Sungguh meyedihkan membaca KOMPAS 2 hari ini. Dalam 2 hari berturut-turut KOMPAS memuat tulisan mengenai kurangnya susu formula bagi anak-anak dan balita (tanggal 16 Juli 2008: Jatah Susu Dikurangi) Bahkan pada edisi hari ini (17 Juli 2008: Anak Balita Terancam Kekurangan Gizi) seorang ahli gizi, Tirta Prawita Sari, menyamakan komposisi dari ASI dengan susu formula.
Hal ini sangat membuat rancu dan membelokkan fakta yang ada. ASI tetap jauh lebih baik. Solusi dari Tirta Prawita Sari juga sangat aneh. Indonesia sudah memiliki banyak sekali pabrik susu formula, masih harus membuat lagi? Harusnya solusinya adalah pemerintah membuat program relaktasi (menyusui kembali) dan meningkatkan pengetahuan publik akan ASI. Karena terlalu banyak mitos dan kesalahpahaman mengenai manfaat ASI, dan saya menilai apa yang dimuat oleh KOMPAS hari ini sangat mengecilkan arti ASI. Ini bisa disalahartikan oleh banyak pihak, karena yang memuat adalah harian sebesar KOMPAS. Saya mohon dengan sangat untuk membuat tulisan lanjutan untuk mengklarifikasi hal ini. Cari narasumber yang bisa memberikan masukan yang lebih obbjektif dan tidak menyamakan ASI dengan susu formula. Seorang ahli gizi seharusnya mengetahui bahwa ASI tidak tergantikan dengan susu formula yang paling mahal sekalipun. Salam, Nia Umar Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) www.aimi-asi.org
