http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/11/08431555/bayi.sakti.lolos.dari.maut

JAKARTA, SENIN - Warga Kampung Rawabelong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat,
digegerkan dengan kabar adanya anak balita yang dinyatakan meninggal
dan bisa hidup kembali. Warga yang mendengar kabar itu berkumpul untuk
menyaksikannya.

Adalah Alifia Nailun Najah, bayi berumur tujuh bulan, yang sudah
dinyatakan meninggal oleh kakeknya, tapi hidup kembali. Alifia adalah
anak pasangan Buraidah-Hendri yang tinggal di Kampung Rawabelong RT 03
RW 08, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk.

Peristiwa menghebohkan ini bermula ketika Alifia menderita sakit
berkepanjangan. "Sudah dua minggu dia sakit. Badannya panas dan
kejang-kejang," kata H Hasim, kakek Alifia, Minggu (10/8) malam.
Menurut Hasim, beberapa orang memberi tahu bahwa Alifia sakit radang
tenggorokan.

Awalnya, Alifia dirawat di rumah. Namun, karena kondisinya semakin
memburuk, keluarganya lantas membawanya ke rumah sakit. "Pertama
Alifia saya bawa ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan di dekat Monas (Jalan
Budi Kemuliaan), tapi tidak ada perubahaan. Terus dia saya bawa ke
rumah lagi dan dirawat oleh dokter yang tinggal di dekat rumah," tutur
Hasim.

Semakin hari, kondisi Alifia terus memburuk. Dokter lantas merujuk
Alifia dibawa ke rumah sakit. Sabtu (9/8) pagi, Alifia dibawa ke RSAB
Harapan Kita di Slipi, Jakarta Barat. "Saat itu kami diminta membayar
uang muka Rp 10 juta. Demi kesembuhan cucu kami, saya pun mencari
pinjaman untuk bayar uang muka tersebut," kata Hasim.

Setelah uang muka dibayar, barulah Alifia mendapat perawatan di ruang
ICU. "Tapi, setelah semalam dirawat di ICU RSAB Harapan Kita, kondisi
Alifia tidak juga membaik, bahkan semakin buruk. Dokter yang memeriksa
menyatakan kondisi Alifia sudah berada di bawa koma," kata Hasim.

Saat itu hidup Alifia sudah bergantung dengan peralatan rumah sakit.
Untuk bernapas pun, bayi yang lahir pada 10 Februari 2008 ini harus
dibantu dengan alat. Ini membuat Hasim dan anggota keluarganya kecil
hati. Sudah mengeluarkan biaya besar, tapi tidak memperoleh
kesembuhan. "Semalam dirawat di sana sudah ada biaya tambahan Rp 3
juta. Itu hanya untuk nebus obat. Kami jadi bingung," kata Hasim.

Minggu (10/8) pagi, keluarga Hasim semakin dilanda kebingungan karena
kondisi Alifia tak juga membaik. "Kami lalu meminta Alifia dibawa
pulang saja," kata Hasim.

Tim dokter dan perawat ICU RSAB Harapan Kita melarang bayi perempuan
berparas cantik dan lucu itu dibawa pulang karena kondisinya sangat
kritis. Menurut Hasim, jika alat bantu napas dicabut, Alifia
meninggal. "Tapi mengingat biaya besar yang harus dikeluarkan, kami
pun memutuskan untuk membawa pulang Alifia. Apalagi, kalau tidak ada
biaya, dokter juga tidak mau merawatnya," kata Hasim.

Orangtua Alifia harus menandatangani surat pernyataan yang menegaskan,
segala risiko menyangkut keselamatan Alifia bukan tanggung jawab RSAB
Harapan Kita. Dokter dan perawat pun tak mau mencabut selang oksigen
yang menempel di hidung Alifia.

Alifia akhirnya dikeluarkan dari ruang ICU dalam kondisi masih
mengenakan selang pernapasan. Ayahanda Alifia, Hendri, kemudian
mencabut selang oksigen dari hidung putrinya. Ketika selang dicabut,
bayangan kematian Alifia pun muncul dalam benak Hendri dan Hasim, tapi
sang ibu, Buraidah, tetap yakin anaknya selamat.

Hasim semakin berkecil hati setelah Alifia dibawa dengan mobil sewaan
menuju rumah. "Waktu berada di dalam mobil, kondisi anak saya sudah
kaku. Tidak ada napas. Badannya pun biru. Matanya merem," kata Hasim.

Melihat itu, Hasim yang ditemani istrinya, Dalilah, menyimpulkan
Alifia telah meninggal dunia. Kesimpulan tersebut disampaikan kepada
sanak keluarga yang menunggu di rumah di Rawabelong. Lalu, kabar
kematian Alifia disiarkan melalui pengeras suara mushala yang terletak
persis di depan kediaman Haism. Hendri-Buraidah tinggal bersama Hasim.
Para tetangga dan handai taulan pun berkumpul untuk melayat.

Sebagian warga mengibarkan bendera kuning dan memasangnya di
sudut-sudut jalan. Sementara warga lainnya menggali liang kubur di
areal pemakaman keluarga H Hasim yang terletak di belakang rumah.
Semakin siang, jumlah pelayat yang datang semakin banyak.

Begitu sampai di rumah, Alifia langsung dibawa ke kamar ibunya. Tapi
Buraidah dan Hendri belum yakin Alifia meninggal. "Lalu ada orang yang
mengerti kesehatan datang memeriksa. Orang itu menyatakan Alifia masih
hidup," kata Buraidah.

Air putih

Orang tersebut meminta segelas air putih. Setelah membaca doa, dia
meneteskan air ke mata Alifia dan meminumkannya. Setelah itu, datang
lagi dua pemuka agama mendoakan Alifia.

Tak lama berselang, gerak dada Alifia lebih jelas. "Tangannya juga
gerak lagi, disusul kakinya yang gerak-gerak," kata Hasim yang tak
habis-habisnya bersujud. Setelah itu, Alifia buang air kecil.

Dengan cepat tersebar kabar bahwa Alifia hidup kembali. Warga lantas
menggelar doa bersama untuk Alifia. Semalam, saat Warta Kota tiba,
kediaman Hasim masih ramai didatangi orang.

Hasim adalah guru di SDN 13 Palmerah dan Hendri bekerja serabutan.
Dengan latar belakang ekonomi seperti ini, Hasim dan Hendri tak
sanggup membayar ongkos perawatan Alifia selama di ICU RSAB Harapan Kita.

Dokter jaga dan beberapa perawat RSAB Harapan Kita semalam membenarkan
Alifia pernah dirawat di sana. Menurut mereka, Alifia dibawa pulang
paksa oleh orangtuanya. "Apa penyakitnya kami tidak tahu. Mengapa
dibawa pulang paksa, kami juga tidak tahu. Silakan hubungi pejabat
yang berwenang pada hari Senin," kata seorang dokter yang enggan
menyebutkan namanya. (Warta Kota/tos/yos)


Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke