Mbak Aria yg baik, Berikut isi pesan singkat (SMS) dari pak Komarudin Hidayat ke saya, beliau Rektor (UIN) Syarif Hidayatullah. ini tanggapan pribadi, belum tanggapan resmi dari Kampus (UIN) Syarif Hidayatullah.
Salam, AH "Itu miskomunikasi aja, karena Fak. Tarbiyah belum siap menerima calon guru Tunanetra. Kalau Fak. Dawah no problem. Pihak Tarbiyah lagi bahas masalah ini, apa konsekuensi kalau menerima atau menolak" "Kalau mau cari solusi, mestinya datang dan bicara baik-baik. Kita sharing untuk konteks Bangsa. Di UIN pernah ada Wisudawan terbaik dari Tunanetra. Saya pegang prinsip pendidikan inklusif, siapa aja berhak masuk. Tapi kalau fasilitas dan SDM untuk profesi tertentu belum siap, bukankah hanya akan merugikan mahasiswa?" "Pernah juga Fak. Ushuluddin mewisuda sarjana Tunanetra, Jurusan Sosiologi Agama dan Tafsir Hadis. Tahun ini mau meneruskan ke Program Pasca Sarjana." --- In [email protected], "Aria Indrawati" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Siaran Pers. > > > > Kejamnya Diskriminasi Dunia Pendidikan. > > > > Pelanggaran hak asasi manusia mewarnai penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2008 ini. Wijaya, seorang tunanetra alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan, setelah lolos seleksi Ujian Masuk Bersama (UMB) Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Islam (UIN) Syarif Hidayatullah, saat daftar ulang ditolak oleh pihak universitas, karena dia tunanetra. Uang yang telah dibayarkan sebesar Rp 1,850,000 dikembalikan kepada yang bersangkutan, sementara semua berkas pendaftaran ulang yang telah diserahkan hingga kini tetap ada pada pihak perguruan tinggi. > > > > > > Sudah sejak tahun 80an, atau bahkan mungkin sebelumnya, universitas yang dahulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini membuka diri pada hadirnya tunanetra untuk belajar di sana di berbagai jurusan yang ada, termasuk Fakultas Tarbiyah. Dan, dari kampus yang berlokasi di kawasan Ciputat ini, telah lahir sejumlah sarjana tunanetra yang saat ini telah berkiprah di masyarakat pada bidang mereka masing-masing. Bahkan, tahun lalu, seorang tunanetra dari Fakultas Dakwah lulus dengan predikat terbaik. > > > > Tapi entah mengapa, tiba-tiba perguruan tinggi yang semula ramah pada tunanetra itu mengubah pendiriannya. Wijaya, siswa tunanetra yang sejak di awal masa studinya senantiasa mendapatkan layanan dampingan dari Yayasan Mitra Netra, setelah lolos ujian masuk bersama yang diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni lalu, ditolak dengan alas an karena dia tunanetra. Bersama Wijaya, Arif, yang juga satu SMA dengannya, saat ini sedang mempersiapkan diri belajar di FISIP Universitas Indonesia, jurusan kesejahteraan social. Dari catatan Mitra Netra, terdapat empat tunanetra lain yang saat ini sedang menempuh studi di UIN, salah satu di antaranya Rafiq, juga belajar di Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam. > > > > UIN, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang juga berfungsi sebagai "agen perubahan", telah menodai dirinya sendiri dengan perlakuan diskriminasi kepada satu anak bangsa yang dengan sungguh-sungguh ingin mengembangkan dirinya. Apakah kekerasan dalam pendidikan semacam ini akan terus dibiarkan? > > > > > > > > Jakarta, 17 Juli 2008 > > Aria Indrawati > > Kabag Humas > > Yayasan Mitra Netra > > Cel. 0815-11-478-478 > > Email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
