Yang jelas peristiwa Madiun merupakan sebuah proxy war paling awal
dari percaturan politik di Asia pasca Perang dunia II, dan ini harus
dimasukkan ke dalam agenda riset sejarah dunia.

Sikap Sukarno sendiri pada Konferensi Sarangan 1948 juga perlu
diselidiki, serta gagalnya Sukarno mencegah dibawanya sebelas orang
ke Boyolali oleh pasukan Jenderal Gatot, karena penjara di Yogya dan
Istana Negara yang ditempati Bung Karno berhadap-hadapan. Jadi sangat
aneh bila Bung Karno tidak tahu dibawanya Amir cs ke Ngalihan.

Yang jelas pada saatnya nanti tidak akan ada lagi stigma sejarah,
namun kita harus melihat secara proporsional bagaimana peran manusia
dalam sejarah, seperti apa yang dilakukan Pak Tjuk sendiri terhadap
pembelaan korban Lapindo adalah sebuah tindakan kepahlawanan yang
akan dinilai secara proporsional bagi generasi yang akan datang.

ANTON ANTICELLI


--- In [email protected], tjuk kasturi sukiadi
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Anton yg sangatb terpelajar,
> Saya sangat kagum atas khasanah pengetahuan anda yang menyangkut
sejarah Indonesia khususnya sejarah pergolakan nasional Indonesia.
Kali ini yang dibicarakan adalah kontroversi seputar Tan Malaka dan
Amir Sjarifuddin.  Dua-duanya tokoh besar bangsa ini hanya kalau Tan
Malaka masih mendapatkan pengakuan oleh pemerintah sebagai Pahlawan
nasional, maka hal itu tidak terjadi kepada diri Amir. Perbedaannya
dapat kita duga adalah kalau dibunuhnya Tan Malaka
merupakan "kecerobohan Jendral Sungkono dan Kol Surachmat" dalam
menyikapi kelompok Tan Malaka. Dalam kasus Amir dia terlibat dalam
Peristiwa Madiun yang dianggap sebagai pemberontakan terhadap
pemerintah yang syah. Yang ketika itu dianggap sebagai "Tikaman dari
belakang terhadap Republik Indonesia yang sedang berjuang untuk tetap
bisa hidup!". Ketika itu dalam rangka menyadarkan rakyat agar
pengaruh "gerakan Madiun yang didalangi PKI ini semakin meluas kepada
rakyat maka Bung Karno mempertaruhkan
>  "popularitas pribadinya sebagai pemimpin dengan menyuruh
masyarakat Jawa Mataraman ( sekitar Madiun,Solo dan Jogya) untuk
memilih : " SOEKARNO ataoe MOESO!" Nampaknya rakyat lebih banyak
mencintai dan mempercayai Soekarno sehingga "Gerakan Madiun" tidak
meluas dan dapat dilokalisir disekitar Madiun saja. Alhasil korban
yang jatuh dikalangan rakyat tidak jauh lebih banyak.
> Tentang Amir Sjarifuddin, ayah saya almarhum mempunyai ceritera
pribadi.Pada zaman Jepang ayah yang usianya awal 20 tahunan bekerja
di penjara Lowokwaru Malang. Kebetulan Amir Sjarifuddin yang usianya
pertengahan  30 tahunan ditahan di penjara Malang karena dianggap
Anti Jepang. ( dalam pada itu Ali Sastroamidjojo dengan tuiduhan yang
sama di tahan di penjara Pamekasan). Antara almarhum ayah saya dan
almarhum Amir "secara diam-diam" terjadi hubungan yang sangat erat
sekali. Terjadilah "kursus politik perjuangan nasional" dari  si
tokoh yang di tahan dan si pegawai penjara muda usia yang  bertugas
menjaganya.. Suatu saat ayah saya menawarkan kepada Pak Amir agar
beliau mau "dilepaskan' dari penjara; mengingat ketika itu Jepang
bisa saja setiap saat menghukum mati Amir. Namun tawaran itu ditolak
oleh Amir karena dianggap  sangat berbahaya dan resikonya akan jauh
lebih besar. Syukurlah beberapa waktu kemudian  "atas pengaruh dan
permintaan Bung Karno"
>  status hukuman mati bagi Amir Sjarifuddin dan Ali Sastroamidjojo
dicabut oleh pemerintah penjajahan Jepang. Ayah saya berpisah dengan
Amir segera setelah proklamasi karena Amir dipanggil ke Jakarta oleh
Bung Karno untuk diangkat menjadi menteri dalam kabinet yang dibentuk
kala itu. Nah itulah  kisah yang sempat saya rekam dalam benak dari
ceritera almarhum ayah saya dan baru kali ini sempat saya tuturkan.
Terima kasih, salam perjuangan Tjuk KS

Kirim email ke