Mungkin satu lagi, kalau bukunya sama guru tinggal bilang 'Buka halaman sekian'
'Kerjakan halaman sekian' 'Baca halaman sekian' 'Pak/Bu di buku katanya bla.bla.bla.' 'Kamu pake buku apa sih?' Aduh, maaf lho para guru. andidj <[EMAIL PROTECTED] <mailto:andidj2007%40gmail.com> com> wrote: Mas haniwar... idealnya memang begitu buku pelajaran tidak ganti2 tiap tahun jadi sekolah bisa stok di perpustakaan, dan siswa dari tahun ke tahun bisa pinjam Yang bikin rusak itu 2 hal: 1) pihak sekolah dapat diskon besar (sd 20%) dari penerbit Bisa dibayangkan angkanya? Misalnya: 1 buku = Rp.30.000 x 2 semester x 10 pelajaran x 400 siswa x 20% = Rp.48.000.000 (empat puluh delapan juta boo) Kalo sekolah negeri, bisa dibagi2 guru dan kepsek kalo sekolah swasta, ada yang diambil yayasan, ada juga yg dibagi ke guru-guru Jadi memang uang kaget setiap tahunnya besar sekali Belum lagi kalo ditambah seragam sekolah. 2) kurikulum yang gonta ganti Kurikulum yang gonta ganti ini semakin men-sah-kan pemaksaan siswa buat beli buku terus. Gak bisa pinjam, gak bisa pake buku kakak nya. Padahal, yang namanya ganti kurikulum ini, sepanjang pengetahuan saya, cuma ngacak2 bab nya aja Misal, di pelajaran fisika SMA bab tentang listrik ditaruh di kelas 2, sekarang jadi di kelas 1 SMA, dst. Isinya mah sama aja, yang namanya listrik ya dari dulu gak berubah. Kalo ada penambahan, gak signifikan dan cukup guru yang berperan untuk menambahkan, gak perlu sampe ganti buku segala. Mungkin ini yang namanya KKN terselubung, dan virus ini sudah merambah kemana-mana, tidak terkecuali di dunia pendidikan salam, andidj [Non-text portions of this message have been removed]
