Akhirnya semua terjawab oleh Pepunden saya, Bung Budiman Sudjatmiko: Menurut saya, ...dalam masjarakat yang sempurna dimana sistemnya sudah berlangsung dengan sangat mapan, maka peranan LSM bisa sepenuhnya mengalami split entity dengan kekuasaan. Tapi dalam masjarakat yang belum memiliki kemapanan sistem baik itu ideologi, way of life dan sirkulasi kekuasaan, maka LSM mau tidak mau akan terlibat dalam kekuasaan, bagaimanapun caranya. Hal ini bisa kita lihat dalam laboratorium sosiologi di Indonesia bagaimana Muhammadiyah dan Walhi kerap keluar masuk dalam sistem politik dan sirkulasi kekuasaan.
Jadi Mbak Gadis yang super cerdas dan berani itu melihat peranan LSM dalam sistem negara maju seperti di Amerika Serikat. Sementara kawan sepemikiran saya, Bung Rudi Hartono berusaha membumikan LSM dalam kerangka Marxian, dimana semua hal harus menukik ke dalam tataran praksis, dan tataran praksis dalam kerangka Marxian adalah apabila masjarakat belum sepenuhnya mengalami transformasi menuju masjarakat sosialisme, maka semua gerakan di dalam masjarakat harus ditujukan pada perubahan ke arah itu. Semua dimensinya. Bahkan sampai pada aspek seni dan budaya. Mangkanya dulu di Indonesia ada jargon terkenal : Seni untuk Rakyat. Dan gagasan Realisme. Gerwani sebagai gerakan LSM perempuan Indonesia justru adalah sebuah Gerakan yang mengalami dampak buruk dari tarik menarik kekuasaan. Gagasan non Partai adalah sah-sah saja, namun bagi saya ini sangat lucu. Karena dalam sistem politik kita memerlukan Partai. Kondisi Politik pasca reformasi adalah kondisi yang jauh berubah, kesadaran politik dengan landasan partai adalah realitas yang sangat naif bila dihindari. Yang kemudian terjadi timbulnya 'Partai-Partai Dangkal' adalah sebuah konsekuensi wajar karena kita dilahirkan pada masa peradaban dikerdilkan, pada masa proses sejarah dibelokkan. Orde Baru telah melakukan pendangkalan intelektual dan mengajarkan sikap hidup instan yang materialistis, namun Orde Baru juga mengajarkan bagaimana kita dapat meraih kekuasaan dengan membohongi masjarakat melakukan produk stigma-stigma (dan ini sangat baik dijalankan oleh kelompok yang menjual agama sebagai barang dagangan politik). Sikap-sikap ini masih dipegang teguh oleh orang-orang Orde Baru yang sayangnya sampai saat ini merekalah yang 'berkesadaran Partai'. Sementara orang-orang intelektual, yang bersih dalam kubangan got Orde Baru justru melakukan perlawanan tanpa 'berkesadaran Partai' mereka berharap perubahan akan terjadi dalam kepala mereka, perubahan terjadi dalam lintas ide-ide mereka, mereka belum sanggup menukik ke dalam tataran praksis, mereka belum bisa menjadikan Partai yang memiliki kesadaran politik sebagai agen perubahan. Satu contoh, masuknja Budiman Sudjatmiko ke PDIP dicemooh sebagian orang yang merasa dirinya intelektual dan bersih, sebagai sikap cumbu rayu dengan kekuasaan. Padahal kerja politik Budiman dengan masuk ke dalam struktur PDIP adalah bagian dari 'kesadaran partai'. Dalam era reformasi ini yang memperbolehkan semua sistem di dalam masjarakat bekerja dengan Negara sebagai Regulator yang tidak bisa melarang ini dan itu, Maka tugas kaum intelektual dan kaum muda yang berani masuk ke dalam struktur Partai serta menjadi agen perubahan itu sendiri. Masjarakat tidak akan berubah, tanpa kerja-kerja di dalamnya. Atau menurut bahasa Bung Karno yang selalu dikumandangkan dengan menciteer Ayat Al Qur'an : "Tuhan tidak akan merubah suatu kaum, bila kaumnya tidak merubah dirinya sendiri". Partai-Partai harus dijadikan agen perubahan. kesadaran partai pelopor yang fanatis namun berjalan sesuai road map ideologinya justru sekarang sangat diperlukan. Sejarah Indonesia adalah sejarah yang paling rumit di dunia. Namun menuju kemenangan-kemenangan ideologi kerakyatan akan terus berkumandang selama jiwa pembelaan untuk rakyat belum mati. Hidup Gadis Arivia!, Hidup Rudi Hartono! ANTON "Hidup, Hidupkanlah Muhammadijah...tapi Djangan Kau Tjari Hidup Di Muhammadijah (tjontoh LSM paling lama di Indonesia : Muhammadijah yang melahirkan PAN dan Partai Matahari Bangsa). --- In [email protected], Budiman Sudjatmiko <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > LSM adalah entitas yang sangat...sangat luas dan berragam... > Saking luas dan berragamnya maka mengatakan LSM harus terpisah atau harus kerjasama dgn partai politik adalah generalisasi yang tak perlu. Biarkan saja ada yg tetap > terpisah, tapi juga JANGAN MENGHARAMKAN jika bekerjasama ataupun menampung orang partai utk bekerja di LSM. > Dalam soal bekerja di grass root pun kita tdk boleh serampangan menganggap bahwa itu hanya monopoli LSM dan tak pernah dikerjakan oleh partai. Soal tujuan: per definisi ke dua entitas ini sama-sama hendak menegakkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat (begitu lah konsepsinya). > Bahwa partai hendak mencapai semua itu lewat kekuasaan, dan LSM tidak lewat penguasaan institusi kekuasaan..maka harus diingat bahwa yang tdk berorientasi kekuasaan bukan cuma LSM, krn organisasi kemasyarakatan pun juga TIDAK berorientasi kekuasaan, spt Muhammadiyah, NU, serikat2 buruh/tani dsb. > Yang membedakan LSM dgn organisasi kemasyarakatan adalah bahwa LSM tidak memiliki keanggotaan yang sifatnya massif (kebanyakan ia adalah satu kelompok yang diurus oleh sejumlah aktivis dan profesional yang bergaji), sementara organisasi kemasyarakatan didirikan oleh sejumlah orang dgn struktur horganisasi yang hirarkis.�� > Fenomena LSM yang muncul secara marak di Indonesia (terutama thn 1980-an) adalah untuk mengisi ruang-ruang yang 'ditinggalkan secara paksa' oleh partai-partai politik akibat bulldozer politik Orde Baru. > LSM lantas mengisi ruang dan aktivitas di akar rumput, yang pada era pra Orde Baru (jaman pergerakan kemerdekaan, revolusinasional dan Orde Lama)�SELALU DIIISI�oleh partai-partai politik dengan segala jaringan ormas onderbouw, lembaga-lembaga penelitian/pelatihan dan bahkan universitas-universitas yang dimiliki sejumlah partai di era Orde Lama. > Setelah era reformasi hadir...pekerjaan-pekerjaan akar rumput itu (seharusnya/teorinya) diisi oleh partai-partai. Fungsi ini lah yang belum sepenuhnya dilakukan oleh banyak partai. Namun sesungguhnya itu adalah salah satu fungsi partai. > Jadi kalau partai ada yang mau mengerjakan hal-hal yang 'mirip dilakukan LSM', itu karena di jaman Orde Baru, LSM melakukan pekerjaan 'mirip yang dilakukan partai2 di era Orde Lama', namun tanpa ideologi/platform politik yang komprehensif yang digabungkan dengan pengorganisasian massa rakyat yang massif. > Pertnyaannya adalah: apakah label aktivis, hanya layak dibrikan bagi mereka yang aktif di LSM/ Jawabnya tentu saja : tidak...Karena banyak juga aktivis (bahkan yang juga terjun mengorganisir rakyat di akar rumput), mereka melakukannya tdk melalui institusi LSM. > Itu adalah pengalaman penulis (saya) sendiri, yang sejak jaman Orba, percaya bahwa partai adalah alat perjuangan rakyat yang tertinggi dan komprehensif (meskipun partai yang kami dirikan tdk diakui pemerintah atau dianggap subversif), dan yang juga percaya bahwa LSM adalah sebuah lembaga yang kehadirannya bersifat darurat, karena tak diijinkannya partai2 utk hidup melakukan pengorganisasian/pendidikan politik di tengah2 rakyat. > Karena itu, jika ada sekelompok aktivis LSM hari ini ada yang masuk partai atau bermaksud mendirikan partai, bagi saya itu tidak perlu diharamkan. Bahkan meskipun kemudian LSM-LSM tersebut menyatakan berafiliasi pd partai, juga tak perlu diharamkan. > Gejala menjauh dr partai, ini juga kan menghinggap sebagian besar kalangan 'intelektual', yang menganggap kedekatan dengan partai akan mencederai reputasi intelektualitas mereka. > Orang lupa, Anthony Giddens (sosiolog Inggris termasyhur itu) adalah seorang intelektual yang well-known dgn teori-teori sosiologinya, tak ragu utk menyatakan preferensi politiknya ke Partai Buruh..tokh orang tdk meragukan kapasitas intelektualitasnya. > Begitu juga sejumlah partai seperti di Eropa...mereka terbiasa membangun LSM, yayasan, lembaga penelitian dsb yang secara terbuka tidak menutupi affinity dan affiliasinya dgn partai2 tertentu, spt FNS dgn partai liberal Jerman, KAS dgn Partai Kristen Demokrat Jerman, FES dgn Partai Sosial Demokrat Jerman, Rosa Luxembourg Stifftung dgn Partai Demokrat Sosialis Jerman. Begitu juga Partai Demokrat AS dgn NDI dan Partai Republik dgn IRI. > Dengan menyatakan afiliasi politiknya dgn partai politik, maka para peneliti, intelektual dan aktivis LSM itu tidak mencerderai/menodai integritasnya. > Bahwa banyak partai kita yang buruk, itu harus diakui. > Tapi saya mau mengingatkan...ibarat seorang anak kecil yang meminta dibuatkan bubur, saat dia menerima mangkuk bubur dan mencoba memakan bubur itu...ada dua kemungkinan yang akan dia lakukan ketika mengetahui bubur itu ternyata panas sekali: pertama, si anak kecil itu segera melempar bubur itu sampai tumpah..atau si anak itu memilih meniupi bubur itu hingga dingin, sehingga dia bisa memakannya. > Menolak dan alergi terhadap partai politik (setelah di era Orba kita menuntut demokrasi dan kebebasan berpartai)�sama dgn anak kecil yang petama...sementara secara perlahan dan sabar menjalin kontak dgn partai, atau memperbaiki partai, sama dgn sikap ke dua...kesabaran si anak untuk meniupi bubur itu hingga dingin. Sebab baginya muncul kesadaran, jika dia buang bubur itu, maka akan sulit dia memakannya saat bubur dingin (padahal dia sdh dan makin lapar). Di lain pihak, dia pun tahu jika dia tinggalkan begitu saja bubur, maka...seekor kucing akan menyantap daging di bubur itu, dan si anak tak kan pernah bisa memperolehnya lagi > > wassalam > > Budiman > (lebih senang meniupi bubur ayam agar dingin dan bisa dimakan, bahkan ketika bubur ayam dinyatakan masih dilarang)
