Sangat menarik artikel ini, soalnya pada bulan Juni yang lalu saya juga 
mengikuti "Wellness Training" tersebut untuk para pekerja di INGO 
(International Non Government Organisation). Sebagai pegawai sosial juga banyak 
mengalami trauma didaerah-daerah yang tertimpa bencana alam. Seperti Tsunami di 
Aceh. Dampak dari tsunami juga sangat membekas bagi sukarelawan. Karena sewaktu 
sampai diderah yang terkena bencana sering melihat hal-hal yang sangat 
menyedihkan, ataupun mengerikan. hal tersebut membuat para sukarelawan atau NGO 
people merasa menjadi tanggung jawab meeka, dan jika tidak bisa menyelesaikan 
tugas dengan baik, sering menjadi pemurung dan merasa bersalah. Akhirnya 
mengalami "stress" yang cukup berat karena tetap dibayang-bayangi oleh kejadian 
yang mereka rasakan sebagai tanggung jawab mereka untuk menanggulangi-nya dan 
merasa gagal dalam tugasnya.
 
Wellness raining juga bagus untuk para pegawai dikantor-kantor biasa, karena 
kita bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi, misalnya dalam 
perjalanan kekantor. Jika macet berat, kita sudah berpikir sebelumnya untuk 
mempersiapkan mental yang kuat dalam menghadapi kekurang ajaran ara pengendara 
sepeda motor. Anggap saja mereka  itu "lalat hijau" yang sering bisa 
menjengkelkan. Maka hati kita sudah siap dan kita bsa bernyanyi dijalan dalam 
menghadapi kemacetan dan juga jika kendaraan umum tidak memberikan pelayanan 
yang selayaknya, mental kita sudah disiapkan.
 
Begitulah, di Indonesia ini selayaknya setiap orang harus melalui "wellness 
training". Namun bgi koruptor mah enggak perlu, mereka tidak akan mempedulikan 
apapun yang terjadi disekitarnya. Masyarakat mengantri beras, minyak tanah dll, 
tetap saja tanpa perasaan malu, mencuriuang rakyat! Sorry OOT.
 
Hello Bang Abdullah Alamudi, apa kabar? Udah lama enggak bertemu ya? Salam 
untuk Pia.
 
Regards,
Yuli

--- On Wed, 7/16/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Jurnalisme dan Trauma, Penting Tapi Kurang 
Dipedulikan
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 16, 2008, 1:24 PM






http://www.kompas. com/read/ xml/2008/ 07/16/21394963/ jurnalisme. dan.trauma. 
penting.tapi. kurang.dipedulik an

JAKARTA, RABU - Walaupun Workshop Jurnalisme dan Trauma kurang
mendapat respon dari wartawan dan pengelola media massa, namun dari
pemikiran yang mengemuka dalam diskusi yang digelar Yayasan Pulih,
Rabu (16/7) di Gedung Dewan Pers, Jakarta, materi tentang jurnalisme
dan trauma ini dinilai perlu masuk kurikulum pendidikan pers dan atau
komunikasi. 

"Profesi jurnalis memiliki tantangan dan risiko yang dapat mengganggu
keseimbangan dirinya baik sebagai pribadi maupun sebagai profesional.
Tantangan dan risiko ini terlihat terutama ketika meliput berita
berdampak traumatik, misalnya meliput di daerah konflik, meliput
kerusuhan, peristiwa penyebaran penyakit menular yang ganas,
kelaparan, kekeringan, teror, bencana alam dan sebagainya, " kata
Koordinator Umum Yayasan Pulih, Irma S Martam. 

Psikolog di Yayasan Pulih, Nelden Djakababa, mengatakan, karena tidak
siap banyak jurnalis mengalami konflik batin dalam menghadapi obyek
peliputannya, bahkan hingga risiko kehilangan nyawa. "Dampak traumatis
tidak saja dapat dialami oleh jurnalis peliput berita. Banyak sekali
produk tayangan media massa yang sangat potensial berdampak traumatis
terhadap masyarakat luas, misalnya tayangan kekerasan dalam berita,
sinetron, dan tayangan korban bencana yang ditampilkan secara polos,"
tandasnya. 

Harry Bhaskara, wartawan senior di The Jakarta Post yang pernah
mengikuti pelatihan jurnalisme dan trauma di Australia, mengatakan, di
luar negeri materi ini gencar disosialisasikan dan ada banyak wartawan
yang mau melibatkan diri untuk membantu sesama wartawan dan masyarakat
untuk memulihkan rasa traumatik mereka. 

"Di Indonesia belum ada wartawan yang terjun langsung
menyosialisasikan masalah jurnalisme dan trauma ini. Padahal,
Indonesia rawan konflik, rawan bencana dan kriminalitas yang bisa
menyebabkan trauma," katanya. 

Ketika ada tawaran dari Yayasan Pulih untuk menjadikan hal ini masuk
ke kurikulum, Direktur Lembaga Pers Dr Sutomo (LPDS) Atmakusumah
Astraatmadja minta hal itu dipertimbangkan, sejauh mana pentingnya
persoalan itu perlu masuk ke kurikulum. "Persoalannya, pers di
Indonesia dewasa ini lebih sibuk dan tertarik soal Pilkada, soal
politik, soal ekonomi, dan banyak lainnya," katanya. 

Maskun dari bagian pendidikan di LPDS mengatakan, materi jurnalistik
dan trauma ini bisa masuk ke program reguler. Karena di situ ada mata
pelajaran tambahan (kapita selekta). Tentang rencana Yayasan Pulih
menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dan membuat rencana tindak
lanjut untuk kampanye dan penyadaran mengenai kepekaan peliputan dan
penayangan berita traumatis, terutama yang berdampak pada jurnalis dan
masyarakat konsumen media massa, Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo
Batubara mengatakan, media massa dewasa ini jumlahnya begitu banyak. 

"Terdapat 855 penerbitan pers, 796 stasiun radio, dan sejumlah stasiun
televisi. Namun tidak banyak media massa yang punya pengaruh, karena
oplahnya kecil. Karena itu, jika ingin menyosialisasikan soal
jurnalisme dan trauma ini, cukup mengundang media massa yang serius,"
katanya. 

Wartawan senior Kukuh Sanyoto dan Anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi
memandang perlu panduan bagi jurnalis meliput peristiwa traumatik.
"Saya sampai sekarang, masih trauma dengan aparat keamanan. Karena
sewaktu ada demonstrasi di Spanyol, saya pernah ditangkap, karena
dianggap orang Indian. Padahal, saya orang Indonesia, ujar Kukuh.

Yurnaldi

Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke