan
> masyarakat tanpa dogma.
> 
> Jika Stalin menganggap pan-Islamisme merupakan bentuk kolonialisme,
> Tan Malaka membantahnya sebagai kekuatan dan ideologi. Menurut Tan
> Malaka, tidaklah perlu menerjemahkan pan-Islamisme sebagai urusan
> khalifah di dunia Arab saja, tetapi juga perjuangan kemerdekaan 
untuk
> bangsa-bangsa Muslim yang tertindas di mana saja. Bukti praktik 
cara
> berpikir itu tampak pula ketika PKI memberontak di Madiun (1948), 
Tan
> Malaka dengan Persatuan Perjuangan tetap tidak menjadi bagian dari
> Muso dan Alimin. Dia dan pasukannya tetap berperang menghadapi 
agresi
> Belanda. Maka sangat disayangkan TKR waktu itu kemudian 
membunuhnya di
> sebuah desa di Kediri (1949) dan menghilangkan jejaknya dengan 
sengaja.
> 
> Selama 20 tahun berpetualang sebagai orang pelarian dan 10 tahun di
> Tanah Air, lalu melahirkan gagasan-gagasan brilian, seperti Naar de
> Republiek Indonesia (1924) yang mendahului Hatta dan Soekarno
> (Mencapai Indonesia Merdeka, 1930 dan Kearah Indonesia Merdeka, 
1932),
> Madilog, Gerpolek, Merdeka 100%, Dari Penjara ke Penjara, Massa 
Aksi,
> Uraian Mendadak, dan puluhan tulisan lainnya, bertumpu pada 
bagaimana
> membebaskan bangsanya dari kolonialisme. Tan Malaka tidak hanya
> bicara, tapi dengan bukti, ia bukanlah pemimpin flamboyan dan 
gagah di
> podium, tetapi ia membangun sekolah rakyat di Semarang, Purwokerto,
> Bandung, Yogyakarta, dan Batavia, selama dua tahun di Jawa sebelum
> dibuang ke Belanda (1922).
> 
> Tan Malaka konsekuen dengan sikapnya yang tidak memercayai politik
> kompromi (diplomasi) yang dijalankan Hatta dan Syahrir yang hanya
> menguntungkan Belandaâ€"bagi saya cukup sudah bukti Tan Malaka 
adalah
> seorang nasionalis sejati daripada seorang komunis. Kita harus
> menerimanya bahwa marxisme telah juga dipakai para pejuang yang 
lain
> (Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain-lain) dalam memerdekakan 
bangsa.
> 
> Merdeka 100 persen adalah sikap politik dan ekonomi Tan Malaka yang
> dapat disarankan menjadi bahan bacaan bagi para pemimpin sekarang 
ini.
> Berdaulat sepenuhnya secara politik dan ekonomi, artinya bebas dari
> intervensi kekuasaan dan kekuatan ekonomi asing sebagaimana yang
> dinyatakan Persatuan Perjuangan di Purwokerto 5 Januari 1946, 62 
tahun
> lalu.
> 
> Rakyat Indonesia jangan terancam kemerdekaan dan kemakmurannya. 
Barang
> impor tidak harus menyaingi industri dalam negeri. Kalau perlu
> dilarang sama sekali. Kekayaan penjajah Belanda yang telah berkuasa
> selama 350 tahun tidak perlu lagi dihiraukan dengan diplomasi,
> pemerintah haruslah menyita kekayaan itu bagi kemakmuran rakyat.
> Karena itulah, untuk mengawasi modal asing, kita harus merdeka 100 
persen.
> 
> Dalam bidang ekonomi, jelas sekali Persatuan Perjuangan/ Tan Malaka
> mempertanyakan Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan: (1) Perekonomian
> disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan; 
(2)
> Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
> hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; (3) Bumi, air, dan
> kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
> dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itu secuil
> contoh konsep kedaulatan politik dan kedaulatan ekonomi Tan Malaka
> yang selalu aktual sampai sekarang.
> 
> Apakah yang dimaksud dengan ”dikuasai” itu adalah dikelola 
negara?
> Kalau begitu, apakah kelak negara akan menerima modal asing 
memasuki
> perusahaan yang dikuasai negara? Kalau ya, bagaimana kedudukan 
modal
> asing itu terhadap negara?
> 
> Sejarah telah membuktikan, era Soekarno tanpa/sedikit modal asing, 
era
> Soeharto perekonomian dikuasai ”keluarga” dan kapitalis konco 
(ersatz
> capitalism), dan era setelah reformasi ekonomi serta bumi, air, dan
> kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dijual dan dikuasai modal
> asing. Rakyat di mana? Pikiran-pikiran Tan Malaka tetap masih 
relevan
> untuk dirujuk kembali para pemimpin kita.
> 
> ZULHASRIL NASIR Guru Besar UI
>


Kirim email ke