Supiyadi - Sang Pembantu Utama Bung Karno, menghilang secara
misterius. Satu pihak mengatakan bahwa Supriyadi memang menghilang
secara misterius, dan pihak lain mengatakan bahwa Supriyadi sudah
benar-benar gugur.
Benarkah saat ini "Supriyadi" muncul kembali? Berbagai media
mengangkat topik tentang sosok "Supriyadi" Andaryoko Wisnuprabu. Lalu,
menurut Anda benarkah bahwa dialah sosok Supriyadi yang sesungguhnya?
Baca juga bukunya "Mencari Supriyadi - Kesaksian Pembantu Utama Bung
Karno" karya Baskara T. Wardaya SJ, terbitan Penerbit Galangpress. Dan
dengarkan kesaksiannya...

*****

Asvi: Andaryoko Anggota PETA, Tetapi Bukan Supriyadi
www.kompas.com
Rabu, 13 Agustus 2008

PENGAKUAN mengejutkan muncul dari Semarang, Selasa (12/8). Andaryoko
Wisnu Prabu, 89 mengaku sebagai Supriyadi, pejuang PETA yang juga
pahlawan nasional yang ditulis sejarah menghilang. Benarkah dia adalah
Supriyadi? Berikut wawancara persdanetwork dengan sejarawan LIPI, Asvi
Warman Adam terkait pengakuan Andaryoko Wisnu Warman Adam.

Sebagai sejarawan, bagaimana komentar Anda soal pengakuan Andaryoko
bahwa dirinya adalah Supriyadi?
Sebetulnya bukan satu kali ini ada orang yang mengaku Supriyadi.
Paling tidak sudah lebih dari lima kali ada orang yang mengaku
Supriyadi. Dalam hal ini ada dua hal, ada supply-demand. Maksud saya,
dalam situasi kritis, orang butuh apa yang disebut dengan ratu adil.
Misal dengan adanya tokoh yang dianggap menyelesakan persoalan, apakah
pahlawan yang hilang. Nah di tengah kebutuhan masyarakat itu, ada
Andaryoko yang di Semarang cukup lama dikenal sebagai budayawan, yang
tahu banyak tentang peristiwa Blitar, yang ternyata tahu banyak
tentang Supriyadi, yang akhirnya dipercaya sebagai Supriyadi.

Apakah Anda berpikir dia Supriyadi atau bukan?
Saya lebih meyakini dia sebagai anggota PETA yang kemudian bekerja di
Semarang di bidang pemerintahan dan mendapat kedudukan yang cukup
lumayan, dan dia orangnya cerdas dan sehat, sehingga sampai sekarang
masih umur panjang. Sebagai seorang anggota PETA yang ada di Blitar,
dia tahu segala kegiatan PETA di Blitar. Tapi mungkin bukan Supriyadi,
karena anggota PETA yang ada waktu itu kan ratusan.

Bagaimana caranya untuk membuktikan kebenaran yang bersangkutan
Supriyadi atau bukan ?
Waktu Try Soetrisno jadi Wakil Presiden itu ada orang di Jogja ngaku
sebagia Supriyadi. Kemudian Pak Try meminta Utomo Darmadi adik tiri
Supriyadi untuk datang ke Jogja, dan mengecek dua hal. Pertama ngajak
ngomong Belanda dan orang itu gak ngerti. Kemudian dia mencoba
menanyakan sesuatu dalam bahasa populer jepang, orang itu gak bisa
nangkap. Supriyadi itu sekolah MULO dan STOVIA, jadi bahasa Belanda
lumayan, juga latihan jepang, Jadi banyak menguasai istilah-istilah
Jepang, tapi orang itu dua-duanya nggak bisa.

Bagaimana dengan Andaryoko?
Ini kan orangnya sudah sangat tua. Tetapi dalam percakapan dengan
Baskara Wardaya dia sama sekali tidak pernah mengucap istilah bahasa
Belanda satupun. Padahal orang yang berusia 70-80 seperti ibu SK
trimurti, itu pasti keluar istilah Belanda karena pernah sekolah,
pasti masih lengket. Ini kan cuma jawa saja

Cara lain?
Bisa melalui keterangan-keterangan dia. Kita bisa mempercayai tokoh
sejarah berdasarkan keterangan/pengetahuan yang dia sampaikan. Kalau
informasi itu keliru kita bisa meragukan integritas dia.

Lalu, bagaimana dengan Andaryoko?
Hampir banyak sekali dari informasi yang dia sampaikan itu tidak cocok
dengan fakta historis.

Misalnya?
Misalnya dia menyatakan 17 agustus dia hadir waktu upacara penaikan
bendera, dan bahkan ia ikut mengerek bendera. Padahal secara historis
yang mengerek bendera itu adalah Latif Hendradiningrat, yang dibantu
seorang anak kecil berpakaian celana pendek. Dia juga menyatakan
sidang BPUPKI dia ikut membawakan tas Bung Karno, jadi apakah betul BK
untuk ikut sidang itu bawa tas atau bagaimana.

Lainnya?
Dia menyatakan sidang-sidang untuk menetapkan UUD 45 di gedung juang
yang sekarang. Sebetulnya itu keliru juga karena sidang itu di gedung
Pantjasila yang sekarang berada di dalam kompleks Deplu Pejambon. Dan
yang menurut saya yang sangat aneh, dia tahun 45 menolak untuk ikut
dalam pemerintahan karena dia meramalkan dalam 20 tahun lagi akan ada
huru-hara di Indonesia dan ketika itu orang yang dukung Bung Karno
akan tersingkir. Dia milih di luar pemerintahan. Menurut saya itu
klenik, mistis, karena CIA saja tidak bisa meramalkan dengan tepat.
Kemudian dia juga hadir di dalam Supersemar diserahkan di istana
bogor, jadi banyak sekali kebetulan yang menimbulkan tanda tanya.
Pengakuan Andaryoko dipertanyakan karena dia itu hadir di mana-mana.
Dia itu tokoh mistis yang bisa meramal kejadian pada 20 tahun yang
akan datang.

Lalu, bagaimana jika dia memang benar Supriyadi?
Persoalannya, pahlawan nasional selama ini diusulkan oleh Depsos itu
adalah orang yang sudah meninggal.  Karena kalo belum meninggal
diangkat jadi pahlawan, dan lalu dia melakukan hal tidak terpuji, itu
akan sangat memalukan bangsa. Kalau Supriyadi sudah dinyatakan
Pahlawan Nasional, dan ternyata ada orang masih hidup, apakah gelar
kepahlawanan  itu akan dicabut atau dicancell, menunggu sampai dia
meninggal baru dikembalikan gelarnya, jadi agak repot juga. Karena
selama ini, dia dinyatakan hilang meninggal.

Apa selama ini sudah ada upaya untuk mengecek Supriyadi memang sudah meninggal?
Pemerintah juga melakukan upaya penggalian sebelum diangkat pehlawan.
Dicari keterangan bahwa ada seorang haji di Banten yang menguburkan
Supriyadi, ditunjukkan foto Supriyadi, dan pak haji di Banten itu
tahu. Lalu kemudian ditemukan kerangka yang ternyata oleh adik tirinya
dikatakan bukan punya ciri-ciri Supriyadi.

Kirim email ke