Tolong pisahkan konsepsi kiri ala Suhartorian dengan konsepsi kiri
dalam konteks sejarah yang murni. Saya mau bertanya apa Indonesia
diniatkan menjadi negara Kapitalis? tentunya tidak, bahkan Sutan
Sjahrir saja ditangkap pada peristiwa Razia Sukiman bulan Agustus
1951 karena adanya sinyal sindrom komunis dari MacCarthy yang
dikoridor oleh Ahmad Subardjo dan Sukiman Wirjosandjojo dan yang
perlu dicatat pula, pembongkaran dompet bantuan MSA tidak melalui
jalur kiri yang memang sudah habis akibat politik Hatta di tahun
1948 tapi dibongkar djustru oleh Natsir yang tidak setudju Indonesia
menjadi alat Amerika.

Djuga perlu diperhatikan tindakan Sudirman di Solo tahun 1948 ketika
konflik di Djembatan Djebres yang merembet pada penembakan-
penembakan liar yang terdjadi antara Pasukan TNI Siliwangi dan TNI
dari unsur Djawa Tengah dimana Slamet Rijadi sendiri berdiri di
belakang unsur Djawa Tengah yang menolak ReRa namun akhirnya
mematuhi pemerinntah. Sudirman sendiri marah besar karena tidak ada
tindakan saling menjaga dari masing-masing unsur kekuatan, kemarahan
Sudirman sendiri kemudian mengakibatkan eskalasi penangkapan meluas
sampai pada gongnya penangkapan dan menembak mati Ahmad Jadau yang
dituduh korupsi untuk mengalihkan perhatian dari tindakan-tindakan
aksi politik yang memanas.

Pada tahun 1949 dan itu juga ada dalam film versi Orde Baru, Djanur
Kuning, bahwa Sudirman menolak turun gunung dan diisukan dalam
konteks sejarah ala Nugrohonian (Aliran Nugroho Susanto)bahwa
Sudirman marah pada Sukarno. Padahal bila digali kembali dalam makna-
makna ucapan Jenderal Sudirman pada kurir kiriman Sri Sultan
Hamengkubuwono IX yang mengatakan bahwa "Saya tidak menyukai
kebidjakan pemerintah" padahal siapa pemerintah itu? Pada waktu itu
Sukarno tidak memiliki wewenang politik sama sekali, setelah
djatuhnja Amir Syarifudin akibat klik Masjumi-PNI praktis hanya
Hatta dan Sjahrir yang pegang kendali pemerintahan. Namun memang
sejak awal Sjahrir tidak menginginkan perang berkepanjangan karena
menurut Sjahrir bila perang berlangsung selama lebih 10 tahun tujuan
Indonesia bersatu justru akan pudar karena kelak pemerintah pusat
akan menghadapi banyak unsur kekuatan non pemerintah. Apalagi
Sjahrir melihat perkembangan di Vietnam dimana dengan kecerdasannya
yang luar biasa Sjahrir mengatakan "kelak Vietman akan menjadi Proxy
war antara Soviet Uni dengan Amerika Serikat. Sementara Tan Malaka
lebih awal sudah mengatakan bahwa momentum 1945 adalah momentum yang
terlalu terburu-buru, tapi berkat Sjahrir Tan Malaka disadarkan
bahwa rakyat berdiri sepenuhnya dibelakang Sukarno, maka sejak 1946
terjadilah pertarungan paling sengit memperebutkan Sukarno di tahun
1946-1949 dan sejarah membuktikan Tan Malaka kalah dan dibunuh oleh
pasukan Jenderal Sungkono karena diduga Tan Malaka akan mengganggu
kesepakatan Meja Bundar.

Apa ada yang membantah dalam konteks sejarah disini, bahwa Sudirman
lebih ke Tan Malaka daripada ke Sjahrir. Saya katakan Sudirman lebih
dekat dengan Tan Malaka, bahkan kedekatannya jauh lebih intim
ketimbang kepada Sukarno. Hanya sadja blunder politik keterlaluan
dari Muso yang termakan provokasi sepihak lalu menyerang pribadi
Sukarno dengan mengatakan Bung Karno adalah kolaborator Djepang
mengakibatkan Sudirman harus teken perintah menghabisi Muso, Dan
jangan salah Muso-Amir sendiri merupakan musuh politik nomor satu
Tan Malaka, mangkanya untuk menghabisi Muso-Amir Tan Malaka
memerintahkan Dokter Muwardi untuk membentuk front pertempuran di
garis timur Madiun, sementara di garis barat adalah Front Pagar
Betis Siliwangi yang terkenal itu.

Tan Malaka jelas djauh dari unsur Stalinis, sedjak kegagalan
pemberontakan akibat salah informasi dari Darsono, Semaun dan Alimin
yang dipancing darah muda anak-anak Silungkang tahun 1926, Tan
Malaka menyadari bahwa ada yang salah dalam sistem Stalinis. Ada
ruang kosong sejarah sendiri yang tidak pernah disebutkan para ahli
biografi Tan Malaka, apa yang Tan Malaka lakukan di Malaya,
Singapura, Taiwan, Hong Kong dan Djakarta? kebanjakan hanya menulis
sejarah Tan Malaka dalam pemikiran Cililitan, bukan api pikiran Tan
Malaka sewaktu di luar negeri. Saja rasa Madilog sendiri tidak
menggambarkan arti penting Tan Malaka dalam dunia kecambah Marxisme
tapi djustru Minimum Program yang menjadi tandingan dari Pamflet
Sjahror berjudul Perdjoangan Kita-lah yang menjadi Masterpiece dari
gagasan Tan Malaka tentang KeIndonesiaan.

Communist has Expired? saja mau tanya apa ada ruang pemikiran yang
kedaluwarsa? sejarah selalu bergerak dalam ruang dialektis, ia
selalu berputar dan memiliki timbal baliknya, berpikir dengan
menamatkan sebuah garis pemikiran dan gagasan maka justru anda
terjebak pada dinamikan pemikiran yang selalu hidup.


ANTON




--- In [email protected], ARIEF RACHMAN
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Boleh jadi anda benar Mr.Anton, kalau Pak Sudirman dahulu berada
di jalur kiri atau lebih tepatnya mengalami blunder kanan-kiri di
kepanduan Hisbul Wathon, tapi rasanya sekarang sudah berada dijalur
kanan dan malahan telah menjadi ornamen kota Jakarta nan kanan, kalo
nggak percaya silahkan coba anda perhatikan patung beliau di Jalan
Jend Sudirman berikut latar belakang gedung-gedung neo-kapitalis nan
berkah dan damai kontras dengan cahaya langit nan membiru. Lha wong
hormatnya saja pakai tangan kanan kok dan yang di tangan kiri cuma
tongkatnya, biasa dipakai mantan Daidancho itu buat mentungin
pemberontakan PKI-Muso 18 September 1948 sebelum kuman tuberkulosis
menggerogoti paru-paru beliau selama berbulan-bulan di tengah hutan
hingga pada akhirnya mengalahkan beliau pada tanggal 29 Januari 1950.
>
> Communist has expired!

Kirim email ke