O...keleru Mas Hendra Kusumah, sebab :
1. Saya yang golput ini bukan bagian dari yang ga lulus ujian, lah wong saya ra 
melu ujian kok ! lagi pula saya bukan juga bagian dari anak yang malas belajar 
menjelang ujian sebagai mana analogi anda sebelum ini.
2. Memang, kelompok golput ga bakalan bisa dikonsolidasikan apalagi 
dikondisikan dengan cara-cara konvensional yang ada selama ini, kenapa ? golput 
itu lahir dari kesadaran politik ybs Mas; golput itu berasal dari orang-orang 
mandiri baik secara ekonomis maupun secara politis, sehingga ektrimsnya mereka 
itu dalam kesehariannya ga membutuhkan pemerintahan (gemblek) macam selama ini 
kok,  karena itu kekuatan golput itu baru akan bergerak secara otomatis tanpa 
komando apabila muncul sesuatu yang menurut kesadaran politik mereka saatnya 
mereka harus berpartisipasi aktip.
3. UAN tidak kehabisan peserta, he he he...ya jelas aja atu Mas, lah wong no 
choice kok ! tapi saya haqqul yakin jauh didalam lubuk hati anda, anda paham 
betul bahwa tujuan mulia dari pendidikan tidak akan pernah tercapai hanya 
dengan ngotot memaksakan UAN !
UAN itu hanya menghasilkan angka-angka diatas selembar kertas bernama "Ijasah" 
gombal ! kalo bilang UAN secara otomatis dapat meningkat mutu pendidikan.

Salam hangat,
Suhaimi


  ----- Original Message -----
  From: Hendra Kusumah
  To: [email protected]
  Sent: Thursday, July 17, 2008 12:18 AM
  Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Rizal Mallarangeng for President


  Persis! Jadi paling-paling, jika dianalogikan dengan ujian, maka golput itu
  ya bagian yang tidak lulus! Masalahnya tidak ada seorangpun bahkan sang
  penggagas calon independen (lebih tepatnya "perseorangan") sekalipun macam
  Fadjroel Rahman bisa mengonsolidasi kalangan golput. Betul gak Bung Suhaimi?

  Banyak orang sering "wishful thinking" bahwa meningkatnya jumlah golput
  dianggap sebagai sebuah peluang untuk meraup suara bagi partainya atau bagi
  dirinya (baca: calon perseorangan). Padahal kalau kita mau bedah, atraktor
  dalam tubuh golput itu terlalu banyak dan sudah barang tentu akan sulit
  memetakan sistemnya. Anda mungkin harus mendeliver sejuta isu untuk bisa
  menarik golput menjadi sebuah gerbong baru.

  Tapi ada satu yang menggelitik saya, ternyata UAN yang ditentang
  habis-habisan itu tak pernah kehabisan peserta. Sama halnya dengan gagalnya
  prediksi sejumlah pengamat soal bakal meningkatnya jumlah golput pada
  pilkada Bali dan Maluku.


Kirim email ke