Luar Biasa! Inilah pencerahan bagi saya, apa beda aktivis LSM dengan aktivis Partai. Saya ini orang bisnis, kerjanya cuman cari duit, logika saya money oriented...saya juga pernah bilang ke Wenny (anggota FPK juga) saya sampai saat ini tidak habis pikir dengan komitmen orang2 LSM yang sepenuhnya untuk orang lain, asketis geto. Sebagai manusia saya kalah jauh wataknya dengan orang yang ada di lingkungan rakyat, mengabdi untuk memberdayakan orang lain.
Saya jadi inget pesan AM Hanafi pada DN Aidit waktu Aidit pamit mau jadi anggota PKI tahun 1946-an. "Mad, kamu kalo jadi anggota PKI kamu tidak akan kehilangan apa-apa, tapi juga tidak akan mendapat apa-apa, karena semuanya untuk rakyat" Asketisme dalam bidang politik dan LSM nampaknya akan hidup pada jiwa yang benar-benar hidup. ANTON Semua orang pada akhirnya akan mati, tapi tidak semua benar- benar 'hidup'. --- In [email protected], "Gadis Arivia" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bila yang dibicarakan adalah aktivis LSM, maka, seorang aktivis memiliki > konsep kerja yang berbeda dengan partai. Seorang aktivis bekerja untuk > "civil society", artinya, memiliki ide-ide kesetaraan dan demokrasi yang > diperjuangkan secara independen. Sedangkan seorang politisi bertujuan untuk > meraih kekuasaan dengan konsep dan platform partai. > > Seorang aktivis bisa saja mendukung partai atau calon presiden tertentu bila > dianggap kerja partai tersebut sesuai dengan cita-cita organisasinya, namun, > seorang aktivis tetap berada di luar jalur cita-cita kekuasaan. > > Sederhananya, seorang aktivis bukan politisi, kalkulasi politiknya bukan > kursi kekuasaan tapi pemberdayaan masyarakat. Jadi, bila seorang aktivis > masuk partai ia tidak lagi disebut sebagai aktivis LSM, ia disebut sebagai > politisi. "Mind set" dan "framework" seorang aktivis LSM dan politisi jelas > berbeda. Pendukung dana baik LSM maupun partai pun memiliki tujuan yang > berbeda. Dan tentu anggota LSM dan partai memilih cara berada yang juga > berbeda. > > gadis arivia.
