Sejak dimunculkan struktur baru di PLN, ialah direktorat listrik Jawa-Bali, 
prestasi yang pertama kali dimunculkan, ialah pemadaman listrik di Jawa  dan 
Bali. Entah bagaimana cara mengurusnya, tetapi pada kenyataannya, yang dapat 
dirasakan adalah pemadaman.listrik.
 
Yang paling lucu, adalah yang sekarang sedang berlangsung. Di awal bulan ini, 
direktorat baru tersebut berkoar akan adanya pemadaman listrik di DKI 
Tangerang, tanggal 11 s/d 25. Juli, katanya. Katanya ada pemeliharaan yang 
menyangkut pembangkit Muara Karang dan Priok. Tidak hanya itu, disodoknya pula 
departemen teknis untuk menggeser hari kerja, dan disetujui, bahkan diteken 
oleh lima menteri.Tapi , pada kenyataannya pula, pemadaman diumumkan batal. 
Padahal penggeseran hari kerja baru berlaku nanti tanggal 21 Juli.
 
Apa yang bisa dianalisis dari kejadian ini ?
Apakah semula oleh karena hanya dilaksanakan island operation untuk DKI 
Tangerang, dan harus padam ? Lalu buat apa interkoneksi via SUTET yang sudah 
dibangun di utara dan di selatan itu, dengan biaya yang sangat besar ? Lalu, 
sekarang jadi tidak padam, apa  oleh karena memanfaatkan interkoneksi itu ?
 
Kalau demikian, mengapa kok semudah itu mengemukakan bekoaran harus padam, 
padahal bisa tidak padam ?
Apa oleh karena mau menjadi safety player saja, tanpa harus berfikir capek2 ? 
Dari pada harus mikir2 capek, lebih baik bekoarkan, pelanggan harus padem, 
begitu saja ? Malahan sampai menyodok ke departemen teknis agar dibuat 
penggeseran hari kerja ? Agar mainnya safe ? Lalu diteken oleh lima menteri 
tanpa menyelidiki terlebih dulu ? Semuanya asal teken saja ? Napa pula tidak 
diteken oleh semua menteri, orang, mungkin nekennya juga gak pake difikir dulu, 
gitu ? Enak saja !!!!!!
 
Direktorat listrik Jawa Bali PLN itu harus memberikan klarifikasi, kenapa 
bekoar harus ada pemadaman, padahal bisa tidak padam ?
 
Mana yang lebih pengung, sih ? Pengelola kelistrikan atau Mr. Bean ?
 
 
 
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke