Salam,

Terima kasih atas tulisan pengalamannya Bung Ulil. Jika berkenan, ini juga ada 
tulisan yang berjudul Pengusaha, juga ada seting reportase Sunda Kelapa, 
termasuk Jusuf Kalla, yang bila shalat, biar datang terlambat tetap dapat 
tempat di baris depan - - laku yang umum terjadi di berbagai masjid di ranah 
kita. Ini dia: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=14

Terima kasih
iwan piliang

Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             
Beberapa pengalaman salat Jumat di Jakarta
 
 WAKTU masih di Jakarta, saya sering melaksanakan salat Jumat di Masjid
 Sunda Kelapa karena dekat dengan kantor Freedom Institute. Saya senang
 sekali Jumatan di sana bukan karena itu adalah masjid kelas menengah di
 kawasan Menteng. Tetapi karena ada "pemandangan sosial" yang menarik
 sekali di sana. 
 
 Seluruh halaman masjid hingga ke jalan-jalan menjadi "pasar tiban" yang
 menjual dagangan apa saja, mulai dari peci, celana dalam, kaos oblong,
 minyak za'faran dan misik, sarung plekat, VCD dan DVD bajakan hingga
 (percaya atau tidak) dealer mobil yang memajang mobil terbaru di
 pinggir jalan. Saya pernah melihat mobil Suzuki van (saya sudah lupa
 nama seri atau modelnya) di-"display"
 di pinggir jalan, persis di depan pintu masuk utama masjid, berjejeran
 dengan penjual mie pangsit dan tahu goreng. Pemandangan seperti ini
 mungkin tak akan kita jumpai di seluruh dunia kecuali di Indonesia,
 itupun mungkin hanya ada di Masjid Sunda Kelapa.
 
 Salah satu barang dagangan yang dijual di sana adalah buku-buku populer
 yang isinya kalau tidak berbau mistik ya penuh "sensasi". Di sana,
 misalnya, dijual mulai dari buku Horoskop, resep masak, kamus John M.
 Echols dan M. Shadily terbitan Gramedia yang tentu dibajak, hingga ke
 buku-buku karangan Hartono A. Jaiz dan Irena Handono atau Harun Yahya.
 Ceramah-ceramah Irena Handono yang di-VCD/DVD-kan juga dijual dengan
 murah meriah dan "laris manis". Saya kerap memborong "benda-benda
 sensasi" itu untuk dokumentasi pribadi.
 
 Inilah pasar rakyat yang sebenarnya. Mulai dari rakyat kecil hingga
 rakyat Menteng. Yang datang ke masjid itu bukan hanya masyarakat kecil,
 supir taksi, bajaj, atau para satpam yang menjadi penjaga rumah-rumah
 mewah di sekitar masjid, tetapi juga orang-orang kaya dan para pegawai
 kantor pemerintah yang ada di sekitar kawasan itu, terutama kantor
 Bappenas yang letaknya persis di samping Masjid Sunda Kelapa.
 
 Persebaran "klenik" yang sudah diislamkan (seperti diwakili oleh
 majalah Hidayah, misalnya) atau buku-buku kaum "radikal" seperti
 karangan Hartono Jaiz atau Imam Samudra, dimungkinkan oleh pasar
 seperti ini. Buku-buku Ahmad Deedat yang berisi "serangan" atas agama
 dan kepercayaan Kristen juga tersebar luas melalui jaringan "pasar
 rakyat" seperti ini.
 
 Saya selalu memilih salat di halaman luar masjid, selain karena "isis" atau 
"breezy", juga karena saya ingin melihat perilaku pedagang saat khutbah 
berlangsung atau salat sudah dimulai.
 
 Walaupun sang muazzin sudah mengingatkan bahwa selama khutbah
 berlangsung seluruh kegiatan "duniawi" harus dihentikan, tetapi
 peringatan itu berlalu saja, tanpa ada yang menghiraukan. Transaksi
 jual beli tetap saja menggelinding mulus selama khutbah berlangsung
 walau pedagang biasanya melakukannya dengan agak sedikit malu-malu.
 
 Yang menarik adalah saat qamat (panggilan yang menandai
 akan dimulainya salat) sudah dikumandangkan dan salat Jumat segera
 dimulai. Beberapa pedagang memang ikut salat, tetapi beberapa hanya
 duduk bersila di samping barang dagangan mereka, seperti orang linglung
 karena mendapat kabar sedih. Sambil mendengarkan bacaan imam (di masjid
 Sunda Kelapa, imam salatnya lumayan bagus dari segi tilawah atau bacaan
 Qur'an-nya), saya mencuri pandang melihat pedagang yang hanya diam tak
 ikut salat itu. Saya tersenyum sendiri.
 
 Momen yang saya suka adalah waktu "tahiyyat" akhir pada rakaat kedua:
 keadaan hening sekali karena semua orang diam -- kadang-kadang disela
 suara mobil atau bajaj yang lewat di sekitar Jl. Banyumas. Sunyi senyap
 berlangsung sekitar dua tiga menit. Begitu imam mengucapkan salam tanda
 salat usai, langsung suara gemuruh muncul lagi. Pedagang langsung
 teriak-teriak kembali menawarkan barang dagangan mereka.
 
 Salah satu keuntungan salat di halaman depan masjid adalah saya tak diharuskan 
harus duduk lama-lama untuk membaca "wirid"
 panjang. Doa sebentar, saya langsung berlalu. Sebab kalau tidak, sudah
 pasti saya akan "diinjak-injak" oleh jamaah yang bubar dan kembali ke
 kantor mereka masing-masing.
 
 Seperti jamaah yang lain, saya juga tertarik untuk berhenti sebentar
 melihat dagangan yang digelar di lapak-lapak depan masjid. Lapak yang
 paling sering ramai dikerubuti jamaah adalah yang menjual peci putih
 atau peci hitam "anti air" (tampaknya bukan "buwatan" Gresik). 
 
 Termasuk yang ramai adalah lapak yang menjual celana dalam, celana
 panjang, baju, handuk, atau sabuk. Juga lapak yang menjual VCD/DVD
 bajakan. Di sana, anda akan menjumpai segala macam jenis rekaman
 bajakan, mulai dari lagu-lagu pop, nasyid Islami, tilawah, tata-cara
 salat, lagu Bimbo, hingga ke ceramah Ahmad Deedat, Irena Handono atau
 seri kritik atas teori evolusi atau keajaiban semesta yang diproduksi
 oleh Harun Yahya.
 
 Di sela-sela jamaah yang berhamburan keluar masjid itu, tentu selalu
 akan kita lihat pemandangan yang khas pada semua masjd di Jakarta,
 yaitu orang-orang yang mencari sekedar derma dari jamaah, atau panitia
 pembangunan masjid atau musalla yang mengedarkan proposal permintaan
 dana.
 
 Pasar tiban semacam ini kita jumpai pula di sejumlah masjid-masjid di
 Jakarta, seperti Masjid Istiqlal, masjid besar di Pasar Tanah Abang
 (saya lupa namanya), masjid Al-A'raf di dalam toko buku Walisongo di
 Kwitang, masjid Arif Rahman Hakim di lingkungan kampus UI Salemba, dll.
 Tampkanya pasar tiban di depan masjid yang mendadak muncul saat
 menjelang salat Jumat ini makin menyebar ke sejumlah tempat di Jakarta
 dan kota-kota lain. 
 
 Buat saya yang datang dari kampung, pemandangan semacam itu agak
 sedikit aneh. Di mata kaum santri NU di kampung-kampung Jawa, masjid
 harus bersih dari unsur transaksi duniawi. Saat di pesantren dulu, saya
 pernah mempelajari kitab fikih yang terkenal di pesantren, yaitu Fath al-Mu'in
 karangan seorang ulama dari Malabar, India, yaitu Syekh Zainuddin
 al-Malibari. Dalam kitab itu, ada pembahasan panjang lebar tentang
 boleh tidaknya berjualan di dalam atau sekitar masjid. 
 
 Tetapi, lama-lama, pemandangan "duniawi" menjelang salat Jumat di
 masjid-masjid Jakarta itu menarik perhatian saya. Lama-lama, saya
 menyukai pemandangan itu. Salat Jum'at bukan sekedar peristiwa ibadah,
 tetapi juga peristiwa sosial yang melibatkan aspek-aspek non-ritual. 
 
 Tetapi pemandangan yang paling "dramatis" memang hanya saya lihat di
 masjid Sunda Kelapa, sebab hanya di sana saya jumpai dealer mobil yang
 ikut berjualan, berdesak-desakan di antara penjual mie pangsit, peci,
 songkok dan pedagang buku-buku bajakan.
 
 Yang "ukhrawi" campur baur dengan yang "duniawi", bukan dalam sebuah
 adonan yang "integratif" , tetapi dalam bentuk "montase" yang saling
 tak kongruen dan kacau-balau.
 
 Saat salat Jumat di Boston di masjid kampus yang sebetulnya bukan
 merupakan masjid, hanya ruang yang dipinjam sementara untuk menjadi
 masjid, saya rindu pada suasana "kacau-balau" di depan Masjid Sunda
 Kelapa itu. Selain suasana "unik" itu, isi khutbah Jumat di masjid
 tersebut lumayan baik dan cerdas, meskipun kadang-kadang ada isi yang
 kurang saya setujui.
 
 TIDAK semua pengalaman salat Jumat di Jakarta menyenangkan dan menarik.
 Kalau saya tak ada waktu untuk jalan ke Masjid Sunda Kelapa, biasanya
 saya pergi untuk salat Jumat di masjid yang lebih dekat lagi ke kantor
 Freedom Institute, yaitu di gedung parkiran milik Hotel Nikko di Jl.
 Thamrin. Jelas itu bukan masjid permanen, tetapi lantai parkiran yang
 disulap secara mendadak menjadi "masjid tiban".
 
 Umumnya isi khutbah yang hadir di "masjid tiban" itu tak terlalu
 menarik. Saya selalu datang menjelang salat dimulai, agar tak
 "tersiksa" mendengar khutbah yang membosankan. Kalau pun saya datang
 agak awal dan sempat mendengar khutbah, biasanya saya akan langsung
 "ngantuk". Beberapa orang di samping kiri-kanan saya juga sama: mereka 
"theklak-thekluk" karena mengantuk. Saya duga, mereka tak terlalu terpikat oleh 
isi khutbah.
 
 Kejadian yang menjengkelkan pernah pula saya alami di masjid tiban di
 belakang Hotel Nikko itu. Saya datang agak awal dan sempat mendengar
 isi khutbah sejak dari awal. Di luar dugaan, isi khutbah yang
 disampaikan, dalam pandangan saya, sangat provokatif, menyerang agama
 lain, menganjurkan kebencian kepada orang-orang yang berbeda agama.
 
 Saya tak kuat mendengar khutbah yang "ngacau" itu, dan nyaris saya
 angkat tangan untuk protes. Tetapi, saya putuskan untuk tak melakukan
 tindakan yang tentu akan mengundang perhatian banyak orang itu. Jalan
 tengah saya ambil: saya walk out
 dari masjid itu dan balik ke kantor, sambil menggerutu di jalan. Saya
 ganti salat Jumat dengan salat zuhur biasa. Buat saya, tak ada gunanya
 melaksanakan salat Jumat yang justru sarat dengan "provokasi" semacam
 itu.
 
 Kata "jum'at" adalah kata Arab yang secara harafiah berarti
 "berkumpul", atau kongregasi. Bisa juga kata itu kita maknai sebagai
 berkumpul untuk rekonsiliasi. Tujuan salat Jumat antara lain adalah
 untuk menyediakan arena mingguan bagi umat Islam guna meneguhkan
 komitmen mereka terhadap solidaritas keumatan, bukan untuk memprovokasi
 dan memecah belah umat. Buat saya, salat Jumat yang menjadi ajang
 provokasi untuk menyerang agama lain atau sekte lain dalam Islam yang
 berbeda paham, sudah kehilangan "raison d'etre" atau alasan keberadaannya.
 
 PENGALAMAN yang lucu terjadi di perumahan saya di kawasan Jatikramat,
 Bekasi. Suatu ketika, saat kantor libur, saya pergi untuk salat Jum'at
 di masjid yang terletak tak terlalu jauh di luar lingkungan perumahan
 saya. Sang khatib dengan menggebu membahas tentang aliran-aliran sesat
 dalam Islam. Islam liberal tak luput dari pembahasan sang khatib.
 Dengan penuh semangat dia mengkritik pemikiran Islam liberal, menyebut
 nama saya beberapa kali dengan perasaan "kebencian" yang sama sekali
 tak tersembunyikan.
 
 Sang khatib tentu tak tahu kalau saya ada di antara jamaah yang hadir
 saat itu. Saya memutuskan untuk tetap duduk saja mengikuti khutbah dia
 hingga selesai. Saya hanya geli saja dalam hati. Karena masjid itu ada
 di luar perumahan saya, jarang di antara jama'ah yang mengenali saya. 
 
 Suatu hari, saya mendapat sms dari Rizal Sukma, teman saya yang menjadi
 salah satu direktur di CSIS. Dia mengirim pesan tentang kejengkelan dia
 yang baru saja menghadiri salat Jumat di (kalau tak salah ingat)
 kawasan Palmerah, Jakarta Selatan. Isi ceramah itu penuh dengan
 provokasi. Sang khatib menyebut dan mengkritik Islam liberal dan
 tentunya juga menyinggung nama saya. 
 
 Dalam pesan itu, Rizal bercanda, "Kalau saja saya tak takut sandal
 hilang, sudah pasti saya akan maju ke muka dan memprotes sang khatib".
 
 Yang menarik adalah pengalaman salat Jumat di kawasan Utan Kayu, di
 dekat kantor Jaringan Islam Liberal (JIL). Kalau kebetulan saya berada
 di kantor itu, saya biasanya pergi ke masjid Al-Taqwa yang ada persis
 di samping jembatan sungai kecil di Jl. Utan Kayu. Saya selalu merasa
 aman melaksanakan salat Jumat di sini karena tak pernah saya menjumpai
 khatib yang "menggebu-gebu" dengan ceramah yang provokatif. Ini adalah
 masjid tradisional khas Betawi. Tema-tema yang dibicarakan oleh khatib
 biasanya sebatas "kesalehan individual" yang menyejukkan. 
 
 Walaupun secara fisik masjid ini tidak terlalu mewah, dan sangat bising
 karena persis berada di pinggir jalan Utan Kayu yang lalu-lintasnya
 lumayan padat, serta dilengkapi dengan sistem pengeras suara yang sama
 sekali tak nyaman di telinga, tetapi saya tak merasa "terancam" saat
 salat Jumat di sana. Sebab, khatibnya bisa dijamin tak melakukan
 "provokasi".
 
 Hingga sekarang, saya belum menemukan masjid yang isi-isi ceramahnya
 sesuai dengan pandangan Islam liberal yang saya anut, masjid yang
 "cerdas" dan menyejukkan. Saya berpikir, mungkin suatu saat jamaah
 Islam liberal harus membuat masjid sendiri yang dapat menampung
 ceramah-ceramah dan khutbah yang cerdas dan menyejukkan.
 
 Atau, boleh jadi, memang diperlukan pendidikan dan "training"
 yang lebih baik bagi para khatib. Memang ada kecenderungan di banyak
 negara-negara Islam di mana masjid menjadi ajang kaum Muslim
 konservatif atau fundamentalis untuk melancarkan "kampanye kebencian"
 melawan tokoh atau pemikir Muslim yang mereka anggap "sesat". Sebagian
 jamaah boleh jadi akan dengan mudah terpengaruh oleh provokasi semacam
 itu. Kasus Dr. Nasr Hamid Abu Zayd di Mesir adalah contoh yang baik. 
 
 Kita semua tentu mengharap, masjid menjadi arena untuk membangun
 rekonsiliasi umat, bukan untuk memecah belah dengan cara menyebarkan
 provokasi yang "membakar" emosi umat.
 
 Ulil Abshar Abdalla
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                                       

       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke