PUISI UNTUK BUDIMAN Pada sebuah sore di punggung sejarah Indonesia yang berdebu Ketika kuntum bunga bangsa masih di rubung kupu-kupu Malam menanti waktu Sejarah yang berderak-derak
Ketika api pikiran Njoto bangkit Maka suara Sukarno bergetar dan buat merinding anak kecil yang menonton diatas pohon depan Istana Maka begitulah lancarnya bait-bait Tan Malaka yang disusun pada jalan becek di Cililitan sana Atau gemulai alam pikiran Yunani gaya Hatta..... Aidit yang turun ke sawah Isa Anshori si Napoleon yang bergeliat di Lapangan Akbar Maka jatuhlah ungkapan puitis Yang kerap ditulis Pada Rukiah Isteri Kertapati : "Jalan Indonesia, adalah Jalan Penderitaan" Budiman....Budiman Anak sejarah yang lahir dari luka sejarah Menyambung sejarah Pada api aksara pikiran Bung Karno Pada kesetiaan Nasakom Dan konsepsi Persatuan Indonesia Yang benar-benar bersatu..... Lamat-lamat kudengarkan Suara Indah Bing Slamet Genjer-Genjer Pathing Keleler Dan bangsa ini tetap seperti dulu kala Menjadi pemangsa genjer-genjer Kemiskinan dan air mata Menjadi sahabat di tanah yang kaya. Budiman Sujatmiko Anak muda pemberani Yang berdada Tetuko Dengan semangat Bung Karno Maju ke depan menghancurkan Tirani Status Quo..... Majulah Budiman Karena Kaum Jelata Berada di belakang pikiran anda yang sekuat baja Dan merah putih tak lagi menjadi bendera penuh nanah.... Karena bendera merah putih yang kita naikkan Adalah bendera yang dibayangkan Oleh tiga ratus orang yang menyaksikan Di Jalan Pegangsaan pada 17 agustus tahun showa Bendera yang di imajinasikan Akan mempersatukan Indonesia Membawa kita pada cita-cita Negara makmur tanpa cela. Dan sebuah sore bercerita Tentang Budiman, anak jaman yang dilahirkan jaman.............. Semoga ANTON
