www.kompas.com/kompas-cetak/0507/09/swara/1870056.htm

arsip kompas 9 juli 2005

Liku-liku Laki-laki yang Tak Pernah Laku-laku
(Tanggapan untuk ”Tubuh Berminyak Ade Rai")
Wanda F Muslim

Saya tergelitik menanggapi artikel Bung Yusi Avianto Pareanom (Kompas, 13 Juni 
2005) tentang pro-kontra keikutsertaan Puteri Indonesia Artika Sari… (aduh 
ternyata saya juga lupa namanya).

Benar kata Bung Yusi, bagaimana kita mengharapkan ”sang putri” bisa mendongkrak 
pariwisata, sementara namanya saja tidak nyantol di kepala kita?

Keprihatinan kelompok yang protes terhadap ajang ini tidak lepas dari seperti 
yang penulis katakan, yaitu eksploitasi dan ekshibisionis. Seperti diketahui 
ada tiga prinsip utama dalam ajang kecantikan tersebut, yaitu beauty, brain, 
dan behavior (kabarnya peserta dari Indonesia dibekali satu lagi ”pemberi 
restu” dengan B keempat, yaitu belief).

Secara umum mungkin kita setuju dengan 3B itu meskipun kita tidak tahu 
keseluruhan proses penilaian. Khusus untuk 2B terakhir kita hanya diberi 
informasi sedikit sekali yang sudah terpotong-potong. Yang pasti, saat kontes 
diperlihatkan penekanannya lebih banyak pada kecantikan. Mereka dikatakan 
cantik jika semua pakaian yang dipakai serasi dengan tubuh.

Sayangnya, definisi cantik masih sangat bias. Ukuran cantik adalah jika 
memiliki tubuh tinggi, langsing, dan berkulit putih. Persis tipikal perempuan 
Barat. Lihat saja produk kecantikan yang selalu menggiring pemirsa pada pesan 
white is beautiful. Apakah putih identik dengan cantik? Saya pikir pendapat ini 
tidak adil.

Kembali pada standar cantik yang tidak hanya bias jender tetapi juga bias ras, 
bagaimana dengan peserta yang tidak berasal dari Barat? Kita bisa lihat mereka 
pasti lebih mendekati kriteria di atas. Misalnya peserta dari Afrika Selatan 
yang asli ”bule”. Tidak bisa dimungkiri ini adalah ajang eksploitasi, meskipun 
pesertanya melakukan secara sukarela.

Dunia perempuan pun tidak terlepas dari pro dan kontra tentang kriteria cantik. 
Gerakan feminis yang lebih suka mendahulukan brain dan behavior daripada beauty 
menolak konsep cantik yang diciptakan dunia kapitalis yang sesungguhnya 
berorientasi seksual patriarkis.

Di Australia bahkan di Amerika sebagai kiblatnya kapitalis, gerakan membuat 
ajang tandingan untuk protes terhadap Miss Universe yang bias tersebut. Pesan 
yang disampaikan adalah cantik itu tidak harus kurus, tinggi, langsing, putih, 
dan seksi. Cantik tidak dapat diukur oleh selera penilai (laki-laki), melainkan 
sangat individual. Setiap orang berhak yakin dirinya cantik tanpa harus ada 
tekanan dari luar. Cantik lebih berorientasi pada sikap dan kepribadian.

Peserta dalam ajang ”Miss Tandingan” dapat dilihat dalam berbagai tampilan, 
mulai dari sangat kurus, gemuk sekali, berkulit hitam, putih, coklat, pendek, 
tinggi, dan seterusnya. Penilaian ditekankan pada sikap sejauh mana seseorang 
dapat menerima dan menghargai kekurangan dan kelebihan dirinya secara positif. 
Tentu saja brain dan behavior diutamakan di sini. Tidak heran jika kita dapat 
menyaksikan ada ajang Miss Biggest, Miss Clever, dan sebagainya.

Sikap kelompok yang pro terhadap eksploitasi kecantikan (seksual) mungkin akan 
melontarkan kalimat sinis ”cemburu tanda tak mampu”. Namun, tidaklah senaif 
itu. Sebenarnya sikap yang tepat adalah memberi perlawanan terhadap patriarchy 
sexual oriented tersebut. Setiap perempuan memiliki kesadaran memelihara 
kebebasan diri untuk tidak dimanfaatkan kepentingan kapitalis yang patriarkis 
sehingga eksploitasi terhadap perempuan dalam segala bentuk dapat dihindari.

Ekshibisionis antara perempuan di Miss Universe dengan laki-laki di Muscle 
Mania menurut saya tetap berbeda orientasi. Saya setuju jika dikatakan 
eksploitasi dan komersialisasi lebih memegang peran di dalam Miss Universe 
meskipun itu dikatakan hak asasi.

Saya yakin antusiasme penonton (laki-laki) pada Miss Universe lebih besar jika 
dibandingkan dengan penonton (perempuan/laki-laki) untuk Muscle Mania. Dari 
sudut eksploitasi dan komersialisasi mungkin saja liku-liku laki-laki tidak 
pernah laku-laku. Lihat saja iklan dalam produk apa pun pasti disertai sosok 
perempuan.

Dalam dunia politik pun eksploitasi perempuan tetap ada. Misalnya dalam 
kampanye setiap kali pemilu termasuk pilkada, hampir semua calon mengundang 
artis cantik untuk memeriahkan kampanye mereka. Untuk menarik dan merebut 
perhatian massa? Mengapa harus perempuan? Semua tidak lepas dari eksploitasi.

Pertanyaan kemudian mengapa perempuan mau dieksploitasi? Banyak yang masih 
beranggapan eksploitasi sama dengan pemaksaan. Bahkan ada yang berkilah selama 
itu dilakukan dengan sukarela tidak ada yang namanya eksploitasi. Tetapi, jika 
ada bayaran? Nah...

Tolak eksploitasi

Saya yakin, masyarakat yang memprotes ajang Miss Universe menggunakan alasan 
kata Timur adalah untuk menunjuk pada prinsip adat ketimuran yang sebenarnya. 
Meskipun di Jepang marak pornografi, tetapi secara tradisi mereka memiliki 
nilai budaya yang menjunjung tinggi moral dan kemanusiaan.

Apa yang sekarang terjadi di banyak negara tidak lain adalah akibat perbenturan 
budaya. Dalam teori sosial dikatakan, persentuhan antara budaya lokal dan luar 
dapat mengubah tujuan dan orientasi masyarakat ke depan. Alangkah naifnya jika 
kita mengatakan pornografi merupakan budaya Jepang. Begitu juga di India, 
ajaran seks dalam Kamasutra tidak untuk dikomersialkan. Apa yang terjadi 
sekarang di Jepang, India, Indonesia, dan banyak negara Timur lain adalah 
perubahan dan pengaruh budaya global.

Memang sulit memberi batasan pada istilah pornografi dan pornoaksi jika hanya 
membatasi pada definisi yang merangsang berahi.

Ada perbedaan pendapat pada pembuat kebijakan tentang definisi yang tak pernah 
usai yang penuh kepentingan bias jender. Inilah kelemahan itu karena yang 
sangat sensitif dengan permasalahan demikian adalah perempuan.

Perempuan adalah subjek sekaligus objek utama dalam kedua masalah tersebut. 
Selama pembuat kebijakan didominasi kelompok patriarkis yang kapitalis, 
perubahan yang tidak mengeksploitasi perempuan masih sulit diharapkan. 
Tantangan bagi gerakan perempuan untuk masuk ke dalam dunia kebijakan tersebut. 
Sudah saatnya semua perempuan bersatu melewati batas partai, agama, ras, dan 
negara untuk memperjuangkan kepentingan perempuan. Say No Exploitation!!!

Wanda F Muslim Pelajar di Research School of Social Science, The Australian 
National University-Canberra--kompas 9 juli 05


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke