Teruskan bicara, Pak Mentan. Presiden tak akan memecat Anda, malah memberi 
dukungan moral. Hehe, kalo dukungan dana, belum bisa ya. Sama-sama kere...
�
manneke
Presiden RI (Republik Impian)

--- On Wed, 7/16/08, Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Haniwar Syarif <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] lampu kuning perunggasan
To: [email protected]
Received: Wednesday, July 16, 2008, 4:28 AM






Mentan mau bicar lagi, kalau gara gara kebanyakan bicara mau di
pecat oleh PYM Presiden ya apa boleh buat.

kali ini tentang artikel MAS di Kompas hari ini. yg sy paste copy
di bawah ini.

Soal bhw kita harus punya pembibitan yg artinya dlm hal ayam punya
bibit unggul berupa Parent stock dan grand Parent stock sendiri,
rasanya mestinya di mengerti oleh semua yang bergerak di bidang
pertanian umumnya peternakan khususnya

Saya baru tahu bhw ternyata kita masih impor parent stock dan grand
parent stock dr Amrik, padahal sudah cukup lama peternakan ayam ini
dapat proteksi pemrintah. lagi pula pemain utama nya adalah pemain
muliti nasional gede.

Kalau mau maju , ya kita harus punya pembenihan unggul sendiri , yg
bibit nya sesuai dgn tanah kita dan punya produktivitas tinggi.

Tapi di era Eyang dan masih dilanjutkan sekarang kita maunya yg
quick yielding aja , dan relatip aman, ya misalnya main property atu
kalau main ternak ya cuma penggemukan aja ., yg sebenarnya tidak
menambah populasi.

Akibatnya ya peternakan kita nggak pernah maju. dan dalam keadaan
nggak maju itu berani minta proteksi pula.

Mungkin salah stau sebab enggannya main di hulu, karena butuh waktu
lama dan butuh investasi dan keahlian yg cukup banyak.. tapi tidak
bermain di hulu ..maka pastilah kita tidak akan memenangkan persaingan global.

Lalu bagaimana ?
ya bisa kita meminta pemerintah fasilitas yg lebih banyak untuk
mendukung adanya industri hulu itu.

Lalu kalau pemerintah nggak mampu ?

Harusnya kita sadar utk mencarinya bersama dgn jalan lain...

Tidak mampunya mengadakan industri hulu, membuat tidak bersaingnya
dunia peternakan.. ., tidk bersaingnya dunia peternakan budi daya,
akhirnya akan meyebabkan tidak mampunya industri value added spt
pengolahan hsl berkembang.

Y a akhirnya mati bersama.

Disatu sudut , pihak peternakan minta proyeksi tanpa bisa efisien,
sedang dilain sudut konsumen hanya akan dipaksa membeli produk tidak
efisien yg atau tidak bermutu atau mahal

Import nggak boleh , efisien nggak mampu ..jadinya rakyat keseluruhan susah..

Lalu bagaimana ?/

Lama sudah saya usulkan , bhw impor yang merupakan selisih
antara kebutuhan riil dalam negeri dikurangi kemampuan produksi
riil dlm negeri harus di bolehkan. Lalu impor ini dipajaki
sedemikian shg tidak menyebabkan industri dalam negeri mati.

Tetapi pajak impor ini harus di gunakan utk membiayai pembangunan
industri hulu peternakan kita.

Pada saat , industri peternakan sudah kuat ,maka berangsur impor
dikurangi, karena selisih antara kebutuhan dalam negeri dgn hasil
industri dlama negeri juga mengecil.

Dari dulu hal ini tidak dilakukan , duit pajak yg katanya dikenakan
utk melindungi haisl pertanian tidak digunakan utk membangun dunia
pertanian.., Entah kemana larinya... Padahal negara tetangga kita
Malaysia melakukan hal spt itu.

Dan suara utk dilakukannya spt itu mulai sering kedengaran

Misalnya, ketika baru baru ini bicara ttg Electronic Road Pricing ,
diserukan agar hasil ERP itu hanya di gunakan utk mengatasi
kemacetan di Jakarta tidak utk yg lain.

Begitupun , ketika kini ada ribut soal PE ( Pungurtan Ekspor
) ,\kelapa sawit, ada pihak yg berseru , nggak penting jumlah nya
berapa, asal PE itu dikembalikan untuk kepentingan industri sawit
agar lebih efisien dan lebih berkembang.

Jika konsep ini dijalankan, dan tidak asal proteksi melarang impor ,
insya Allah ada pertemuan antara kepentingan konsumen dan produsen.

Tentunya , yang harus di pentingkan adalah kebutuhan konsumen utk
penggunaan bahan baku bagi hal value added., atau konsumsi yg
merupakan bahan baku atau permintaan produsen.

Jadi impoir pakan utk indutsri peternakan, maupun impor daging utk
industri pengolahan daging.yg diutamakan.. , bukan impor utk
kebutuhan konsumtif.

Bayangkan kalau bea masuk impor jagung di gunakan utk memperoduksi
jagung di dalam negeri

dan bea masuk impor daging di gunakan utk membangun industri hulu
pembibitan peternakan.

Insya Allah kita akan maju...petani jagung unutng.., petternak sapi
untung ,pembudiaya ayam untung, pengolahan daging untung dan kahirnya
konsumen jug auntung.. gemah ripah loh jinawi..

Haniwar

<http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/16/ 00490073/ lampu.kuning. 
untuk.perunggasa n.nasional>Lampu
Kuning" untuk Perunggasan Nasional

Keputusan Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian menutup
impor super induk ayam atau grand parent stock dan induk ayam atau
parent stock dari Amerika Serikat bagai pisau. Kebijakan itu bukan
hanya "menikam" produsen bibit ayam di Amerika Serikat, tetapi juga
"menusuk" peternak unggas di Indonesia.

Diterbitkannya Surat Keputusan Dirjen Peternakan Departemen Pertanian
Nomor 01004 Tahun 2008 tanggal 1 Juli, yang menutup impor bibit ayam
broiler dan layer dari AS, membuat produsen ayam usia sehari (day old
chicken/DOC) lokal bakal kekurangan pasokan induk ayam.

Defisit pasokan bibit ayam akan membuat peternak menganggur. Mereka
tak bisa lagi mendapatkan anak ayam untuk diternakkan. Hal ini akan
berdampak kepada produsen pakan ternak, petani jagung, dan konsumen.
Memang ada alternatif sumber bibit lain, seperti jenis hubbard dari
Perancis dan hybro dari Belanda. Namun, jenis bibit ayam ini kurang
populer di kalangan peternak.

Ayam yang bibitnya dari AS tingkat kematiannya rendah, lebih tahan
penyakit, dan pertumbuhan berat badannya lebih cepat mencapai titik optimal.

Mengganti pasokan bibit akan mengganggu sistem perdagangan. Harga
ayam dan telur di pasaran harus disesuaikan, begitu pula margin
keuntungan peternak harus ditekan.

Di sisi lain, membiarkan bibit ayam AS yang tertular virus flu burung
H7N3 masuk ke Indonesia berarti mengundang masalah baru.

Memang virus H7N3 belum menular dari hewan ke manusia, tetapi bukan
tidak mungkin bisa terjadi. Di Belanda, virus H7N7 sudah menular ke manusia.

Makin banyak jenis virus flu burung yang ada di Indonesia, semakin
rentan pertahanan pangan dan kesehatan bangsa ini.

Ketergantungan

Sikap gamang pemerintah dalam membuat berbagai kebijakan terkait
industri perunggasan nasional menjadi indikasi semakin lemahnya
kemandirian subsektor peternakan nasional di tengah isu globalisasi.

Ketergantungan usaha perunggasan nasional tidak hanya dalam hal bibit
ayam, tetapi juga bahan baku pakan ternak. Misalnya, tepung daging
dan tulang, poultry meat meal (PMM), tepung bulu, tepung ikan, dan
bungkil kedelai.

Tiap tahun, impor bibit ayam baik layer maupun broiler mencapai
800.000 ekor. Adapun impor bahan baku pakan jenis MBM atau PMM
rata-rata 400.000 ton per tahun, tepung ikan 400.000 ton, bungkil
kedelai 1,6 juta ton, dan sebagian kecil tepung bulu.

Memang negara maju, seperti AS, Inggris, Perancis, dan Belanda, tidak
secara langsung mengontrol bisnis perunggasan nasional. Namun,
faktanya Pemerintah Indonesia tidak memiliki banyak pilihan kecuali
mengandalkan pasokan bibit ayam dari negara-negara itu.

Bangsa ini telah lalai membangun industri perunggasan yang tangguh.
Padahal, konsumsi daging ayam dan telur terus meningkat, sebagai
dampak dari suksesnya kampanye perbaikan gizi masyarakat.

Industri perunggasan yang tadinya tidak ada menjadi ada. Industri
perunggasan pun menjadi bagian penting pembangunan ekonomi dan
kecerdasan rakyat.

Perputaran bisnis industri unggas tahun 2007 untuk industri pakan,
pembibitan, dan obat-obatan mencapai Rp 30,3 miliar, penjualan daging
ayam dan telur Rp 25,07 miliar, sedangkan nilai investasi industri
pakan, pembibitan, dan peternakan Rp 21,08 miliar.

Belum lagi penyerapan jagung sebagai komponen utama bahan baku pakan,
alat-alat perunggasan, serta usaha terkait seperti industri makanan,
transportasi, pedagang ritel, dan pekerja.

Gizi masyarakat

Kesadaran masyarakat untuk memperbaiki gizi keluarga dengan
meningkatkan konsumsi daging dan telur ayam seharusnya diimbangi
dengan ketersediaan ayam dan telur dengan harga yang terjangkau
masyarakat. Namun, hal itu sulit dipenuhi apabila bangsa ini hanya
mengandalkan ayam kampung.

Padahal, upaya meningkatkan pengembangan bibit ayam broiler dan layer
di dalam negeri lewat penelitian yang andal belum dilakukan secara signifikan.

Untuk urusan bibit, Indonesia masih jadi pasar empuk bagi negara
maju. Hal yang sama juga terjadi pada subsektor tanaman pangan,
seperti padi, jagung, kedelai, dan sayur-sayuran.

Pemerintah dan perusahaan swasta nasional mengabaikan pengembangan
industri hulu perunggasan, seperti pembibitan ayam broiler dan layer
serta bahan baku pakan ternak.

Padahal, dua jenis industri ini memegang peranan penting bagi
kelangsungan industri perunggasan nasional yang mandiri dan tak
bergantung pada impor.

Di tengah sikap abai pemerintah mengembangkan industri unggas di
hulu, peternakan ayam kampung didera berbagai masalah besar, seperti
wabah flu burung. Praktis, industri perunggasan didominasi impor.

Padahal, saat ini impor pun sedang menghadapi masalah, yaitu wabah
flu burung, yang merebak di AS dan Belanda.

Menata ulang

Larangan impor bibit ayam dari AS, yang dilandasi alasan adanya wabah
virus flu burung H7N3, memang akhirnya dicabut. Impor ayam dari AS
pun dibuka kembali per 12 Juli 2008.

Namun, kejadian ini seharusnya menjadi pelajaran untuk berbenah,
menata perunggasan nasional agar bisa mandiri.

Rencana besar itu bisa dilakukan jika pemerintah dan swasta
berkomitmen mengembangkan usaha pembibitan induk ayam, super induk
ayam potong, dan layer dalam negeri. Untuk itu, peran lembaga
penelitian harus dikedepankan.

Kalangan swasta nasional harus didorong mengembangkan usaha
pembibitan ayam. Agar mampu bersaing dengan industri pembibitan
multinasional, mereka harus diberi fasilitas khusus, seperti
kemudahan mengakses pasar serta dukungan permodalan yang memadai.

Kampanye agar masyarakat senang mengonsumsi ayam kampung juga harus
digalakkan agar ekonomi pedesaan kembali bergerak.

Bagaimanapun, meningkatnya konsumsi ayam kampung akan mendorong
masyarakat gemar memelihara ayam kampung. Kegiatan itu pada
gilirannya akan memberi tambahan pendapatan bagi masyarakat.

[Non-text portions of this message have been removed]










Kirim email ke