Di jaman Hindia Belanda, Lurah suatu desa yang banyak garongnya biasanya Lurahnya itu kepala garong, atau bas benggolnya. Lha kalo garong berkeliaran itu istilah : Kecu.
Sebagian anggota DPR masih bermental Kecu namun tidak berkualitas bas benggol. ANTON Manusia yang berguna bagi bangsa, negara dan agama (kayak pesan guru SD di raport) --- In [email protected], "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Oleh I Wibowo > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/06/00295332/inilah.zaman.band it.berkeliaran > > > > Sebanyak 52 anggota DPR terlibat suap. Begitu berita harian ini > delapan hari lalu. Banyak orang mengatakan mungkin lebih banyak lagi. > Mungkin semuanya. Masyarakat yang tak lagi percaya kepada anggota DPR > mengusulkan agar DPR dibubarkan. > > Ketika 10 tahun lalu penguasa tunggal dijatuhkan, orang berharap > kejadian korupsi sejenis yang dilakukan Soeharto tak akan lagi terjadi > karena rakyat akan mengawasinya. Ternyata si pengawas sendiri terlibat > korupsi. > > Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah setelah kita menjalankan > reformasi yang ditegakkan atas dua pilar, demokrasi dan pasar bebas, > reformasi mestinya berjalan mulus? > > Keganjilan ini dapat diterangkan secara sederhana dengan mengikuti > karya Mancur Olson, Power and Prosperity (2000). Olson juga bertanya > tentang reformasi, tetapi reformasi di Rusia: mengapa setelah rezim > represif runtuh, bukan kesejahteraan yang muncul, melainkan kelompok > jaharu? The lifting of the iron curtain revealed something else that > the developed nations of the West, whether they had been winners or > losers in World War II, did not expect to see: an extraordinary amount > of official corruption and Mafia-style crime? Sama seperti kita di > Indonesia, reformasi di Rusia juga dijalankan dengan memakai program > demokratisasi dan pasar bebas. > > Dua macam bandit > > Olson menerangkan keanehan ini dengan model bandit menetap (stationary > bandits) dan bandit berkeliaran (roving bandits). Pada masa rezim > represif, seorang bandit berkuasa, tetapi dia bandit menetap. Artinya, > dia tak akan menguras habis wilayahnya. Ia bahkan akan menjaga > wilayahnya, memberi keleluasaan kepada penduduknya untuk terus maju. > Dengan cara itu, ia akan terus dapat menarik berbagai pungutan yang > merupakan sandaran hidupnya. Setelah rezim represif runtuh, muncullah > bandit berkeliaran. > > Sebagaimana di zaman kuno, jenis bandit ini mendatangi sebuah wilayah, > menjarah habis wilayah, lalu pergi. Begitu cara kerjanya. > Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menguras habis > kekayaan di tempat itu tanpa menyisakan apa pun. > > Ketika Indonesia di bawah Soeharto, âorang kuatâ ini menguasai seluruh > Indonesia dan rakyatnya. Kekuatan Soeharto berhasil membuat semua > orang bergantung kepadanya. Sementara itu, orang-orang di sekitar > Soeharto merasa senang dan nyaman. Tak hanya mendapat perlindungan, > juga sedikit kekayaan. Memang Soeharto terkenal membagi-bagikan > kemurahan hatinya kepada semua orang yang mau mengabdinya. Hal ini > berlaku bagi pegawai negeri, pengusaha swasta, dan militer. > > Maka, penguasa tunggal itu berstatus bandit menetap dan menimbulkan > stabilitas yang lumayan sehingga Indonesia dipuji Bank Dunia akan > menjadi âmacan Asiaâ. Hal ini membuat orang percaya, ada hubungan erat > antara stabilitas dan sukses ekonomi. Namun, ini merupakan kelihaian > Soeharto. Sebagai bandit menetap, ia tak menguras habis kekayaan > Indonesia, juga tak mengembangkannya. Ia membiarkan Indonesia pada > tingkat tertentu yang cukup bagi penduduk untuk berusaha dan cukup > untuk dikuras. Indonesia memang maju, tetapi tak akan pernah maju > sampai ke titik maksimal. > > Zaman bandit berkeliaran > > Menurut Olson, begitu bandit menetap runtuh, muncullah bandit > berkeliaran yang tak lagi terikat pada sang âbosâ. Jika mereka semula > tertunduk dan terbungkuk di depan bos, kini gerak mereka bebas tak > terikat menjalankan perintah apa pun. Tak ada yang ditakuti. Mereka > menancapkan diri sebagai pemalak dan pemeras yang siap menjalankan > aksinya. > > Situasi ini persis sama dengan di Rusia sebagaimana dianalisis Olson. > Ketika bandit menetap (Partai Komunis) disingkirkan, muncullah bandit > berkeliaran yang menguasai daerah-daerah maupun wilayah kekuasaan > lain. Mereka nyaris mengabaikan kendali oleh pusat, bergerak sendiri > sesuai dengan kebutuhannya. > > Di Indonesia datangnya demokratisasi dan otonomi daerah sejak tahun > 1999 memberi sumbangan signifikan bagi meluasnya bandit berkeliaran > ini. Sistem yang lebih tepat diberi nama âdemokrasi proseduralâ ini > pada dasarnya membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman kekuasaan > otoriter Soeharto sekaligus menciptakan banyak aktor dalam > perpolitikan Indonesia. Aktor-aktor ini�"entah tergabung dengan parpol > entah tidak�"belajar bagaimana memanipulasi pemilu/ pilkada menjadi > kepala eksekutif atau anggota legislatif. > > Sistem demokrasi sebenarnya adalah sistem yang tak stabil. Semua > politikus�"di tingkat nasional, lebih-lebih di tingkat daerah�"sadar, > kesempatan terus duduk di kursinya hanya sekali itu saja karena sistem > demokrasi menuntut rotasi pemimpin. Daripada memanfaatkan masa > baktinya secara optimal, mereka malah mendapat insentif menjalankan > penjarahan dan menguras habis. Mumpung berkuasa, mereka > memanfaatkannya sebaik mungkin. > > Khusus tentang anggota DPR/ DPRD. Yang membuat mereka makin kalap dan > tak terkendali adalah sistem pemilihan anggota legislatif yang tak > menganut sistem distrik: nasib mereka bergantung pada pemimpin umum > partai, bukan rakyat tempat pemilihan mereka. Sebagai pion partai, > mereka menyetor hasil kepada partai. Dalam sistem ini, oknum memang > penting, tetapi partai lebih penting. Hasil sogok- menyogok ini hanya > sebagian masuk kantong sendiri. Selebihnya untuk setoran partai. > > Begitulah para bandit berkeliaran menerjang memasuki wilayah-wilayah > Indonesia, menguras kekayaan di situ, lalu pergi. Sementara itu, > bandit berkeliaran lain telah menunggu! > > I Wibowo Koordinator âDijkstra Societyâ Jakarta >
